Cerpen [10]

“Lo bisa ngebayangin ga sih, Ta. Pacaran bertahun-tahun dan kemudian akhirnya putus cuma karena gue ngegepin Rio selingkuh. Didepan mata gue persis, Ta. Gue ga tau deh gimana rasanya lo kalo jadi gue.”

Percakapan melalui telpon ini masih berlangsung, dering telepon membangunkanku dan masih setengah sadar mendengarkan curhatan Reni kali ini. Aku tak tahu harus berkata apa. Sudah berkali-kali aku katakan, bahkan dari pertama kali dia jadian dengan Rio, aku tak pernah suka dengan pacarnya itu. Ada sesuatu hal yang terpancarkan dari matanya. Tatapannya tajam, ia seorang yang tak akan pernah bisa menghargai wanita, dan aku merasakan itu, aku pernah mempunyai mantan yang sama dengan Rio, namun tak bertahan lama, hanya beberapa hari lalu kemudian aku memutuskan untuk berakhir karena aku tak suka dikekang, apalagi oleh lelaki yang belum jelas jadi pendampingku kelak. Namun Reni tak pernah mempercayaiku, bukan hanya sekali. Puluhan kali atau hampir menginjak keseratus kali Reni curhat masalah yang sama. Bukan hanya selang seminggu, bahkan bisa setiap 2 hari sekali Reni selalu cerita yang sama. Hal yang sama, hal yang seharusnya sudah bukan menjadi masalah buat dia karena sudah puluhan kali aku memberikan solusi yang sama. Hal yang seharusnya dia dengarkan sejak awal. Dan kali ini mungkin dia baru sadar. Tuhan memang selalu punya cara yang berbeda untuk membuat manusianya sadar. Dan Tuhan selalu punya cara yang berbeda untuk manusianya menikmati kenangan cinta.

“Gue capek, Ta. Gue capek. Tapi gue sayang sama Rio.”

Suaranya semakin melemah, menahan isak tangis yang mungkin saja tumpah kepelukanku jika kita bertatap muka saat ini. Iya aku tahu bagaimana rasanya disakiti, aku pernah merasakan hal yang sama ketika mencintai sepenuh hati lelaki yang benar-benar membuat hati kita nyaman, aku tau rasanya merelakan meskipun nyatanya hati tak sanggup untuk terus menerima semuanya. Aku pernah merasakannya dan aku paham. Namun aku belum pernah merasakan rasanya menjalin kasih selama beberapa tahun dan kemudian berakhir dengan kekecewaan. Selama beberapa tahun menahan rasa sakit, bukan hanya batin, namun jiwa, yang seharusnya berakhir bahagia dipelaminan. Iya. Semua wanita selalu berharap begitu, seburuk apapun lelaki yang menjadi kekasihnya, ia selalu berharap bahagia, sehancur apapun hubungannya, ia selalu berharap bahagia dikemudian hari. Dan aku belum pernah merasakan hal yang dirasakan oleh Reni. Aku hanya bisa membayangkan rasanya tanpa bisa mengerti perasaan yang sesungguhnya. Aku hanya bisa mendengarkan curhatannya tanpa bisa memberikan sebuah pendapat. Aku hanya bisa membuatnya tegar dipelukanku. Kita harus bertemu sekarang, aku tak ingin seorang sahabatku hancur hidupnya hanya karena cinta.

“Lo hari ini ada acara , Ren? Gimana kalo kita ketemu? Diceritain aja semuanya biar lo tenang.”

“Gue hari ini ada ujian, jam 1an baru selesai. Lo emang ga kekampus, Ta?”

“Gue libur hari ini, yaudah gimana kalo jam 2 ketemu ditempat biasa?”

“Iya, Ta. Maaf ya udah ganggu pagi-pagi begini.”

“Iya gpp kok Ren, kan gue sahabat lo. Harus selalu ada buat lo kapanpun.” Ucapku menenenangkan hati Reni.

****

“Dan kamu beneran mutusin aku karena cewek brengsek yang menurut kamu lebih baik dari aku itu?”

“Iya, bukankah sudah sejak lama kamu menginginkan kita berakhir?”

“Enggak gitu, Yo. Aku memang sering kecewa sama kamu, sama sikapmu, sama tindakanmu, tapi aku berusaha tegar dan tetep mencoba mengerti kamu. Kamu itu egois, selalu aku yang mengalah. Dan disaat seperti ini juga masih aku yang harus mengalah.”

“Iya aku…”

“Kamu ga tau kan aku beberapa hari ini terus mikirin kamu, kamu boleh bentak-bentak aku didepan cewek itu, kamu boleh mukul aku didepan cewek itu, tapi kamu ga bisa seenaknya mutusin aku dengan apa yang udah kamu lakuin selama ini.”

“Aku tau, tapi…..”

“Tapi apalagi? Kamu belom puas dengan kelakuan kamu selama ini? Kamu ga tau kan rasanya jadi aku? Rasanya setiap malam menahan sakit, bukan hanya hati aku, tapi juga semua memar yang kamu ciptakan.”

“Kamu dengerin…..”

