Cerpen [22]

Siapa yang sangka aku akan menjadi sebuah boneka. Tuhan ternyata masih baik kepadaku memberikan kesempatan bereinkarnasi dan menjalani hidup meski tak sebebas dulu. Cinta membuatku buta akan segala hal. Malam itu, aku berjalan selayaknya seorang gadis dan menikmati malam selayaknya manusia, aku duduk disebuah kafe dan mendengarkan live musik ditemani segelas jus jeruk yang tak sekalipun kusentuh.

“Petikan gitarnya merdu. Ternyata ada tempat lain yang dapat mengalunkan nada seindah ini setelah surga.” Bisikku pelan. Lelaki itu masih asik memainkan nada-nadanya, suaranya merdu. Aku terus memperhatikannya, dan ia sadar kuperhatikan sejak memilih tempat duduk yang tak jauh dari panggung. Beberapa kali ia melemparkan senyumannya kepadaku, aku membalasnya diam dan mencoba membuang muka setiap kali ia tersenyum kepadaku. Hingga lagu yang ia bawakan selesai, lelaki itu turun panggung dan mengambil arah ketempatku.

“Kamu sendirian?”

“Iya.”

“Boleh aku duduk disampingmu?”

“Silahkan, tetapi bukannya kamu masih harus bernyanyi?”

“Giliranku sudah, sekarang giliran yang lainnya.”

“Suaramu merdu.”

“Terima kasih. Aku sepertinya tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Kamu tidak hanya pandai memainkan nada, ternyata kamu juga hafal dengan pengunjung disini.”

“Setiap malam minggu aku selalu disini, dan pengunjungnya selalu sama, bagaimana tidak aku dapat mengenali mereka semua.”

“Perkenalkan aku Fredella.” Aku menjulurkan tanganku lebih dulu, dia tersenyum bingung kemudian membalas tanganku.

“Harris. Panggil saja aku itu.”

“Aku menyukai namamu.”

“Dan kelak kamu akan menyukaiku. Hehehe, bercanda.”

****

Itulah awal pertemuan kami, sampai akhirnya pertemuan-pertemuan berikutnya terjadi setiap malam. Dia bercerita banyak, tentang pekerjaanya sebagai penyanyi freelance, tentang hidupnya, tentang keluarganya yang pecah ketika ia masih berusia lima tahun, dan tentang perjalanan cintanya yang tak seindah alunan musiknya. Kita saling bertukar canda, menikmati roti bakar dipinggiran jalan atau sekedar menikmati malam diiringi nada-nada dari petikan gitarnya. Terkadang aku ikut bernyanyi meski suaraku tak semerdu ketika Harris bernyanyi.

Sudah dua bulan lebih dan aku tak kembali ke surga, aku bahkan hampir lupa aroma surga. Mungkin aroma khas dari parfum Harris lebih kuingat sekarang, itulah wangi surga menurutku. Terlalu singkat rasanya jika hanya menghabiskan malam denganmu.

“Kamu jatuh cinta kepada lelaki itu?” Burung hantu mencoba untuk menyapaku yang sedaritadi melamun menatap bintang.

“Kurasa demikian.”

“Itulah manusia, dan itu menyakitkan, itu sebabnya kita beruntung tidak pernah terlahir sebagai manusia.”

“Ohh ya? Kurasa tidak seburuk yang kupikirkan.”

“Itu fana, Fredella. Kembalilah kesurga. Jangan biarkan Tuhanmu murka dan mengambil semua yang kamu punya saat ini.”

****

“Kamu mau minum apa?”

“Seperti biasa, jus jeruk.”

“Baiklah, aku pesankan untukmu. Aku siap-siap untuk kepanggung.”

Malam ini Harris terlihat berbeda, wajahnya terlihat tamban dari biasanya. Tubuh yang besar. Tatapan hangat. Senyuman khasnya yang meluluhkanku saat pertama kali bertemu dengannya.

“Lagumu berbeda malam ini, romantis.”

“Itu untukmu, Fredella.”

“Kalau begitu aku merasa terpuji mendengarnya.”

“Jangan berlebihan, kapanpun aku bisa memainkan itu untukmu.”

“Kalau begitu mainkan lagi untukku, Harris.”

****

“Ehh sayang, coba liyat deh. Boneka itu bagus. Mampir dulu sebentar.”

“Kamu mau? Aku belikan untukmu, sayang.”

“Coba lihat matanya, sepertinya dia menangis.”

“Tidak, itu memang seperti itu.”

“Aku mau yang ini sayang. Untuk anak kita kelak jika lahir nanti.”

“Yaudah ambil saja sayang.”

“Aku mau memberinya dia nama. Siapa kira-kira?”

“Fredella?”

“Aku suka. Fredella”

****

Aku menatap lelaki itu, masih sama. Lagu yang dimainkan malam itu sebelum dia menyatakan cintanya kepadaku. Tangannya kali ini melantun indah diatas nuts piano dikamarnya. Istrinya sedang pergi. Aku dapat menikmatinya sendirian kali ini. Seandainya saja malam itu aku tidak menerima ajakannya untuk bermalam dirumahnya.

Cerpen [22]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s