Cerpen [11]

Suasana masih terdiam. Hanya gemericik air yang diciptakan oleh hujan yang terdengar. Thomas masih melemparkan pandangan kosong kearah meja makan tanpa ada satupun hidangan makanan maupun minuman yang disediakan.  Air matanya telah mengering dari beberapa menit yang lalu, menyisakan jejak di wajahnya. Ayahnya sedaritadi hanya bisa menatapnya dengan penuh prihatin. Mereka hanya tinggal berdua ketika ibunya meninggal sejak beberapa belas tahun lalu. Tak pernah ada pikiran yang terbesit oleh ayahnya untuk menikah lagi. Baginya memiliki Thomas sudahlah cukup.

Hari yang seharusnya dilalui Thomas dengan bahagia semua hilang begitu saja. Pernikahan antara Thomas dan Reina yang seharusnya terjadi sebulan lagi sekarang hanya cukup menjadi nama diundangan yang telah tercetak untuk seharusnya besok mereka sebar berdua.

Beberapa kali memori tentang Reina terbesit dipikiran Thomas, dia begitu menyesali tidak mengantar Reina pulang dari rumahnya dua hari yang lalu. Semua terjadi ketika dia mendapat telpon dari kantor untuk menyelesaikan bahan presentasi untuk meeting besok. Dan dia menyuruh Reina untuk pulang dengan taksi yang akhirnya taksi yang ditumpanginya menabrak mobil yang berhenti mendadak.

Suara gemericik air perlahan hilang. Menyisakan dingin yang mulai perlahan menyusup kedalam ruangan yang sunyi “Apa rencanamu kali ini?” Ayah mulai membuka percakapan. Seketika membuyarkan beberapa memori tentang Reina yang baru saja mengisi seluruh pikirannya.

“Aku belum memikirkannya.” Thomas menarik nafasnya “Semua terjadi begitu cepat. Tuhan serasa tak ingin melihatku bahagia bersama Reina.” Dia menyeka bekas air matanya yang sudah mengering dengan sapu tangan. Mencoba untuk menumpahkan air mata kembali namun sudah tak ada lagi satupun yang menetes. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Ayah mengerti perasaanmu kali ini, sama rasanya ketika kehilangan ibumu. Dan kali ini kamu harus mengerti arti sebuah kehilangan.” Ayah berhenti sejenak. Menyeka air matanya yang mulai mengambang ketika dia teringat kembali tentang istrinya. “Waktu memang selalu memilih tujuan yang lain. Dan kali ini Reina tidak pergi meninggalkanmu, dia hanya menunggumu disuatu tempat yang indah untuk menunggumu menyusulnya. Tidak sekarang, mungkin suatu masa yang akan datang.”

 

****

 

Thomas berjalan dengan malas, kakinya berjalan tanpa ada komando dari pikirannya. Mulutnya memesan secangkir kopi dan menuruti perintah perutnya yang kelaparan dengan memesan beberapa donat, semua tanpa ijin dari pikirannya. Mengacuhkan kasir yang tersenyum kearahnya saat menerima beberapa lembar uang dan kemudian berjalan melewati beberapa orang yang berlalu lalang.

Disini setidaknya lebih sepi. Suasana sehabis hujan menciptakan dingin yang khas juga aroma yang menyejukkan. Thomas berhenti ketika dia sampai dilantai dua, memperhatikan seluruh isi ruangan sebelum akhirnya berjalan dengan malas menuju sofa panjang yang berpasangan dengan beberapa meja didepannya. Dia kembali terdiam. Melihat kearah jam tangannya, tepat pukul dua belas malam. Coklat panas dan beberapa donat yang tadi dipesannya tidak disentuhnya sama sekali. Memori tentang Reina kembali terbesit didalam pikirannya. Pertemuan yang terjadi beberapa tahun lalu seolah terulang kembali.

“maaf, aku buru-buru”

“tidak apa. Kamu mahasiswi baru ya?” Thomas mengernyitkan dahinya heran

“iya. Baru hari ini masuk. Aku Reina.” Dengan polos Reina mengulurkan tangannya membuat Thomas bingung. Dia bahkan tidak berniat untuk berkenalan dengannya.

“Thomas. Semester tujuh managemen bisnis. Kamu?”

