Cerpen [16]

Mataku masih malas untuk menatap dunia. Rasanya baru beberapa jam aku pergi dari duniaku, melupakan sejenak masalah yang ada. Hidup semakin terasa berat ketika aku memulai rumah tanggaku. Pertengkaran demi pertengkaran selalu terjadi antara aku dan Rio. Bukan aku maupun dia yang memulai, keadaanlah yang membuatnya seperti ini. Aku yang keras kepala ditambah suamiku yang emosian membuat masalah tak kunjung mereda.

Cahaya matahari perlahan mulai menyusup kamarku. Menciptakan sedikit silau meski mataku masih tertutup. Aku lupa menutup jendela rupanya semalam. Untung tidak ada yang menyusup. Ahh, tapi apa yang mau diambil dalam kamarku yang kecil ini, tidak ada yang berharga disini. Aku membuka mataku dengan malas, memperhatikan sekitar. Suamiku tidak pulang lagi malam ini. Sudah tiga hari aku tidur sendiri. Meskipun kami sedang bertengkar, aku tetap ingin dia ada disampingku. Menemaniku meski saling menjaga jarak.

Semua seakan bertambah keruh. Aku tidak berani menceritakan semua ini kepada orang tuaku. Mungkin dia juga begitu. Jam wekerku sudah berbunyi sejak tadi, namun masih kuacuhkan. Ada banyak hal yang terus berputar dikepalaku, semua begitu sulit untuk kutinggalkan demi menikmati dunia. Padahal selama aku dan suamiku masih berstatus pacaran, hubungan kami selalu berjalan dengan baik, setiap masalah yang kami jalani selalu terselesaikan saat itu juga, tak pernah membiarkannya berlarut. Benar kata kebanyakan orang, “cinta sesungguhnya akan terjadi setelah pernikahan.” Dan kali ini aku merasakannya, pernikahan tidak menciptakan kebahagiaan untukku, semua kebahagiaan yang selama ini selalu kubayangkan hanyalah semu. Entah hanya aku yang sial merasakan ini atau hal ini juga terjadi dirumah tangga beberapa pasangan lainnya.

Aku menatap kearah jendela. Burung-burung gereja masih menikmati pagi bermandikan cahaya matahari. Belum kelar masalah rumah tanggaku, aku harus bersiap untuk menghadapi padatnya kerjaanku dikantor. Dengan malas aku meraih handukku. Melepaskan seluruh pakaianku dan menikmati pancuran air yang mengalir pelan diatas kepalaku. Masih tetap aku memikirkan tentang Rio. Dia suamiku, seburuk apapun hal yang dia ciptakan, aku tetap merindukan dia. Terkadang ingin rasanya berteriak keras. Menanggalkan tentang duniaku yang terjadi saat ini, tapi semua begitu berat.
Hari ini hari jadi pernikahanku dengan Rio yang pertama, aku berharap semua indah ketika aku sampai dirumah nanti malam. Semua makanan sudah tersedia diatas meja makan dengan sebuah lilin ditengahnya. Aku memakai dress warna putih dan malam itu akan menjadi malam indah sepanjang satu tahun pernikahan kami. Menikmati setiap kecupan hangat yang mendarat dibibirku. Ahh aku bahkan rela tak melepaskan sedetikpun ciuman dengan suamiku malam ini.

****

Tok…tok…tok…tok….

“Riani”

Seketika bayangan keindahan tentang satu tahun pernikahan aku dengan Rio hilang, Romy sudah sampai didepan rumahku. Aku segera melipatkan handukku dan memakai pakaian untuk segera kekantor. Aku selalu meminta jemput Tomy sejak hubunganku dengan suamiku bertambah buruk. Sudah dua minggu tepatnya. Dan dua minggu itu pula Rio hanya kembali saat malam untuk kemudian pergi lagi di pagi-pagi buta dengan membawa koper besar yang kutebak isinya adalah baju. Dan hanya pulang beberapa kali. Tomy yang membuatku tetap tegar. Dia juga yang selalu membantu menyeselaikan tugas kantorku sehingga aku dapat pulang tepat waktu. Semua masalah yang kuhadapi membuat pekerjaanku sering terbengkalai, aku lebih banyak melamun dan memainkan gadgetku daripada menyelesaikan semuanya. Tomy lah yang membantuku selama ini.

“Kamu tumben lama?”

“Aku capek banget hari ini, jadi tadi kesiangan bangunnya.”

“Suamimu ada?”

“Enggak ada, udah siang. Yuk berangkat.”

“Sebentar.” Tomy kemudian mendorongku pelan masuk kedalam rumah dan kemudian menguncinya. Aku sudah tahu apa yang ada dipikirannya. Tomy terkenal playboy dikantorku, dan sedikit aku menaruh rasa kepadanya meskipun aku tak pernah menyatakannya. Aku sudah memiliki suami, Tomy masih single dengan usianya yang berbeda sekitar lima tahun dibawahku. Aku tau bagaimana cerita dia mempermainkan beberapa wanita dari beberapa divisi dikantorku. Sebenarnya aku sudah diberitahu oleh Chintya salah satu wanita yang juga menaruh hati kepada Tomy. Dan benar saja, saat ini tubuhku sudah jatuh dipelukannya. Aku hanya bisa pasrah dan menikmati ketika tangannya menjelajah keseluruh tubuhku, hanya butuh waktu sebentar saja untuk bersentuhan dengan bibirnya. Menikmati sedikit waktu sebelum kami berdua berangkat kekantor meskipun aku tidak pernah menyukainya.

