Cerpen [12]

“Cepat naikkan barangnya sebelum kapal itu berangkat.” Pria separuh baya itu nampak kelelahan menaikkan barang keatas kapal dan menjadi penumpang ilegal untuk pergi ke pulau seberang. Aku mengehela nafasku, hal ini sudah biasa terjadi. Banyak orang didesaku yang menganggap kota adalah tempat yang paling indah untuk menyambung hidup. Padahal semua itu tidak seperti yang mereka bayangkan, meskipun aku hanya mendengar dan tidak pernah merasakan udara dikota besar yang selalu mereka agungkan.

Aku bersandar dibawah pohon besar tak jauh dari pelabuhan. Dari sini nampak jelas beberapa orang yang mulai sibuk dengan persiapan perjalanan mereka. Beberapa pergi dan beberapa tak pernah kembali. Hanya beberapa dari sekian banyak yang pergi kekota yang kembali kesini. Itupun mereka yang sudah hilang akal dan ingatan mereka, hanya terdiam meratapi senja dari balik gubuk mereka. Bersuapkan makanan oleh sanak sudara mereka hanya untuk sekedar menyambung hidup. Beberapa keluh kesal sering kudengar dari bibir-bibir pengasuh mereka yang menjadi gila setelah kembali dari tempat yang mereka sebut “indah” itu.

“Kenapa aku harus menemukannya. Kenapa dia tidak menghilang saja dikota, kalau begini kan hanya menyusahkanku.” Ucap salah seorang lelaki tua yang sedang berbelanja bahan pokok dipasar apung tak jauh dari dermaga kepada salah seorang tetangganya. Aku mendengarnya tak sengaja saat sedang berjalan menikmati senja disekitar dermaga.

“Kamu tidak ikut naik? Sebentar lagi senja tiba, dan kapal ini akan berangkat. Mungkin beberapa minggu kemudian baru kembali kesini, dan belum tentu kamu bisa menyusulku dikemudian hari.” Seorang lelaki yang kutebak usianya masih berkisar 30 tahun berteriak kepada istrinya yang masih berdiam didermaga menggendong anaknya yang baru berusia sekitar 5 tahun. Dari raut matanya aku dapat melihat keraguannya. Keraguan tentang orang-orang terdahulu yang pada akhirnya tak pernah kembali. Wanita itu ragu tak akan pernah kembali kedesa tercintanya, bertemu dengan ayahanda dan ibundanya. Ragu akan mencicipi masa panen jagung yang memang menjadi mata pencaharian sebagian besar warga desa. Ragu akan senja dikota yang tak seindah disini. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya mulai menggenggam dengan erat. Sepertinya dia meyakinkan tekadnya. Entah ikut dengan suaminya atau tetap menunggu disini hingga suatu saat kemudian suaminya kembali. Menjadi gila, ataukah tak pernah kembali.

 

 

****

 

Aku begitu menyukai tempat ini, tak pernah membosankan. Beberapa senja hilir mudik setiap hari. Bau asap dari cerobong kapal yang setiap senja selalu merapat juga tak pernah kulupa. Masih sama ketika aku mencintai baunya yang khas saat menciumnya. Senja disini tak pernah berubah. Warna orange yang tak pernah kubayangkan sebelumnya juga masih sama, sempat tertawa sendiri ketika diajarkan dibangku taman kanak-kanak bahwa warna senja adalah kuning, dan berbeda dengan apa yang kulihat. Ternyata senja lebih indah dari yang pernah kugambarkan dahulu. Dua buah gunung dengan matahari yang mulai akan kembali pada ranjangnya untuk beristirahat selalu kugambarkan dengan warna kuning. Tak pernah terpikirkan akan seindah sekarang. Lucu memang kalau saja kuingat betapa lugunya aku dahulu.

Senja selalu identik dengan sebuah penantian. Ahh dan bahkan aku tak pernah tahu siapa yang kunanti. Aku masih bersandar dibawah pohon tak jauh dari dermaga. Menatap beberapa orang yang masih menanti. Dalam pikiranku bertanya “siapa yang mereka nanti? Dan apakah aku juga menanti yang mereka nanti?” ahh aku tak pernah mengerti arti senja yang sesungguhnya. Dan aku tak pernah mengerti mengapa aku begitu mencintai senja. Dua puluh tiga jam aku menanti hanya untuk menyaksikan senja yang datang menyapaku, menikmati indahnya setiap alunan burung camar yang selalu bermandikan cahaya senja. Semua masih tentang penantian, dan bahkan aku rela menanti senja yang hanya datang tak lebih dari setengah jam karena cuaca yang tidak menginginkan senja datang. Atau bahkan juga ia tidak sama sekali datang. Dan aku masih selalu setia menunggunya.

