Cerpen [9]

“Besok kita ulangin kayak hari ini lagi ya, Ndy”

“Gue ga bisa janji Ran”

Senyuman yang sedaritadi menghiasi perlahan memudar, suasana diam seketika, aku belum berani menanyakan hal apa yang membuatnya tiba-tiba terdiam. Masalah keluargakah? Kerjaan? Atau mungkin kuliah? Aku terus bertanya-tanya dalam hati sambil memainkan kertas struk dari 2 gelas cangkir hot chocolate yang kami nikmati malam ini. Berdua, begitu romantis dengan lilin yang menyala tenang, tak ada angin yang menggodanya. Melipat-lipat kertas hingga kecil, membukanya lagi untuk kemudian kugulung-gulung, membukanya lagi hingga akhirnya menjadi potongan kecil diatas meja. Suasana masih tenang. Aku sekilas mengintip Sandy dengan kepala yang masih menunduk., tak ingin terlihat sedang menatapnya. Ia menghisap panjang rokoknya. Menghembuskannya sambil membentuk bulatan-bulatan kecil diudara.

Sudah jam sepuluh malam, besok kamu kuliah pagi kan?

Aku membaca pesan singkat dari mama. Tak terasa memang sudah pukul sepuluh. Kalo jalan dengan Sandy memang selalu seperti ini, aku bahkan lupa dengan jam tanganku, tak seperti jalan dengan teman-teman kampusku yang lain, setiap jam mungkin selalu kuhitung, bahkan selalu menanti jam berikutnya berganti hanya untuk sekedar mencari alasan agar segera pulang. Berbeda dengan Sandy, aku malah ingin waktu berhenti, satu jam, ahh 5 jam, atau mungkin seharian waktu berhenti juga tak jadi masalah. Dia selalu bisa membawa suasana. Membuatku nyaman tepatnya, hingga akhirnya aku lupa akan waktu.

Besok aku libur kuliah, lusa mau uas, jadi diliburin sehari.

Aku berbohong, kesekian kalinya demi untuk menghabiskan malam. Malam yang singkat namun beegitu berkesan. Terlalu sayang jika malam ini harus aku potong hanya untuk pulang dan tidur karena besok kuliah. Malam bersama Sandy selalu kutunggu. Dia orang yang sibuk, untuk bertemu dengannya belum tentu bisa dihari esok atau lusa, mungkin aku harus menunggu sebulan lagi. Menyimpan cerita selama sebulan untuk kemudian aku bagikan dengannya lagi, seharian penuh. Iya, aku selalu membagikan cerita selama aku tak bertemu dengannya, aku habiskan sehari saat bertemu dengannya. Tentang kuliah, tentang zodiak, tentang keluarga, atau bahkan tentang tukang ojek yang selalu menggodaku di halte ketika aku menunggu bus. Semua selalu kusimpan rapi didalam pikiranku, untuk ditumpahkan kepada Sandy. Biarlah besok aku membolos kuliah, malam ini tak akan terulang besok, lusa, ataupun bulan depan. Malam ini hanya sekali, pertemuan berikutnya akan menceritakan cerita yang lain pula. Bahkan hari ini belum habis untuk diceritakan jika aku memilh untuk pulang kerumah demi perkuliahan esok hari.

Suasana masih tenang. Lilin didepanku sebentar lagi akan habis, beberapa pengunjung bergantian datang dan pergi meninggalkan kafe. Hampir tengah malam. Dan masih seperti ini. Datar. Beberapa menit tanpa percakapan. Apa kita sudah kehabisan kata-kata? Atau aku yang kehabisan cerita? Ahh tidak mungkin, masih banyak yang ingin aku ceritakan, bahkan sehari tidak akan cukup untuk menceritakan kisahku selama 2 bulan tidak bertemu denganmu. Atau mungkin kamu yang bosan mendengakan celotehanku dari sejak tadi pagi? Dikepalaku masih terlontar ratusan kata-kata yang ingin kutanyakan kepadamu, tapi aku belum berani, raut wajahmu masih menyimpan tanda tanya untukku. Ada apa dengan kamu, Sandy?

Aku mengambil potongan struk yang tadi kurobek-robek dan kemudian menyusunnya kembali menjadi satu diatas meja seperti sebuah puzzle. Berkali-kali kuacak dan kususun lagi hingga aku bosan. Dan kemudian mengaduk-aduk chocolateku dengan stirer. Mungkin kali ini aku terlihat bodoh dihadapan Sandy, tapi kali ini benar-benar aku tak tahu harus berbuat apa.

Ran, besok bareng yaa kekampus, gue bawa mobil nih, gue jemput dirumah yaa.

