Cerpen [21]

Aku masih menunggu senja. Sudah masuk musim penghujan, mungkin setiap harinya akan berakhir sama. Kecewa. Aku menyalakan sebatang rokok setelah memesan secangkir chamomile. Sore ini indah tanpa senja, meski sebenarnya aku lebih merindukan senja dibanding menikmati secangkir chamomile.

****

“Kamu egois, tak seharusnya kamu mempermainkan wanita seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Ahh sudahlah, kamu tak akan pernah mengerti, Dion. Sekali kamu senyum, mungkin akupun akan terpikat denganmu.”

“Jadi maksudmu aku mempermainkan kamu?”

“Bukan aku. Rei.”

“Jadi maksudmu aku mempermainkan Rei? Kamu percaya dengan yang orang-orang katakan? Kamu hanya mengumpulkan bukti dari mulut-mulut tak bertanggung jawab kan.”

“Terserah kamu, Dion.” Lita segera mengambil tasnya. Aku sudah tak berselera dengan mie ayamku yang mulai dingin. Dasar wanita. Hanya selalu bisa menyalahkan tanpa pernah mau mendengar terlebih dahulu.

****

Aku masih kesal dengan perdebatanku tadi siang. Bisa saja Lita menyalahkanku tanpa mendengar yang sebenarnya.

Aku bahkan menyadarinya, iya aku tahu dengan sikap Rei yang berubah terhadapku, aku tahu Rei yang diam-diam menyimpan fotoku dan dijadikan wallpaper hp nya. Dan aku tahu diam-diam dia menulis semua kegilaannya tentangku di blognya. Aku tahu semua. Gosip-gosip tak bertanggung jawab dikampus itu benar adanya. Hanya saja aku malas menanggapinya.

Tapi tahukah kamu, Rei. Aku bahkan lebih menggilaimu sebelum akhirnya kita berkenalan. Beberapa hari aku menghabiskan waktuku didunia maya untuk mencarimu, mengenal lebih jauh tentangmu, dan bahkan menikmati setiap foto-foto dengan senyumanmu bersama kekasihmu. Kamu tahu siapa yang kumimpikan setiap malam? Yang mengganggu setiap waktuku?

Bahkan jauh sebelum kamu menuliskan tentangku, dan mengagumi seluruh tentangku. Sudah banyak puisi tentangmu yang hanya bisa kunikmati sendiri setiap malam. Bahkan surat cinta yang sudah menumpuk dibalik baju-baju dalam lemariku, mereka tak pernah sampai. Dan tentang cerita-ceritamu kepada mereka yang menganggap aku dingin. Siapa yang selalu memandangmu dari kejauhan, tak peduli meski ketika itu kamu sedang bersama kekasihmu. Bagiku adalah cukup ketika aku bisa mengagumi kamu.

****

“Aku mencintaimu, Rei.” Ucap lelaki itu kepadanya. Aku masih menikmati secangkir chamomile sambil mendengarkan sedikit obrolan mereka dibelakangku.

Cerpen [21]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s