Masih tentang penantian, senja juga membuat beberapa orang menanti didermaga, dan masih tak pernah terjawab pertanyaanku tentang “mengapa kapal yang menuju dan akan pergi dari desaku hanya datang saat senja?” mungkinkah kapal itu juga pemburu senja? Dia datang saat senja ada didesaku dan pergi saat senja mulai menghilang, mencari senja ditempat yang lain dan kembali kesini saat senja mengahampiri desaku lagi. Sekelumit pertanyaan tentang senja selalu tercipta dipikiranku, belum terjawab satupun, sudah muncul beberapa pertanyaan lainnya. Masih tentang senja.

 

****

 

“Dia gila, kamu jangan dekat-dekat, konon siapa yang berbicara kepadanya akan berubah menjadi gila. Dan dia terbebas akan kutukannya.”

“Bagaimana bisa? Dia terlihat sehat, wajahnya cantik. Masih terlihat muda.”

“Entahlah, tapi yang kudengar dari beberapa cerita orang didesa ini, dia gila akan senja. Dia terkena kutukan oleh penyihir dari kota seberang, dan kembali kedesa ini dengan membawa kutukan.”

“Apa kamu pernah kekota?”

“Belum pernah, dan aku tak pernah tertarik untuk pergi kesana, mendengar beberapa cerita dari pendahuluku bahwa kota tak seindah yang dibayangkan. Banyak penyihir disana yang menjadikan warga kita menjadi gila.”

“Ceritamu menarik. Bisa kau teruskan?”

“Lain kali sajalah, anakku menangis dirumah. Ibunya mungkin sudah menungguku membawa sekotak susu ini.”

“Ceritakan padaku cerita berikutnya.”

“Jika suatu saat kita bertemu lagi. Kawan.”

Aku menghela nafasku, menariknya kembali, menikmatinya bermain-main dalam seluruh tubuhku. Tak sengaja aku mendengar beberapa percakapan kedua orang itu. Membahas tentang aku sepertinya. Ahh, aku gila? Itu menurut mereka. Merekalah yang sebenarnya gila. Mereka tidak mengerti arti senja, mereka tidak mengerti arti menikmati sebuah hidup dengan menikmati senja. Hidup mereka bahkan terlalu monoton untuk kegiatan bekerja pada pagi hari dan pulang untuk mengumpat dirumah ketika senja datang, merebahkan tubuh mereka dalam pejaman mata yang panjang hingga akhirnya pagi kembali menjelang.

Semua berbeda denganku yang selalu terbangun ketika senja tiba dan menikmati sisa hidupku hanya untuknya. Dalam diam aku mencintai senja. Dia kekasihku yang selalu kutunggu sepanjang hari. Berbalutkan dalam selimut malam aku selalu terbaring lelah, memimpikan senja yang selalu kudambakan untuk bertemu dihari berikutnya. Sama seperti hari sebelumnya. Kali ini aku mempersiapkan lensa terbaikku untuk mengabadikan senja didalam hatiku.

“Hay, kamu”

“Siapa kamu? Apakah kamu penikmat senja?”

“Bukan, aku mungkin baru mengenal senja hari ini.”

“Pergi dariku. Jangan rebut dia dariku.”

“Aku tidak merebutnya, hanya ingin tahu tentang kamu. Kudengar kamu selalu menjadi kisah dalam desa tempat kita tinggal.”

“Mereka yang gila. Senja adalah kekasihku. Dan mereka tidak suka aku mencintai senja.”

“Boleh aku duduk disampingmu?”

“Silahkan, tapi jangan mencoba untuk mendoktrinku seperti warga yang lainnya. Bukan aku yang gila.”

“Aku tidak akan seperti itu. Kamu cantik, mengapa kamu begitu mencintai senja?”

“Dia jelmaan kekasihku. Dahulu dia pergi saat senja tiba. Dan pada masa berikutnya aku melihatnya kembali dalam senja, berubah menjadi senja yang indah.”

“Benarkah? Seperti apa rupanya?”

“Sebentar lagi kamu akan melihatnya.”

 

****

 

Siang semakin berlalu, sebentar lagi senja tiba. Aku mengambil posisi terindah untuk menikmati senja. Disini. Bersandar dibawah pohon tak jauh dari dermaga. Aku bisa melihatnya utuh tanpa ada sedikitpun penghalang. Cahaya orange itu selalu kurindukan. Aroma sejuk dan nyanyian burung camar selalu mengiringi senja yang datang setiap harinya. Aku mencintainya dalam diam. Menikmati setiap lekuk indah tubuhnya tanpa sedetikpun ingin berkedip. Hanya sebentar. Namun cukup untuk memanjakan seluruh kornea mataku.

“Lihat disana, nak.”

“Siapa dia, yah?”

“Dia tetangga kita, baru kemarin ayah berbicara dengannya. Dan sekarang dia terkena kutukan senja.”

“Bagaimana bisa?”

“Nanti suatu saat kamu akan mendengarnya. Jangan kamu dekati pria itu, atau kamu akan menggantikan posisinya.”

 

****

 

Cerpen [12]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s