Acak

Langit boleh saja biru. Tetapi hati, siapa yang tau.

Akupun menari di dalam pikiran, awan-awan seolah berubah menjadi anak domba, melompat-lompat seakan aku akan menghitungnya.

Sajak-sajak fatamorgana seketika terdengar, kemudian menghilang hanya dalam satu kedipan.

Kamu mungkin tak pernah tau bahwa puisi yang kubuat itu pernah nyata, hanya saja tenggelam bersama nada-nada rindu yang kini tak ingin kusenandungkan lagi.

Apa kabar kamu? Ucapku yang tak pernah terucap, kini linimasa bukan tempat kita untuk saling berharap lagi.

Kata demi kata seolah menjadi jarak seperti pulau dan pulau yang entah kapan akan bertabrakan, ada banyak kalimat yang ingin tumpah dalam setiap waktu yang berubah-ubah dengan begitu cepatnya.

Aku ingin bersembunyi, jauh di di dalam semak-semak dalam pikiranku, tapi percuma jikalau kamu harus terus dapat menemukan dan menertawakanku seolah kita sedang bermain.

 

Aku tidak ingin kau cari. Bentakku.

Acak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s