untitled

Kepada kamu jelmaan semesta paling indah. Mungkin ini adalah puisi terakhir yang akan aku bacakan, tapi tidak dengan puisi yang akan aku tuliskan.

Kamu adalah keseluruhan ide-ide kegemaranku, jadi aku lebih menyukaimu tinggal dalam penaku.

Ingin sekali aku bermain-main di tengah samudra denganmu. Supaya aku dan kamu tenggelam dan tidak ditemukan atau hanyut ke dalam derasnya rindu. Dan kita akan pasrah membiarkannya menepi di ujung bahagia.

Aku adalah anak yang suka berkhayal. Malam ini aku tidak tidur sendirian, gerimis sedaritadi menatap dan menjagaku dari luar jendela kamarku memastikan aku nyenyak dan pulas ketika tidak diawasi olehmu.

Biarlah aku bermimpi tentangmu malam ini.

Ahh..tidak mau sayang, aku mau setiap hari.

Aku bermimpi sedang menulis puisi tentang jejak, ketika kita bukanlah dipisahkan oleh waktu lagi tetapi juga jarak.

Aku tidak mau membayangkan itu. Ketika kita saling melupakan hanya karena dipisahkan kilometer.

Suatu saat kamu akan jera mengingatku. Atau kamu akan lelah mendayung perahumu sendirian di dalam ombak rindu. Kau menujuku tapi aku seolah-olah menjauh.

Tidak oh…tidak sayang…Semua perasaanmu tentangku suatu saat adalah kepura-puraaanku.

Aku butuh jeda untuk bisa lepas dari dekapanmu.

Aku butuh menepi tapi lagi-lagi aku butuh menepi di bahumu. Aku butuh bersandar di pundakmu.

Sayang, pernahkah kamu mendengar cerita tentang dongeng ksatria?

Tidak…Sayang…tidak…Aku tidak ingin membandingkan kamu dengan ksatria dalam dongeng itu.

Kamu lebih hebat dalam memenangkan hatiku. Dan kamu lebih hebat soal membunuhku.

Tapi ini tidak sakit, sayang. Percayalah.

Aku hanya sedang mati dalam bahagia.

Jika aku harus membayangkan hari itu terjadi, aku seperti terkena reruntuhan langit.

Aku akan membiarkan diriku terluka oleh puing-puing semesta.

Tak ada gunanya mencariku lagi, sayang.

Aku sudah tergabung oleh debu, pasrah dibawa oleh angin ke dalam sisa-sisa aroma tubuhmu.

Tapi aku hanya bisa menemukan air mataku.

Kini aku harus menyeduh kopiku sendirian.

Aku akan biarkan kopiku sendiri hambar, biar ia merasakan bagaimana rasanya jadi aku tanpa kamu.

Hingga akhirnya kopiku tidak lagi ada di tubuhmu, tapi di tubuh puisi-puisi sedihku.

Biar sajak saja yang mengantar aku ke dalam mimpi buruk.

Aku bisa bahagia sendiri dengan merelakanmu bahagia.

untitled

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s