Forget Jakarta | part 4

****

Beberapa hari ini aku bermimpi tersesat di dalam hutan pinus. Mimpi yang sama dengan yang ayah ceritakan 15 tahun yang lalu. Setelah cerita itu, ayah jarang pulang, dan sikapnya dingin kepadaku. Ibu tidak menceritakan apa yang terjadi. Dua minggu kemudian, ayahku meninggal. Sejak itu aku menjadi seorang penyendiri, berdiam dikamar untuk mendengarkan musik ataupun membaca buku cerita. Masa kecilku mungkin tidak sebahagia sekarang. Hingga 7 tahun berlalu dan aku mulai memberanikan untuk melihat dunia, bergaul dengan sesamaku, dan berkenalan dengan orang-orang baru.

Aku tersesat di dalam hutan pinus, berlari mencari jalan keluar karena hari sudah mulai malam. Saat aku terlelah dan tidak sanggup untuk berlari, aku menemukan jalan keluar. Di luar ada sebuah rumah dari bilik kayu, sama persis dengan cerita yang ada di dalam dongeng. Kemudian seorang bapak tua keluar dari rumah itu membawa golok dan sebatang kayu besar. Untuk dibelah mungkin. Pikirku. Tanpa berpikir panjang aku segera menghampiri bapak tua itu dan bercerita, lalu kemudian diijinkan untuk beristirahat sejenak di dalam biliknya.

Aku menarik napas panjang, meneguk air hangat dari gelas yang terbuat dari bilah bambu. Belum saja berlalu lelahku, aku sudah berada di dalam hutan pinus kembali. Berlari mencari jalan keluar kemudian menemukan rumah yang sama. Melakukan hal yang sama dan kemudian kembali ke tempat yang sama hingga akhirnya pagi menjelang dan aku bangun dari tidurku.

Entahlah, semua terasa begitu random akhir-akhir ini. Aku memilih untuk menyendiri, dan tidak menceritakan kepada siapapun kecuali kamu. Pey.

Siapapun biasa saja pergi, tetapi untuk kembali. Mungkin itu hanya impian yang perlahan terlupakan

Aku mengulang kembali kata-kata ayah dua hari sebelum kepergiannya. Ketika itu mungkin aku tidak pernah benar-benar mengerti akan maksudnya. Hingga akhirnya sekarang aku mengerti. Siapapun memang akan pergi. Ibu yang menguatkanku dengan kata-kata “Ayah tidak pergi, hanya pindah.”

Sejak itu aku selalu mencari ayah, mungkin saja ayahku pindah rumah ke gang sebelah, atau bereinkarnasi menjadi remaja seusiaku. Itulah yang membuatku kemudian mencoba memberanikan untuk akrab dan berkenalan dengan orang lain. Siapa tahu kalau mereka adalah salah satu dari “ayahku”. Pikirku ketika itu. Tetapi lambat laun aku menjadi dewasa. Aku mulai tidak percaya dengan mitos ataupun cerita rakyat yang dibuat oleh orang-orang yang hanya ingin membuat pendengarnya bahagia, aku mulai meragukan orang yang telah pergi dapat kembali. Hingga akhirnya aku menyadari jika ayah memang tidak pernah kembali.

Bukankah kita terlahir dengan tidak saling mengenal?

****

Pey duduk disamping Nata. Tangannya masih membolak-balik majalah dengan tatapan kosong yang sesekali memandang kearah Nata dan memanggil namanya. Air matanya sudah ratusan kali menetes sejak kemarin malam saat ia tiba dirumah sakit dan menemukan Nata sudah pingsan dan penuh luka di UGD. Ibunda Nata baru saja pulang karena harus mengurus adik yang besok harus ujian sekolah.

Aku sudah bilang, aku akan menemani kamu ke bandara. Kalo udah kayak gini, yang khawatir siapa? Aku juga, kan.

Pey menggenggam erat tangan Nata, kali ini tangisannya tumpah ketika dia memeluk erat lelakinya yang terbaring lemah.

“NATA !!!! Kamu gpp? Mana yang sakit?” Pey melepaskan peluknya dan memandang kearah Nata ketika merasakan tangannya tergenggam erat oleh lelaki di depannya itu.

“Aku dimana?”

“Kamu dirumah sakit, kemarin kamu kecelakaan. Jangan banyak bergerak. Kamu masih belum dapat sepenuhnya bergerak. Ta.”

“Kamu siapa?”

end

****

Forget Jakarta | part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s