Surat [3]

Ma, mungkin engkau sudah bosan membaca surat-surat yang selalu kukirimi. Selalu surat yang datang kepadamu, bukan pelukan hangat, maupun kecupan dikeningmu. Aku masih belum bisa pulang. Tuhan mungkin masih belum menginginkan kita untuk saling berkumpul seperti dulu.

Entah sudah berapa rindu dan air mata yang selalu mengalir dalam lamunan tiap malamku sebelum tidur. Aku rindu akan teh hangat buatan mama yang selalu tersajikan untukku setiap pagi. Disini aku bisa membuatnya sendiri, tapi rasanya jauh berbeda. Tak ada cinta dalam segelas teh buatanmu, Ma.

Ohh iya, tentang adik. Dia baik-baik saja. Dia semakin berprestasi dikelasnya, bahkan bulan depan adik tamat sekolah menengah. Mama tidak usah mengkhawatirkan kami, kami bahagia disini, justru kami yang begitu mengkhawatirkanmu. Mama baik-baik sajakah?

Mama, maaf kami belum bisa memberikan apa-apa untuk mama. Hanya doa dan surat akan rindu kami yang bisa kami berikan dari sini. Tapi aku dan adik sedikit demi sedikit menabung untuk mama. Tahun depan pastilah tabungan kita terkumpul banyak, dan makam mama tidak akan pernah usang lagi seperti sekarang.

Aku dan Adik

Diikutkan dalam 30HariMenulisSuratCinta 2014

Surat [3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s