Aku atau Kamu

Semua bermula dari pertemuan pertamaku dengannya. Berawal dari sebuah kerjasama dari perusahaan tempat kami bekerja. Sesekali mata kami saling bertemu dalam satu pandangan yang sama. Hangat.

Dalam pertemuan berikutnya suasana tak sekaku saat pertama. Aku mulai berani mendekatkan diri. Mengobrol seputar kerjaan yang sama diperusahaan yang berbeda. Saling membalas senyuman disela-sela meeting. Hingga pertemuan-pertemuan kecil seusai meeting. Kali ini dengan perasaan yang berbeda. Nyaman.

Sudah tatapan kesekian sejak pertemuan pertama kami. Secangkir kopi hangat sudah terhidang dengan sepotong red velvet favoritku. Hanya aku yang memesan hidangan. Aku masih terdiam dalam pikiranku. Mencoba mencairkan suasana dihari pertama pertemuan kami diluar kantor. Rasanya berbeda ketika saat terikat dengan hubungan sebagai rekanan kerja. Romantis.

Sejak itu pertemuan-pertemuan lainnya semakin rutin terjadi. Tak lagi aku pulang sendirian menanti angkutan umum ditengah padatnya ibukota disore hari. Dia begitu rajin menjemputku. Aku juga tak sungkan menerima ajakan dinner dan sesekali kami bergantian saling mentraktir setiap harinya. Sudah pertemuan kesekian kali, sudahkah aku layak menyebutnya cinta?

Dan sejak saat aku menyebutnya cinta. Semua kehidupanku berubah. Aku seperti menemukan sesuatu yang baru dihidupku. Lama tak kurasakan indahnya cinta. Berkali kutanyakan apa arti sebuah cinta. Tak heran, hingga cinta kesekian aku selalu berhadapan dengan lelaki brengsek yang mempermainkanku. Mempermainkan setiap cinta yang kuberikan untuk mereka. Sekarang tidak. Aku bahagia. Dalam cinta aku selalu bersenandung. Setiap hariku dipenuhi oleh kamu, rasa dalam hambarnya kehidupanku.

Cinta membuatku semakin buta. Aku semakin tergila-gila dengan kamu. Aku menutup segala kehidupanku hanya untuk kamu. Mengacuhkan mereka yang mulai menganggapku gila hanya demi kamu. Dan sekarang cinta mulai seutuhnya merasuki tubuhku. Menciptakan hangat-hangat yang menjadi candu setiap harinya. Kamu masih terdiam, belum mengatakan sesuatu. Mungkinkah kamu juga menungguku? Kita saling cinta bukan? Jadi siapa yang akan memulai jika wanita dikodratkan untuk menunggu? Aku atau kamu.

Aku atau Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s