Cerpen [15]

Sakit kepala yang begitu hebat masih bermain-main didalam kepalaku. Badanku terasa kaku, seperti tertidur cukup lama. Aku bahkan lupa kapan aku mulai tertidur. Perlahan membuka mataku yang masih berat untuk terbuka. Mengucek beberapa kali dan masih tak percaya dengan apa yang kulihat disekitarku. Sebentar memejamkan kembali dan berpikir apa yang kulakukan saat ini.

KUBURAN. INI KUBURAN REI. APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI? HARI SUDAH LARUT PULA.

Aku belum berani membuka mataku lagi, bulu kudukku sudah berdiri sejak tadi. Ahh. Aku menggelengkan kepalaku, berharap sakit dikepalaku hilang dan seketika itu semua yang kulihat hanya mimpi. Iya ini semua pasti mimpi.

Kuraih saku celana jeansku dan mencoba mengambil handphone yang seharusnya ada disana.

Hilang?

Apa yang terjadi sebenarnya? Ohh iya Romy. Aku harus bertemu dengan dia. Tapi untuk apa? Semakin berpikir membuatku semakin merasakan sakit yang amat perih dikepalaku. Ahh lupakanlah. Aku menarik nafasku untuk kemudian membuka kedua mataku. Memberanikan kedua kakiku untuk melangkah ditengah makam yang tak pernah kutahu dimana sebenarnya. Menjaga mata yang setengah terbuka tak ingin melihat apa yang ada didepanku. Setiap langkahku mungkin akan membuat makam lainnya terinjak. Sial. Aku terus mengumpat dalam pikiranku.

****

“Sudahlah. Tak perlu kamu pikirkan apa kata kedua orang tuaku. Mereka tak pernah mengetahui bagaimana dirimu, sayang.” Ucap Romy yang kemudian berakhir dengan beberapa kecupan mesra dengan kekasihnya. Tanpa perlu waktu yang lama bagi mereka untuk menanggalkan seluruh pakaian mereka.

“Kamu mencintaiku kan, Ras?”

Rasti masih belum melemparkan jawaban. Masih terdiam. Beberapa kali mereka saling berbalas desah. Keringat sudah memenuhi mereka.

“Kamu tidak benar-benar mencintaiku!” Teriak Rasti yang kemudian mengarahkan senjata api yang ia ambil dari bawah bantal kebatang hidung Romy.

“Kamu gila ya? Jangan main-main kamu dengan benda itu.”

“Kamu yang jangan main-main denganku. Siapa wanita yang bersamamu kemarin di apartemen?”

“Wanita yang mana? Aku bahkan tidak ingat kapan aku bersama wanita lain di apartemen.”

Rasti melemparkan senyuman sinis. Senjata api masih belum beranjak dari hidung Romy. Hanya cukup sedikit tarikan untuk pelatuk memuntahkan peluru yang siap menumpahkan isi kepala Romy. Jantungnya kini berdetak hebat. Dia tak pernah mengira wanita yang ditemuinya beberapa bulan yang lalu begitu lembut sekarang bersikap dingin terhadapnya. Salah sedikit berkata akan membuat semuanya lenyap begitu saja.

“Kamu jangan gila sayang.” Romy memeluk erat tubuh Rasti. Memainkan titik sensitif wanita. Tak perlu waktu lama untuk membuat Rasti jatuh keatas tubuh Romy. Romy melepaskan senjata api yang digenggamnya dan membuangnya kelantai. Hanya desahan yang kini memenuhi seluruh ruangan.

****

Aku masih berjalan tanpa arah. Aku bahkan hampir lupa apartemen tempat Romy tinggal. Semua berubah. Serasa aku meninggalkan dunia untuk beberapa waktu yang lama. Tak ada satu batang hidungpun yang nampak untuk aku dapat menanyakan arah.

Waktu sudah hampir pagi. Sebentar lagi matahari akan bangun dari tidurnya. Sekarang aku tahu ini dimana. Aku berlari. Ini tak jauh dari apartemen tempat Romy tinggal. Seketika teringat akan wanita yang kulihat berpelukan dengan Romy dibar. Aku juga ingat ketika Romy menamparku setelah pulang dengan keadaan mabuk.

****

“Kamu menikmati semuanya sayang?”

Romy masih terdiam. Tubuhnya masih terbaring lemah diatas tubuh Rasti.

Rasti memejamkan kedua matanya. Menuntun tangan Tomy memainkan titik sensitifnya. Tubuh Tomy masih belum bergerak. Desahan demi desahan mulai kembali terdengar.

Reina sudah didepan kamar apartemen Romy sejak tadi dan masih belum berani mengetuk pintu. Air matanya kembali tumpah ketika mendengar desahan wanita dari balik sana. Sekarang semuanya jelas terputar dalam memorinya. Dia mengintip dari balik lubang kecil dipintu kamar.

“TOMYYYYYYYY”

****

“Ahh, dasar lelaki bajingan. Sama saja dengan yang lainnya.” Rasti menarik nafasnya. Membersihan cipratan darah yang mengotori tubuhnya.

Cerpen [15]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s