“Aku akutansi semester 6. Pindahan dari Jogja. Maaf aku buru-buru. Sampai ketemu lain kali ya, Thomas.” Reina melemparkan senyumannya. Tingkahnya begitu aneh dan sejak saat itu Thomas menaruh penasaran dengannya.

Suasana kampus masih sepi. Mungkin masih pada malas untuk datang kekampus dihari pertama pergantian semester. Dia mengayunkan tangannya dan melihat kearah jam tangannya. Masih pukul sembilan pagi. Lima belas menit lagi kelas dimulai, tapi dia tidak melihat ada dosen yang sedang bersiap untuk masuk kekelasnya saat melewati ruang dosen. Dan begitu juga dengan temannya, tidak terlihat sejak tadi.

“Hey”

Thomas mencari-cari kearah suara yang sepertinya memanggilnya.

“kamu yang tadi kan?” ucap Reina membuat Thomas bingung. Wanita yang agak aneh namun tingkahnya cukup menarik itu sekarang tiba-tiba muncul kembali dihadapan Thomas.

“Aku lupa lagi nama kamu. Siapa ya?” Thomas masih mencoba untuk berpikir.

Reina mengulurkan tangannya lagi sambil tersenyum “Reina”

“Kali ini diingat yaa, suatu saat perlu kan bisa dihubungi.” Reina kemudian tertawa dan Thomas hanya senyum. Masih keheranan dengan wanita yang saat ini ada dihadapannya.

 

****

Thomas mengucek kedua matanya dengan tangannya. Mimpi barusan masih tentang Reina. Dia merasa pusing, ditatapnya coklat yang sudah mulai dingin dan donat yang masih utuh diatas meja. Perutnya kali ini benar-benar lapar namun masih belum ingin menyantap apapun. Sejenak melemparkan pandangan kesegala arah, masih sepi. Hanya beberapa pelayan yang sedang asik mengobrol.

Malam semakin dingin, waktu terasa begitu lambat saat sendiri. Kali ini dia benar merasa sendiri. Kehilangan Reina adalah bagaikan kehilangan arah. Air matanya mulai terkumpul kembali, masih mengambang dan siap untuk tumpah kapan saja.

“Aku sempat ragu akan hubungan kita.” Reina membuka percakapan setelah keheningan menyelimuti mereka cukup lama.

“kenapa?” Thomas menjawab sambil tetap menghabiskan makanan yang terhidang didepan mereka

“kamu pernah mikir ga sih akhir-akhir ini kita sering banget kehabisan cerita. Diam lebih banyak menyelimuti kita.”

Thomas diam sesaat. Memandangi wajah Reina sejenak. Cahaya lilin membuat wajah Reina nampak begitu indah malam ini, gaun tanpa tali yang baru saja dibelinya kemarin untuk sengaja dipakai di hari jadi mereka yang pertama hari ini nampak begitu pas ditubuhnya. Sempurna. Reina begitu cantik malam ini. Begitu beruntung Thomas bisa memilikinya, sebagai kekasih, dan sebagai pendamping hidup. Kelak. Pikirnya.

 

****

 

Suara langkah kaki kini mengagetkannya. Suara heels beradu dengan lantai kayu kafe ini semakin dekat kearahnya. Seorang wanita cantik mengenakan dress warna biru dengan rambut dibiarkan terurai mengibaskan udara dingin yang mencoba mengusiknya. Sejenak melemparkan pandangan keseluruh ruangan mencari tempat duduk.

“Boleh duduk disini?” ucapnya seraya tersenyum kepada Thomas “Agak sedikit takut kalo duduk sendirian sih” Dia kemudian menaruh minuman dan makanannya diatas meja sambil membenarkan posisi duduknya. Disamping Thomas.

“Silahkan” Jawab Thomas ringan sambil mengusap matanya dengan sapu tangan tak ingin terlihat sedih.

“Sudah tidak usah dipikirkan” Wanita itu menatap ke arah laptopnya sambil menyeruput minumannya. Membuat kaget Thomas yang sedang menggigit donatnya “Kehilangan seseorang memang berat. Dan semua orang merasakannya. Termasuk aku, dan termasuk orang lain yang ada disini. Semua pernah kehilangan, akan merasakan kehilangan dan sedang merasakan kehilangan. Memang berat. Tapi bukankah kehilangan itu pasti?” Dia diam sejenak. Mencoba menarik nafas lebih panjang.  “Banyak hal yang tidak akan terjadi sesuai dengan keinginan kita. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Suka ataupun tidak suka itu semua pasti.”

