Gadis Berpayung

Aku adalah barista yang bersembunyi dari balik mesin kopi, sesekali mencuri waktu untuk memandang kearahmu. Sepertinya kamu menangis? Ada apa? Kamu kesepian kah? Mengapa kamu tidak mencoba menyapaku? Aku dapat membuatkan lagi secangkir kopi yang lebih hangat daripada kopimu yang sudah terlanjur dingin sejak dua jam lalu.

Lalu duduk disebelahmu, menghabiskan waktu istirahatku untukmu adalah sebuah kehormatan, tetapi kamu lebih memilih menangis. Mengapa?

Teleponmu berdering, kamu sepertinya enggan untuk menjawab seseorang dari seberang sana.

Ketika itu hujan deras, kamu meneguk secangkir kopi yang terakhir kemudian pulang, berlari menembus hujan.

Aku berlari, mengejarmu dan memberikan payung. Mengulurkan tangan, berharap kamu membalas menyertai sebuah nama.

Tanpa menatapku, kamu berterima kasih dan berlari.

Sejak itu kamu tidak pernah datang kembali.

Kamu Ingat?

 

#30HariMenulisSuratCinta hari4

 

 

 

Gadis Berpayung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s