Dongeng Tentang Purnama

****

“Tadi sore aku duduk sendirian ditaman, senjanya indah. Aku membayangkan ibu yang sedang memperhatikanku.”

Aku menarik nafasku, membenarkan posisi dudukku dan sejenak melepas seat belt. Menikmati Jakarta malam hari memang menyenangkan.

“Kamu lihat kelangit malam ini, bulannya terang.”

“Iya yah, bulannya indah, apa ibu akan turun malam ini?”

“Kali ini ayah punya cerita yang berbeda.”

“Ceritakan, yah.”

Purnama memang selalu jadi waktu dimana bidadari turun ke bumi atau kembali ke bumi. Tidak ada yang pernah melihatnya. Tidak pernah ada yang tahu juga ini adalah mitos atau bukan. Tapi setiap orang punya definisi masing-masing dan berhak untuk berargumen apapun.

Pada suatu masa, dimalan purnama yang entah sudah keberapa kali. Seorang bidadari yang cantik jelita berwujud manusia harus kembali ke langit, tetapi dia menolak dan meminta ijin kepada sang Dewa untuk dapat lebih lama di bumi. Itu adalah malam terpanjang yang pernah ada, bahkan hingga pukul 7 pagi pun bulan masih menampakan dirinya karena perdebatan panjang bidadari kepada Dewa. Akhirnya bidadari itu diijinkan oleh sang Dewa untuk tinggal di bumi selama kurang dari satu minggu. Dan selama itu pula bidadari bebas pulang pergi dari surga ke bumi, maka terjadilah purnama selama beberapa hari pada masa itu.

“Aku kemarin menunggumu, ditempat biasa. Mengapa kamu tidak datang?”

Reina terdiam, dia tidak dapat menjawab apa-apa. Seharusnya kemarin menjadi pertemuan terakhirnya dengan Ken. Tetapi dia begitu amat mencintai Ken sehingga tidak ingin segera kembali ke surga. Meski sang Dewa sudah beberapa kali mengingatkan kepada para bidadari untuk tidak jatuh cinta, dan siapapun yang mereka temui di bumi akan lupa saat mereka kembali. Tetap saja para bidadari mempertahankan ego mereka. Memang dasar perempuan, selalu menggunakan ego atas dasar apapun.

“Kamu bengong?”

“Ohh, enggak Ken. Aku kemaren ada urusan penting. Keluargaku menelpon mendadak. Maafkan aku. Ken.”

Mereka menghabiskan malam itu dengan bercanda. Tetapi bagaimanapun mereka tertawa, Reina masih tetap mengumpat dalam pikirannya. Dia begitu sangat ingin menceritakan hal yang sebenarnya. Tapi dia tahu itu akan percuma, Ken akan lupa tentang dirinya ketika dia kembali ke surga kelak. 

Sejam berlalu begitu saja, Reina akhirnya membuka percakapan untuk menceritakan dirinya. Kalaupun Ken tidak pernah mengingatnya, Reina sudah cukup bahagia pernah bertemu dengan lelaki itu. Lelaki yang begitu banyak memberikan perhatian-perhatian kecil, justru perhatian kecil itulah yang dibutuhkan oleh Reina.

Reina teringat ketika siang itu pekerjaannya begitu sangat amat rumit, selesai beristirahat dan melanjutkan setumpuk laporan yang sore itu juga harus selesai, Reina mendapatkan sebuah coklat dengan ucapan “selamat bekerja, tetap semangat” di mejanya. Juga perhatian-perhatian kecil lainnya yang diberikan oleh Ken, seperti mengingat makanan favorit Reina meski mereka baru saling kenal kemarin. Hal-hal yang disukai atau tidak disukai oleh Reina. Hingga bunga kesukaan Reina yang tiba-tiba saja sudah berada didalam tasnya saat Reina tiba dirumah. Wanita mana yang tidak meleleh dengan perhatian kecil seperti itu, justru mereka lebih suka diberi kejutan-kejutan kecil dibandingkan dengan tas harga jutaan rupiah, meski beberapa lebih memilih dibelikan tas mahal daripada mendapatkan sebuah coklat diatas meja kerja.

“Jadi menurutmu aku akan melupakanmu?”

“Itu sudah takdirnya, Ken”

“Aku akan selalu ingat kepadamu, Reina. Aku akan mencatatnya.” Ken kemudian mengambil beberapa lembar kertas dan menuliskan kalimat-kalimat sebagai pengingat bahwa sosok Reina itu nyata. Dan esok adalah saat dimana Reina akan kembali.

“Tapi itu akan percuma.”

“Tidak, aku tidak hanya menuliskan satu. Tetapi aku akan menuliskan di banyak kertas. Catatan di handphoneku. Juga akan ku copy banyak file didalam laptopku. Sehingga jika aku kehilangan lembaran kertas ini, masih banyak hal lain yang membuatku mengingatmu, Reina.”

Singkat cerita.

Keesokan harinya Reina pamit. Ken memeluknya erat dan memberikan kecupan di keningnya. 

Malam berlalu begitu saja. Ken terbangun di keesokan harinya. Seperti biasa, manusia akan menganggap itu mimpi, saat mereka berusaha untuk mengingat. Mereka akan lupa semuanya. Tetapi beberapa lembar kertas berserakan diatas selimutnya dan Ken membaca satu persatu. Dia tidak percaya dengan tulisannya dan mencoba mengingat meski hasilnya nihil. Dia juga menemukan catatan yang sama di handphonenya, lengkap dengan catatan waktu dan tempat, tetapi tetap saja tidak mengerti maksud dari semuanya.

Sejak saat itu. Di tempat yang sama saat bulan purnama, Ken selalu berdiri dan menatap purnama, membayangkan sosok Reina yang ditulisnya adalah bidadari yang pernah menemani beberapa hari dalam hidupnya.

****

“Jadi, cerita tentang manusia yang berubah jadi serigala ketika menatap purnama itu tidak ada ya, Yah?”

“Ayah meyakini manusia itu menahan sakit saat mencoba untuk mengingat segala kenangan yang tertulis dikertas. Tapi siapa yang tahu.”

Dongeng Tentang Purnama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s