Surat [1]

Untuk kamu. Rindu disetiap senjaku.

Sejenak aku termenung. Menatap kertas kosong yang sedaritadi ada didepan mataku. Aku bingung. Entah ingin menuliskan apa. Padahal biasanya selalu banyak fantasi yang berputar dikepalaku. Tapi ketika menyangkut tentang kamu, semua hilang begitu saja. Iya. Kamu selalu membuat jantungku berdebar. Membuatku kehilangan pikiran liar yang selalu menelusuri fantasi-fantasi baru yang siap untuk kutuliskan.

Sekilas pasti terbesit dipikiranmu sama dengan orang-orang yang melihat secarik kertas dengan kumpulan kata-kata rumit diatasnya. Tak menarik untuk dibaca apalagi untuk kau hayati. Sekumpulan kata-kata rayuan yang menyatu dalam surat cinta biasa dijaman modern seperti ini, sekarang bukannya jaman romeo dan julliette yang selalu berbalas kata dan berfantasikan dalam liarnya kata-kata cinta ketika mereka membacanya. Sekarang jaman modern dimana muda-mudi saling bertukar kata dalam cepatnya dunia elektronik. Terlalu modernnya jaman sehingga membuat mereka lupa akan liarnya sebuah kata cinta ketika diukirkan diatas sebuah kertas. Lebih romantis bahkan. Mereka lupa. Mungkin kamu hampir.

Sederhana mungkin, tapi cukup rumit untuk otakku memutar kata-kata. Butuh jutaan rindu untuk membuat aku dapat menumpahkan tinta penaku diatas kertas biasa saja yang kini berisi ungkapan-ungkapan cinta.

Sejenak pikiranku mencoba memutar kata-kata lagi. Ditengah keramaian membuatku sulit untuk berpikir ternyata. Apalagi tentang kamu. Aku akui itu. Kamu hanya selalu hadir ketika aku menyendiri. Bukan berarti kamu pelengkap disaat aku sendiri. Tapi aku tak pernah ingin menggabungkanmu dengan rumitmya kehidupanku. Aku hanya ingin membawa kamu dalam santainya kehidupanku. Ketika aku menyeruput santai kopiku disebuah kafe dengan memutarkan lagu-lagu tentang kita, lagu-lagu yang pernah kita nyanyikan bersama, lagi-lagu yang menggoreskan sejarah hubungan kita. Bukan dalam rumitnya antara aku dengan kertas-kertas tugasku yang selalu membuat rumit hidupku. Tak perlulah kamu masuk kekehidupanku yang seperti itu. Aku ingin merasakan indah ketika bersama kamu. Melupakan apapun yang ada diluar kita.

Kamu tahu sayang? Hubungan kita mungkin tak semudah kata-kata yang kamu baca saat ini. Tapi juga tak serumit ketika aku menuliskannya. Ahh bukankah ini semua hanya perputaran kata? Demikian dengan hubungan kita. Perputaran cintalah yang membuatnya rumit. Tapi seperti jutaan puisi yang dibuat dengan bahasa-bahasa yang rumit, semuanya menjadi indah. Coba sejenak kamu renungkan hubungan kita, indah bukan?

Aku mulai lelah berpikir. Sekarang semua berjalan begitu saja. Aku menulis tanpa berpikir. Sama ketika aku mulai mencintaimu tanpa penuh pikiran. Berpikir membuat kita hanya lebih berhati-hati. Dan sekarang buat apa aku berhati-hati dalam memilikimu? Semua kubiarkan lepas begitu saja. Mengalir dalam nada-nada kasih yang selalu kusenandungan untukmu. Tunggu sebentar. Bagaimana tulisan bagian ini? Lebih mudah dibaca kan? Berbeda dengan sebelumnya yang masih memainkan kata dengan penuh aturan bahasa yang rumit. Begitupula dengan cinta. Aku tak perduli dengan aturan-aturan primitif yang ada sejak jaman yang tak pernah ditentukan. aku membiarkan cintaku mengalir begitu saja tanpa perlu ada kehati-hatian. Bukankah berhati-hati membuat semuanya menjadi baku?

Dan sekarang aku mulai kebahisan kata-kata. Semua terlepas begitu saja diatas kertas ini. Menjadikannya goresan-goresan kecil yang menyimpan ribuan cinta. Masih selalu aku hubungkan dengan cinta. Iya cintaku mungkin sudah habis saat ini. Sudah habis hanya untuk kamu. Sayang.

Cinta

Surat [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s