Cerpen [20]

Sejak kecil, ibu selalu mengajarkanku untuk bersyukur. Apapun itu. Memang sejak kecil hidup kami selalu berkecukupan, bahkan berlebih. Aku memiliki semua yang kuinginkan, ibu selalu memanjakanku. Mungkin karena aku anak tunggal.

Bukan hanya dari materi. Aku juga menjadi satu-satunya siswa teladan disekolah, siswa percontohan yang selalu dibangga-banggakan oleh guru setiap hari, terkadang aku merasa risih sebenarnya. Karna dibalik itu pasti ada banyak anak-anak yang cemburu ingin merasakan pula berada diposisiku. Semua itu tak membuatku menjadi sombong. Ibu selalu mengingatkanku untuk tetap rendah hati.

Untuk pasangan, tak sulit bagiku menemukannya. Teman wanitaku banyak. Mereka yang mendekatiku tanpa perlu aku memulainya. Bahkan banyak yang bermanja-manja denganku, menggamit tanganku, bersandar dipundakku, atau bahkan merangkul pundakku. Meskipun sebenarnya ingin merasakan punya kekasih seperti yang dilakukan teman-teman seusiaku, tapi ibu selalu mengingatkan agar aku lebih mementingkan sekolah. Pasangan akan mengikuti seiring kesuksesan.

****

Lambat laun aku mulai merasakan cinta. Usiaku semakin dewasa dan mungkin beberapa nasihat ibu akan kupilah-pilah.

“Rasanya aku mulai nyaman ketika dekat denganmu, Ros.”

“Hahahahaha. Kamu bicara apa sih, bukannya kita biasa selalu bersama.”

“Ini beda. Kamu mungkin tidak mengerti.”

“Maksudmu?”

“Seandainya saja kamu bisa melihatku. Ahh tidak, melihat hatiku maksudku.”

Sejak itu prestasiku menurun. Aku tahu kekuranganku. Tidak seperti yang orang lain bayangkan, hidupku tidak semenarik mereka, tidak sesempurna mereka. Semua yang kudapatkan semu. Aku tidak tahu bagaimana indahnya mentari pagi dan senja dikotaku. Aku cacat sejak lahir. Aku bisa mengenali semua tanpa pernah bisa menatap mereka.

****

“Kamu yakin ingin dapat melihat?”

“Yakin, apapun akan kulakukan.”

“Semua tidak semudah yang kamu inginkan, ada hal yang harus kamu bayar.”

“Berapapun. Aku bayar.”

“Bukan itu maksud…”

“Apapun akan kulakukan.”

****

Ternyata dunia lebih indah dari yang kubayangkan. Aku dapat menikmati indahnya matahari pagi dan romantisnya senja. Menghabiskan waktu dengan menonton siaran televisi dan bermain video game sesuka hatiku.

“Eros.”

“Iya, ibu?” Ucapku sambil menikmati acara televisi

“Tolong ibu, nak. Pergi kepasar dan belikan bumbu dapur.”

“Sebentar ya, bu. Aku ganti baju dahulu.”

****

“Nak, kamu sudah sadar.”

Eros membuka matanya. Kepalanya masih sakit. Matanya berkunang-kunang. Menahan sakit dari sekujur tubuhnya.

“TIDAAAAAAAKKKKK !!!!!! ”

“Apa yang terjadi dengan kakiku !! ”

****

Cerpen [20]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s