“Aku ini cewek, kamu ga seharusnya kasar ke aku. Tapi aku terima itu semua, karena memang aku sayang kamu. Kamu yang selama ini benar-benar mengerti aku, dan kamu yang selama ini…”

Tuut…tuuut…tuuut…

“Kamu bisa ga sih dengerin aku dulu? Seharusnya kamu menjelaskan semua ini ke aku, dan aku bisa menuntut yang kamu lakukan kepadaku, tapi aku ga ingin. Aku ngerti kamu sayang sama aku, cuma cara kamu menunjukkannya itu salah, dan itu yang buat aku tetap memilih kamu untuk menjadi teman hidup aku. “ “kamu itu yang gantiin mama papa dihidup aku, makanya aku sanggup meskipun ga ada mereka, karena aku udah punya kamu. Dan sekarang kamu juga mau pergi seperti mereka? Apa mungkin semua perasaan yang pernah aku kasih ke kamu ini berakhir sia-sia? Aku berharap lebih sama kamu, 5 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Aku udah mengenal kamu lebih dari yang orang lain tahu, itu alasan kenapa aku selalu mengacuhkan teman-temanku ketika menyuruhku untuk menjauhimu. Iya. Sudah sejak lama teman-temanku tak pernah suka dengan kamu, bahkan dari pertama kita menjalin kasih. Tapi aku tak pernah memperdulikan kata mereka. Dan sekarang aku ga pengen apa yang mereka katakan itu adalah benar, aku ga pengen apa yang mereka ucapkan tentang kamu itu menjadi kenyataan sehingga mereka akan mentertawakanku kelak.” “Kamu dengerin aku kan Rio?”

Tuuut…tuuu…tuuuut….

****

“Gue pasti nangis lagi kalo ceritain Rio.”

“Nangis aja Ren, keluarin semua. Itu bisa buat lo tenang kok.”

Wajahnya masih berkaca-kaca. Matanya bengkak, sepertinya sudah beberapa hari dia menangis dan kurang tidur. Pipinya juga sedikit membiru. Suasana masih hening, aku masih sibuk membalas beberapa bbm dari teman kampusku yang dari seminggu lalu mengajakku untuk belanja beberapa baju untuk ke acara kampus minggu depan. Kali ini aku lebih memilih sahabatku. Reni sahabatku dari SMA, dia teman sebangkuku. Tak mungkin aku tak ada disaat dia membutuhkan seorang teman, begitu pula denganku, dia selalu ada ketika aku membutuhkan tempat untuk bersandar.

Sekarang gue sadar, Rio itu memang bukan yang terbaik buat gue. Seharusnya gue dengerin kata-kata lo sejak dulu ya, Ta.

Dan ga tau sampe kapan gue bisa move on dari Rio, dia itu yang pertama kali buat gue kayak gini. Bukan cuma sakit, tapi juga buat gue ngerasain tegar. Lo tau kan sejak bokap nyokap gue cerai, gue ga punya siapa-siapa, dan dia yang ngajarin gue bertahan dikerasnya hidup ini. Dia ngajarin gue kerasnya hidup.

Mungkin lo selalu bosan ketika gue cerita semua kebaikan dia, tapi itu nyata, Rio memang keras, tapi dia selalu bisa mendidik gue dan bisa menjadikan gue seperti sekarang ini. Mungkin kalo ga ada dia, gue udah bunuh diri sejak bokap dan nyokap bercerai.

Gue tau, lo ga bisa ngebayangin rasanya jadi gue. Gue ga minta itu kok. Kali ini gue ga perlu masukkan apapun dari lo. Lo udah banyak memberi masukkan buat gue, hanya gue aja yang egois ga pernah mau untuk sedikit aja membuka mata akan kata-kata dari lo. Dan Tuhan lah yang sekarang membuka mata gue. Setelah hampir 5 tahun gue jalani ini semua dan sekarang gue baru sadar, Tuhan baru membukakan mata gue kalo ternyata pengorbanan gue sia-sia.

Kali ini aku tak dapat berkata sepatah katapun, Aku hanya diam dan mendengarkan setiap bait cerita Reni. Satu hal yang selalu kuingat. Karma. Iya, masihkah karma akan berlaku? Reni pasti akan ingat yang selalu kukatakan diakhir pertemuan, karma selalu berlaku. Baik atau buruknya seseorang dia akan mendapatkan karma yang setimpal. Tuhan memang selalu punya cara untuk membahagiakan seseorang, itu yang aku dapatkan dari cerita Reni, ternyata dibalik Rio yang tak pernah kusuka, dia baik meskipun caranya salah, dan dibalik gaya kucelnya Rio, dia selalu menyimpan kenangan meskipun kenangan menyakitkan. Tuhan selalu mempertemukan manusianya dengan pasangan-pasangan yang mereka butuhkan. Reni, aku tahu dia bukanlah wanita yang tegar, sejak SMA dia selalu menangis, keluarganyalah penyebabnya, dan sekarang dia belajar artinya hidup. Dari Rio dia belajar semuanya.

Gue belajar banyak. Setelah gue mengerti artinya tegar, sekarang gue harus mulai belajar merelakan, mungkin ini pertama kali, dan ini hal terakhir yang diajarkan Rio. Berat mungkin, tapi sama seperti dulu, gue bisa kan?

Itu Rio sama pacar barunya. Kita pulang ya, aku ga sanggup melihat mereka.

Cerpen [10]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s