“Siapa kamu?” Thomas memotong perkatannya. Kali ini dia sedikit kesal. Wanita itu begitu sok tahu dengan apa yang dirasakan olehnya meskipun yang dikatakannya benar.

“Bukankah tidak begitu penting sebuah perkenalan?” Wanita itu tersenyum kearah Thomas

“Kamu tidak usah ikut campur dengan urusanku. Seakan tahu segala yang kurasakan. Aku lelaki dan aku tahu apa yang harus kulakukan.”

“Dan nyatanya kamu tidak tahu apa yang harus kaulakukan, kan? Kamu kehilangan arah dan tujuan. Setengah hidupmu hancur, dan kamu tidak bisa berpikir dengan logis saat ini.”

“Cukup!!!!” Thomas semakin emosi. Air matanya sekarang sudah memenuhi kelopak matanya

“Pejamkan saja mata kamu sesaat. Nikmati betapa indahnya anugrah Tuhan yang pernah kamu rasakan. Jika kekasihmu adalah kau anggap nikmat. Maka bayangkanlah. Tak usah pernah merasa takut, kehilangan memang berat, tapi mengingatnya kembali akan membuat rasa kehilangan yang dirasakan semakin mudah menyusut. Bukankah tidak ada orang yang pergi? Hanya pindah dan menunggu disuatu tempat. Tempat terindah yang Tuhan ciptakan untuk mereka.”

Kali ini Thomas tidak bisa berkata sepatah katapun. Air matanya tumpah, matanya masih terpejam. Mengikuti apa yang diarahkan oleh wanita misterius yang saat ini ada disampingnya. Menikmati setiap kata-kata yang diucapkannya, sekilas bayangan tentang Reina berlalu kembali. Butuh sebentar saja untuk membuat sapu tangannya basah. Kali ini dia membiarkan semuanya habis. Air mata. Kenangan, dan rasa kehilangan yang ada didalam dirinya.

“Menangis saja. Beberapa saat untuk membuatmu tenang.”

“Siapa kamu? Kenapa kamu tahu banyak tentang yang kurasakan saat ini?” kali ini Thomas lebih tenang, dia menyeruput coklatnya yang sudah dingin.

“Anggap saja aku bidadari.” Wanita itu tertawa renyah. Thomas masih bingung, namun kepalanya sudah lebih ringan.

“Berarti kamu dari khayangan?”

“Menurutmu begitu?”

“Semua bidadari tinggalnya dikhayangan”

“Kalau begitu aku seperti yang kamu katakan”

“Bagaimana kabar mama? Juga Reina? Mereka ada di khayangan kan?”

“Mamamu bahagia. Kalau Reina aku belum bertemu dengannya.”

“Kamu pandai menghibur ya, seperti bidadari yang sengaja dikirim Tuhan untukku saat ini. Kamu tau semuanya tanpa pernah aku menceritakannya. Bahkan kita juga belum pernah bertemu.”

“Dan kali ini kita bertemu, kan? Aku memang bidadari.”

Sekali teguk saja Thomas menghabiskan secangkir coklatnya yang terakhir. Dingin semakin menyengat, dan dia tidak membawa jaket. Mengayunkan tangannya dan melihat kearah jam tangannya lagi. Pukul empat pagi. Sebentar lagi fajar menjelang. Cukup puas dengan dua hari penuh dengan air mata. Mungkin kali ini semuanya habis. Malam ini terakhir dirumpahkannya, kenangan memang selalu teringat, bukan berarti kenangan harus membuat kita terjebak. Bukan?

“Terima kasih” Thomas tersenyum kearah wanita yang menyebut dirinya bidadari itu.

“Sama-sama. Kalau begitu tugasku sudah selesai. Ijinkan aku kembali kerumahku. Khayangan.”

Thomas sudah dapat tertawa geli kali ini. Wanita disebelahnya pasti memiliki selera humor dan fantasi yang begitu tinggi.

“Baiklah. Kembalilah kalau begitu, namaku Thomas” Thomas mengulurkan tangannya

“Ini” Wanita itu membalasnya dengan memberikan sepucuk amplop putih.

“Apa ini?”

“Surat. Baca saja. Setelah aku pergi. Jangan sedih lagi.”

