Percakapan Dimeja Makan

Ini malam pertama lagi aku bersama-sama dengan ayah menikmati makan malam sejak pertengkaran ayah dan ibu minggu lalu. Ayah jarang pulang, ibu pulang ketika ayah tidak dirumah dan pergi kerumah mertuanya yang hanya berjarak beberapa blok ketika ayah sudah pulang kerumah. Aku bahkan tak tahu apa yang mereka perdebatkan. Ketika aku pulang dari sekolahku siang itu, piring-piring berserakan dilantai, ibu pergi dengan menangis ketika aku memasuki kamar mereka berdua. Akupun tidak berani menatap ayah dan langsung menuju kamarku. Sejak itu suasana dirumah tak membuatku tertarik untuk sejenak menonton film kartun seperti yang biasa kulakukan setiap sore. Atau beristirahat melepas penat seusai mengerjakan pekerjaan rumah. Aku lebih banyak berdiam diri dikamar dan menatap kosong laptop yang biasanya selalu menemaniku mengerjakan tugas sekolah. Prestasiku menurun sejak itu, PR-ku terbengkalai.

“Makanlah yang banyak, sehabis ini ayah akan pergi, mungkin akan kembali besok.” Aku masih asik menyantap makanan yang terhidang dimeja makan, tak biasanya ayah memasak sebanyak ini. Aku menatap ayahku yang sedaritadi tak berpaling dari layar handphonenya. Sedikitpun tidak menyentuh makanan yang terhidang. Mungkin ayah belum lapar. Pikirku.

“Yah.” Ucapku memecah keheningan sesaat

“Iya nak?”

“Ibu kemana? Sudah dua hari ibu tidak pulang, yah.”

Perhatian ayah kini tertuju kepadaku, ditaruhnya handphone dan tersenyum kepadaku.

“Sudah habis kau makan.”

Percakapan Dimeja Makan

12 thoughts on “Percakapan Dimeja Makan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s