Cerpen [17]

Malam baru saja menggantikan senja. Dan hujan masih belum berhenti. Aku terduduk diam, sesekali bergerak hanya untuk merubah posisi dudukku. Jendela didalam kamarku masih diam menatap hujan diluar. Secangkir teh didepanku mulai dingin termakan angin. Aku belum menyentuhnya, hanya menatapnya, memainkan bayangan kamu diatas sana. Hingga akhirnya gelap malam melenyapkan semuanya.

Sudah seminggu hujan turun, seminggu pula aku selalu memimpikan kamu, tak pernah habis, seperti pertemuan kita malam itu, tak pernah bermulai tak tak berakhir dengan indah. Sekali memejam, senyumanmu merona terlempar kearahku, dua kali memejam matamu menatap penuh harap kepadaku, tiga kali memejam, bayanganmu hilang terhapus oleh hujan. Ahh. Apa hanya aku yang merasakan rindu yang teramat seperti ini?

Mataku masih menatap lekat kearah kamu, saling lempar semyuman ketika tatapan kita saling beradu. Lalu lalang beberapa orang sempat membuat pertemuan kita sedikit sulit. Aku tahu kamu tersenyum kepadaku, seperti aku pun juga begitu. Kamu tahu. Sejak pertemuan kali itu aku jadi sering tersenyum. Membentuk senyuman yang serupa dengan senyumanmu. Meski aku lupa bagaimana raut senyummu malam itu. Hujan membuat aku tak bisa melumat seluruh rupa wajahmu ketika itu.

Dadaku berdegup kencang, seiring angin malam yang mulai bertiup kencang. Aku masih menggenggam payungku dengan erat, mataku masih menatap kearah kamu yang belum beranjak dari halte bus diseberangku. Kamu menungguku, bukan? Kemarilah, sama sepertimu, aku menunggumu. Payungku bahkan terlalu besar untuk kumainkan sendiri. Sini, dan mari kita berjalan bersama, menggapit payung dan berjalankan dibawah hujan. Romantis bukan?

Mulutku mulai melantunkan hitungan, pada hitungan kesepuluh dan aku akan menyeberang. Aku tak sabar untuk terus menunggu. Siapa yang akan memulai jika kita saling menunggu. Baiklah, aku yang akan memulai. Hitungan kelima, aku masih menatap kamu tajam, memastikan senyumanmu masih berada disana.

Malam semakin menggulita, hujan tak lagi turun. Aku menyeruput segelas teh yang sudah dingin sejak tadi. Hitungan kesepuluh membuat aku melupakan semuanya. Dan ternyata pertemuan kita tak pernah dimulai setelah hitungan sepuluh. Kamu menghilang dalam gelapnya malam ketika itu.

Cerpen [17]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s