Surat [10]

Masih ingat percakapan kita tentang senja, sore itu? Dua cangkir kopi mungkin jadi saksi atas cinta kita yang pernah abadi hari itu. Senja tersenyum, menatap kita yang dimabuk rindu. Saling menatap meski hati ingin berhenti berharap. Aku mencintai senja. Aku bahkan hampir bisa menghitung berapa kali aku melewatkan senja. Secangkir kopi selalu menemaniku menikmati wajah-wajah lusuh, senyuman para anak jalanan yang berlari-lari saat lampu merah, atau bahkan sopir angkot yang teriak mencari penumpang, bahkan pedagang asongan yang sibuk menghitung lembaran uang setelah bekerja seharian. Aku suka senja, aku mencintainya.

Kala itu, kita bukan hanya saling bertukar cerita. Kita membentuk kenangan, menciptakan cinta, dan menguntai rindu. Dan sejak saat itu, aku mengenal senja sebagai senyumanmu.

Senyumanmu candu, iya. Sekarang aku tidak perlu menunggu dua puluh dua jam untuk menunggu senja, menghabiskan dua jam untuk merekamnya. Senyumanmu dapat kunikmati setiap saat.

Masih ingat juga tentang lagu-lagu cinta yang kamu senandungkan ketika kita kehabisan cerita? Dan aku membalasnya dengan puisi. Kita saling terdiam, aku tahu kamu menangis ketika itu. Akupun begitu. Ahh, aku tak tahu kapan kita harus berhenti saling mencinta.

Salahku mungkin mengenalmu sebagai senja. Kamu tahu, Sayang. Tak pernah ada senja yang abadi. Tapi begitu adanya semesta mempertemukan kita. Aku terkadang benci dengan takdir Tuhan yang satu ini, tapi kamu berkata :

“Bukankah kita tidak pernah tahu takdir yang diciptakan Tuhan, lalu mengapa kita harus menebak-nebak takdir kita sendiri.”

Dan aku terdiam. Sejak itu aku lebih banyak diam, berhenti menebak-nebak takdir apa yang akan terjadi kepada kita kelak. Tapi aku benci ketika harus diam. Aku suka kutipan “Bukankah dengan berlari akan membuat kita lebih cepat mencapai sesuatu” tapi untuk apa aku berlari mengejar senja? Sejauh manapun aku kejar selalu akan berakhir sama, kembali kepangkuan sang malam.

Ahh, aku terkadang benci dengan diriku. Kita tidak seharusnya bersama. Lalu dengan bodohnya aku menolak takdir dan menciptakan kita yang seharusnya tidak pernah ada.

Tertanda,
Aku.

Diikutkan dalam 30HariMenulisSuratCinta 2015

Surat [10]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s