Surat [11]

Dear mama…

Mungkin melalui surat ini, aku ungkapkan seluruh yang kurasakan saat ini. Aku tak tahu mengapa aku terlahir pemalu, bahkan untuk sekedar berbagi cerita kepada mama. Aku lebih banyak menutup diri. Sejak aku tahu arti sebuah kedewasaan. Aku rasa kita semakin jauh, aku pergi lebih awal dan pulang lebih larut. Berkabar pun hanya seadanya. Bahkan terkadang aku tak memberi kabar sekalipun.

Aku tahu mama begitu sayang kepadaku, dari kecil apa yang kumau selalu mama turuti, akupun begitu. Hanya saja aku tak tahu bagaimana mengungkapkan rasa sayangku kepadamu, mama.

Aku lebih banyak menyimpan ceritaku sendiri, ingin rasanya bercerita banyak kepada mama. Tapi aku tak tahu harus memulai darimana. Rasanya sudah terlalu banyak cerita yang menumpuk dan terlalu berat jika harus kutumpahkan semua. Maaf untuk aku yang lebih banyak berdiam diri dikamar, bermain gadget, ataupun sekedar mendengarkan musik.

Mama, aku ingin rasanya seperti anak remaja seusiaku yang bisa dekat dan akrab dengan mamanya seolah mereka adalah sahabat, aku iri dengan mereka yang bisa tertawa lepas, bertukar cerita, ataupun sekedar menikmati secangkir kopi bersama. Aku ingin, tapi rasanya kita sudah terlalu jauh. Aku bahkan canggung meski hanya menatap matamu.

Aku tak tahu akan tercipta berapa ribu halaman jika harus mengungkapkan semua yang kupendam jika harus dengan surat. Mungkin ini sebagia, dan sebagian lagi akan kuungkapkan pada saat waktunya nanti. I love you mom.

Tertanda,
Anakmu.

Diikutkan dalam 30HariMenulisSuratCinta 2015

Surat [11]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s