 

***

“Aku dimana?” Kepala Thomas masih pusing. Ruangan terlihat berputar semakin cepat. Dia memejamkan kedua matanya kembali selama beberapa detik baru kemudian mencoba mencari fokus untuk melihat kesekitar.

“Kamu dikamarmu, tadi kamu pingsan.”

“Melinda? Dimana Reina?”

“Reina meninggal dua hari yang lalu, dan kamu pingsan tadi pagi saat kembali dari pemakamannya. Sudahlah, kamu istirahat saja dulu.” Ucap wanita itu sambil mengganti kain untuk mengompres kepala Thomas.

Setelah malam panjang yang dilaluinya, semua berlalu begitu saja. Dan semua hanya mimpi. Namun kematian Reina tetaplah kenyataan. Thomas menarik nafas panjang. Kepalanya sudah sedikit lebih ringan namun masih tetap pusing.

“Bisakah kamu keluar untuk beberapa waktu? Aku ingin sendiri saat ini. Melinda.” Pinta Thomas. Dan Melinda keluar kamar menyisakan senyuman sebelum akhirnya pintu kamarnya tertutup rapat.

 Thomas mencoba untuk duduk. Dia merapihkan bantalnya dan kaget ketika menemukan sebuah amplop putih, persis apa yang ada dimimpinya barusan.

“Baca saja. Setelah aku pergi. Jangan sedih lagi.”

Thomas teringat kata wanita itu.

“Mungkin dia benar bidadari”

 

Untuk Thomas kekasihku

Ahh, mungkin aku tidak dapat banyak berkata. Semua terjadi begitu indah. Hubungan kita, kenangan kita. Semua perasaanku untukmu. Semua terjadi begitu saja. Indah bukan? Semua tidak bisa kuungkapkan. Kalaulah saja kamu dapat membaca setiap detik perasaanku mungkin semua akan tergambar dengan jelas.

Kamu tahu? Sebentar lagi pernikahan kita. Dan itu yang paling aku tunggu sejak sebulan setelah pertemuan kita. Aku selalu berharap untuk memilikimu seutuhnya. Kamu tahu? Aku begitu bahagia ketika aku memilikimu, mungkin kamu juga, tapi aku yakin aku paling bahagia :p

Hingga akhirnya nama kita tercetak dalam undangan sakral yang sebentar lagi akan menjadi saksi kita. Kamu kekasihku, Thomas. Aku begitu menyayangimu. Entah aku tak tahu harus menjawab apa pertanyaan “siapa yang beruntung?” ketika orang lain bertanya kepadaku. Tapi selalu kuyakinkan dalam hati, akulah yang paling beruntung memilikimu. Aku menikmati setiap cinta yang kamu berikan. Setiap rindu yang selalu kamu senandungkan bersama senja ketika kita sedang asik menikmati waktu berdua. Aku menikmati semuanya. Sayang. Begitu jugakah kamu?

Hari ini tepat empat tahun kisah cinta kita terjalin. Dan aku masih menyayangimu. Bahkan lebih dari empat tahun lalu aku bertemu dengan kamu. Bagaimana denganmu? Ahh pastilah kamu lebih menyayangiku, bukan begitu?

Empat tahun bukan waktu yang lama memang, bukan waktu yang sebentar juga untuk kita lalui. Semua terjadi begitu cepat. Kamu dan aku juga begitu cepat terjadi. Perkenalan kita begitu singkat hingga akhirnya kamu menyatakan janji cinta kepadaku. Semua terjadi begitu saja dan aku tak bisa melupakannya. Semua terekam didalam sini. Didalam hati. Thomas.

Entah berapa banyak kata yang dapat aku tulis diatas kertas ini jika harus mengungkapkan seluruh kebahagianku kepadamu. Hanya saja kamu yang akan lelah membacanya. Mungkin ini bagian simpel dari ungkapan kata empat tahun aku bersama kamu. Bulan depan kita menikah. Dan tidak harus menunggu setahun sekali aku mengirimu surat. Bahkan setiap hari setelah kamu bangun tidur, kamu akan selalu menerima suratku. Tersusun rapi dibalik amplop putih. Menemani kamu dalam balutan cahaya pagi yang menyambutmu dengan kehangatan.

Selamat hari jadi yang keempat tahun sayang. Aku bahkan mencintaimu lebih dari kata-kata cinta dalam surat ini

 

Salam dari yang kamu miliki

Reina :*

Cerpen [11]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s