Aku masih melemparkan pandangan kesegala arah, masih esok sebenarnya, tapi apa salahnya aku datang lebih awal, siapa tahu kamu juga berpikir sama sepertiku.

****

“Setahun lagi kita bertemu disini, ditempat ini.”

“Hah? Kenapa harus setahun lagi? Lo gila kali ya?”

“Gpp, biar gue punya sesuatu yang berkesan aja sama lo.”

“Berkesan gigi lo, lo pikir ini cerita novel. Dengan usia segini, setaun lagi bakal banyak perubahan.”

“Emangnya power ranger berubah.”

“Bukan gitu, siapa tau nanti gue tinggal diluar negri dan belom tentu setahun lagi balik kesini.”

“Kan bisa diniatin.”

“Ahh gue ga mau, lo apaan sih.”

“Ayolah, lo kok cemen sih. Just 1 years. Oke? Look at me.”

Aku menganga, memandangi Indira. Dia hanya tersenyum. Dia pikir ini permainan. Kita baru saja dipertemukan, dan harus saling berpisah lagi?

“Hey, Martin. Are you there?” Ucap Dira sambil meninju kecil pundakku.

“Yes, dear.”

“So, wanna play?”

“I dont think so, this is not a games.”

“You”re my friend, i just wanna make a memories with you, please.” Indira menggamit tanganku, memasang muka memelas.

“So?”

“Okey, now i have a rule.”

“Rule? Ahh apalagi ini sih?”

****

Aku masih suka mengamatinya. Setahun penuh aku tak pernah absen mengunjungi blog Dira. Berharap dari sanalah aku menemukan hal-hal baru tentangnya. Bagaimana tidak, semua contact, social media, semua dihapus. Dan hanya menyisakan nomor handphonenya yang aku sendiri tidak tahu masih aktif atau tidak.

Permainan konyol. Pikirku.

“Kalo ketemu, gue mau tampar lo, Dir.”

“Ga seharusnya dulu gue nurutin permainan bodoh ini, gue dateng. Dan gue ga tau apa lo inget pernanjian ini.” Ucapku sambil membayangkan hal apa yang akan terjadi besok.

“Aku suka gemericik air, dan senja.”

Itu pesanku ketika itu, tapi kurasa permainan telah dimulai, pesan singkatku tak terkirim.

****

“Kita ga boleh menghubungi satu sama lain.”

“Ha?” Aku terdiam.

“Iya kita ga boleh saling kontak.”

“Saling block socmed?” Indira mengangguk kecil sambil tersenyum.

“Sumpah, gue no comment.” 

“Come on, masa gue doang yang exited.”

“Bukan gitu, gue masih ga yakin kita bisa ketemu.”

“Mar, coba liyat gue. Kita pasti ketemu.”

“Tapi usia kita sensitif.”

“Lo harus yakin. Lo liyat bagaimana lo nemuin gue di mall seluas ini tanpa gue kasih tau tempat gue?” Aku membalasnya diam.

“Dan lo nemuin gue kurang dari 5 menit kan?.” Aku hanya mengangguk.

“Jadi? Lo yakin kan?” Dan aku masih mengangguk.

“Jadi gimana rule lo?”

“Gue ikut aja.”

“Ahh lo ga asik !!!!” Pukulan Indira mendarat dipundakku, kali ini lebih keras.

“Nanti dirumah gue chat lo, oke?”

“Oke. Gue ga sabar, sumpah gue excited banget Mar.”

“Lo itu yaa.” Aku melotot, tetapi senyumku tak bisa berhenti saat melihat wajah Dira malam ini. Didalam hati, aku tidak yakin dengan ini.

****

Iya aku melihatnya, melihat lelaki itu. Memandangi sekitar. Kurasa disana menyenangkan, gemericik air pasti akan terdengar romantis. Berdua, bertukar canda, bercerita banyak, banyak yang ingin kuceritakan denganmu. Mar. Bahkan tentang pernikahanku esok. 

****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s