Cerpen [13]

Ini hari keduaku tinggal dirumah. Sebagian keluargaku sudah kembali kerumah masing-masing sejak kemarin. Suamiku masih belum kembali sejak tadi sore pergi kekota mencari makan malam untuk kami berdua. Rumah ibuku masih jauh dari ranah ibukota, butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai kesini.

Aku menatap beberapa bingkai foto yang tergantung rapi didinding kamar ini. Seketika aku rindu akan ayahku. Belum hilang rasanya perasaan kehilangan seorang ayah dua tahun lalu. Dan kemarin ibuku menyusulnya. Mungkin sekarang aku sudah bahagia dengan keluarga yang kubangun sendiri. Tapi tetap saja rasanya berat kehilangan orang yang pernah menjadikanku seperti saat ini. Aku menatap kearah beberapa bingkai foto yang terpajang dikamar ini, iya aku merindukan semuanya.

Malam sudah semakin larut. Sebentar lagi sumber cahaya satu-satunya akan padam. Kini mataku menatap tajam kearah api kecil didepanku, angin malam mulai berhembus kencang, aku bisa melihat bayanganku sendiri bergoyang-goyang dibelakangku.

Tokk…tokk…tok….

“Siapa?” teriakku ketika mendengar suara ketukan pintu. Aku terlalu takut untuk keluar rumah. Terlalu gelap diluar sana.

“Kami polisi, suami anda meninggal dirumah sakit setelah tertabrak truk tadi sore. Mohon buka pintunya.”
Angin kencang seolah menampar keras pipiku, dan sebentar saja cukup untuk membuat seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Aku terdiam. Kini pandanganku kosong.

Cerpen [13]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s