****

“Pagi mbak Ani”

“Pagi juga mbak Rini” Aku melemparkan senyuman kepada Rini yang menyapaku terlebih dahulu. Tanpa basa-basi lebih lama dengan beberapa rekanku yang sudah sampai lebih dahulu aku langsung duduk dimeja kerjaku yang terletak paling ujung. Dan seperti biasa, baru selesai aku menaruh tas dan merapikan make-up ku, Tomy langsung dengan genitnya
memberikan senyuman sambil membawa sebuah bangku dari meja yang lain untuk duduk disebelahku, terkadang aku merasa risih dengan sikapnya yang terlalu berlebihan.

****

“Sudahlah, berapa kali aku katakan kepadamu, minta saja cerai kepada suami kamu itu. Dia tidak pantas kamu sebut suami lagi. Aku tetap akan menerima kamu meskipun kamu janda. Itu bukan masalah untukku.”

Sejenak ucapan Tomy membuat dadaku begitu sesak, begitu beraninya dia mengatakan seperti itu. Bagaimanapun yang dilakukan oleh Rio, dia tetap suamiku.

Suasana dalam mobil masih tenang, aku belum mengeluarkan sepatah katapun setelah kalimat yang diucapkan oleh Tomy barusan. Aku lebih memilih untuk diam kali ini.

“Bagaimana kalau kamu tidak langsung aku antar pulang?”

“Kamu gila ya? Hari sudah gelap.” Aku menatapnya heran sekaligus mulai kesal dengan tingkahnya yang semakin lama membuatku jenuh.

“Sebentar saja, aku tahu kamu penat dengan semua masalah yang kamu jalani saat ini.” Ucapnya sambil memberikanku sebotol air mineral untuk melegakanku. Malam hari jadi pernikahanku dengan Rio masih terbayang dipikiranku, mungkinkah saat ini Rio menungguku dirumah dengan beberapa masakan yang sudah tersedia dimeja makan? Pasti akan romantis ketika aku sampai dirumah nanti. Pikirku.

****

Kepalaku begitu pusing, bahkan aku tak dapat melihat apa yang terjadi denganku saat ini. Hanya merasakan dua buah tangan yang mulai menjalar keseluruh tubuhku, memberikan nikmat sebagaimana yang dirasakan oleh dua orang insan ketika mereka sedang dimabuk cinta. Aku tak dapat berpikir, sebentar saja cukup untuk membuatku menikmati malam ini hingga aku terlelap dalam mimpi yang panjang.

“Kamu cantik malam ini, sayang.” Rio menatapku dalam, aku hanya tertunduk malu. Masih menikmati makan malam spesial yang sengaja disiapkan untukku. Rio sudah menungguku sejak tadi sore rupanya.

“Begitupun juga kamu. Kemari, peluk aku sesaat. Sungguh kali ini aku ingin kau cium. Lama kita tak saling berkabar. Sayang.” Sebentar saja cukup untuk membuat wajahku merah, entah kalimat darimana yang kuucapkan barusan.
Aku merasakan hal yang begitu hangat malam ini, begitu kurindukan saat ini, ketika aku dipeluk oleh orang yang benar-benar kucintai dalam hidupku. Suamiku.

Kriiiiiing……kriiiiiiing…..kriiiiiing…..

Aku tersentak. Semua hilang begitu saja.

“Ahh sial, mimpi.”

Aku menatap kesekelilingku, bingung dengan semua ruangan yang tak pernah kukenali sebelumnya. Mataku mulai sedikit basah ketika aku sadar aku tak berpakaian sedikipun. Hanya berbalutkan selimut putih tebal. Aku menatap kearah jam yang terletak diatas meja disamping tempat tidurku, sudah pukul sembilan pagi. Dan aku menatap heran kearah yang sama, beberapa lembar uang seratus ribuan terletak rapi diatas jam. Kali ini benar air mataku mulai membasahi kedua pipiku. Aku begitu kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Tomy, dia memperlakukan aku seolah aku wanita murahan yang dapat dia beli dengan mudahnya. Seandainya saja aku tidak menurutinya untuk mengantarku pulang tadi sore. Ahh semua terlanjur terjadi. Aku hanya bisa terbaring lemas diatas tempat tidurku. Meraih ponsel dan menekan nomor secara acak.

“Halo.”

Aku begitu kaget ketika mendengar suara yang tak asing bagiku. Rio. Suamiku.

“Kamu dimana, sayang?” Aku mencoba menahan suara tangisku.

“Aku baru bangun mendengar suara telepon dari kamu, kamu dimana sayang?”

“Aku menginap semalaman dirumah teman kantorku, ada tugas kantor yang harus kuselesaikan kemarin malam.”

“Aku begitu merindukanmu, sayang. Pulanglah. Aku ingin memelukmu. Seharusnya kemarin aku mengecup hangat keningmu dihari jadi pernikahan kita. Semua salahku, aku yang egois. Maafkan sikapku selama ini.”

****

Cerpen [16]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s