Forget Jakarta | part 3

****

Kali ini pikiran gue memutar memori disepanjang jalan Lampiri. Salah satu jalan favorit gue yang dulu sempet menyebalkan karena macetnya, tapi lambat laun gue mulai menikmati sepanjang perjalanan ketika melewati tempat ini pagi maupun sore. Rasanya asik aja bagi gue ketika melihat pesawat yang akan mendarat, terbang rendah diatas kepala.

Pergi atau pulang? Itu yang selalu gue pertanyakan ketika menikmati pemandangan pesawat saat menikmati perjalanan disepanjang jalan Lampiri. Bagi sebagian orang memang pergi adalah hal yang mudah, melakukan sebuah perjalanan menjadi sebuah hal yang menyenangkan, meninggalkan tempat dimana bukan menjadi tempat yang “nyaman”. Tapi kemudian pikiran gue melontarkan pertanyaan yang sama ke gue. Entahlah, gue tak pernah berpikir untuk pergi, apalagi pulang. Bagi gue ya disini tempat gue. Jakarta.

Bagi sebagian orang, melakukan perjalanan keluar negeri atau dalam negeri mungkin menyenangkan. Tapi bagi gue, dua tahun atau lima tahun di sini pun tak akan pernah seluruhnya terjelajahi. Selalu ada banyak hal dan cerita baru setiap tahun tentunya. Di saat beberapa orang mengajak gue untuk “keluar” gue memilih untuk berdiam, dan menikmati Jakarta dari balik cangkir kopi.

“Mau kemana, Pak?” Seketika obrolan bapak sopir taksi membuyarkan lamunan gue.

“Ada bisnis trip.”

“Waah, seru dong.”

“Untuk waktu yang lama, saya rasa tidak.”

“Kalo saya bisa keluar kayak kamu, pasti saya bakal senang.”

“Sudah lama pak bekerja sebagai sopir taksi?”

“Di armada ini sih baru, tapi di armada sebelumnya sudah lama. Setahun lebih mungkin.”

“Lho, kenapa pindah pak?”

“Saya dipecat.”

“Kok bisa Pak?”

“Saya mah orang biasa, di Jakarta kehidupan keras. Orang seperti saya bisa saja terinjak-injak dengan mudah.”

“Jangan ngomong begitu, Pak. Bapak belum saja menemukan hidup bapak yang sesungguhnya.”

“Saya seorang pemabuk, pas balik ke pool. Kita janjian mau minum dulu. Biasalah namanya juga sopir. Kalo ga mabuk rasanya kurang seru aja.”

“Nah terus kita kolekan duit buat beli minuman. Saya lah yang mengkoordinir semua. Ehh keesokannya saya dipanggil atasan dan dimaki-maki dengan tuduhan memalak duit para sopir lain buat mabuk.”

“Lho kok bisa, Pak? Kan kalian minum bareng.”

“Saya juga ga tau.”

“Terus bapak diam aja? Ga nyari tau siapa yang ngadu?”

“Buat apa, nama saya sudah terlanjur jelek, setoran aja selalu ngepas, ga mungkin atasan saya dengan mudah mempertahankan saya. Saya kerja ga suka diatur, kerja sesuka hati yang penting masih ikut aturan. Setidaknya saya cukup tahu aja, dari situ saya jadi banyak belajar kalo hidup itu keras. Apalagi di kota macam ini.”

Gue terdiam, membayangkan jika yang ada diposisi sopir taksi itu adalah gu…..

****

Forget Jakarta | part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s