Pesan singkat dari Audrey sejenak membuatku menghentikan hal bodoh yang kulakukan. Kuliah? Bareng? Hal bodoh apa yang akan aku katakan kalau dia besok kerumahku dan menjemputku. Mamaku bisa marah besar kalau tahu aku membolos, apalagi dengan Sandy, bisa tak diijinkan keluar dengan dia lagi.

Gue besok ga kuliah. Gue ga enak badan. Lusa aja bareng, uas kan lusa?

Ohh kenapa lo? Pasti semaleman bergadang yaa? Lusa berarti gue jemput dirumah lo yaa.

Iya lo kerumah gue aja. Tapi ga usah bahas-bahas tentang ga enak badannya gue yaa, stay cool aja didepan nyokap gue.

Mencurigakan lo Ran, yaudah deh gws ya🙂

Lusa gue ceritain deh. Thanks yaa🙂

“Asik sendiri aja lo Ran.”

“Ehh, iya Ndy, nggg, ini temen kampus” aku tertawa renyah, salah tingkah. Akhirnya ada yang membuka ucapan dari keheningan sesaat ini.

“Diem aja lo daritadi.”

“Lo kali yang diem aja, ada apa sih? Bete ya denger bawelan gue dari pagi?”

“Ngggg. Enggak kok Ran, ada masalah aja. Tapi ahh lupakanlah, maaf yaa udah buat lo jadi bertanya-tanya.”

“Pede banget lo. Gue daritadi biasa aja kali.” Ucapku sambil memukul bahu Sandy

“Ohh yaudah deh kalo gitu, kita sampe jam berapa nih?”

“Terserah sih, gue kan cuma penumpang. Jadi terserah supirnya mau bawa gue sampe jam berapa dan kemanapun” gue tersenyum kecil.

“Sampe pagi juga lo siap?” Sandy membalas tantanganku sambil tertawa.

“Jangan hari ini deh, gue ga sanggup kalo sampe pagi. Bentar lagi juga udah merem nih pasti kalo lo masih diem kayak tadi.”

“Iya maaf deh, lo jadi bete gara-gara gue.” Sandy menarik tangan gue, menggenggamnya, wajahnya memelas, membuatku malu. Aku menunduk, memperhatikan tanganku yang digenggamnya.

Ini saatnya Ran. Bisik hatiku.

Tapi aku malu.

Terus mau sampe kapan?

Aku kan wanita

Terus kamu mau mendem ini terus? Bagaimana jika Sandy tidak pernah mengatakannya?

Jadi harus malam ini?

Iya, ini saat yang tepat. Belum tentu sebulan lagi bisa seperti ini kan?

Kepalaku saling beradu argumen, aku deg-degan. Perasaan ini yang kualami dulu, saat pangeran yang kuharapkan mengatakan cintanya dan membawaku pergi dengan kereta kudanya keistananya. Dan kali ini aku yang harus memulai semuanya. Entah darimana, haruskah sama dengan beberapa pria yang pernah mengatakan cintana kepadaku? Nadanya? Kalimatnya? Ahh apa perdulinya, toh Sandy tak akan pernah tau itu. Aku bukanlah penyair, tak bisa aku mengatakan kata-kata cinta layaknya sebuah syair. Paling hanya sebuah kalimat “aku suka kamu” biasa yang aku katakan. Tapi mengatakan itu adalah sebuah tantangan bagi seorang wanita. Wanita itu penunggu, penunggu sejati. Tapi kali ini aku tak dapat menunggu. Aku harus memulai, aku harus berjalan duluan, berlari kalau perlu. Namun aku bingung harus mulai darimana? Rasa deg-degan ini semakin menjadi, kali ini pertama kali aku merasakan detik berjalan lama. Untuk menunggu sebuah menit mungkin seperti menunggu sebuah jam. Kenapa disaat seperti ini? Kenapa disaat yang mungkin aku mengharapkan waktu berjalan cepat dan akhirnya kita harus pulang jadi tak perlu ada kata cinta yang kuucapkan? Ahh, aku menghela nafasku panjang. Menikmati semuanya masuk mengaliri oksigen bersama darahku keseluruh tubuh, bermain-main sejenak didalam jantung bergantian dengan karbondioksida yang terbang bebas keluar dari dalam tubuh setelah terjebak beberapa menit.
Q
“Ndy” “Ran”

Kami saling memanggil bersamaan. Aku semakin deg-degan. Grogi tepatnya. Tarikan nafasku sudah yang kesekian kali. Namun masih belum satu katapun terucapkan. Hanya 3 kata padahal. “Aku suka kamu” . Ahh tidak. “aku nyaman denganmu” mungkin lebih indah, atau mungkin “aku sayang kamu” . Hmmm. Terlalu lebai. “Aku mulai mencintaimu” , terlalu mendramatisir.

“Hahaha. Jadi barengan gini. Lo duluan deh Ndy.” Aku tersenyum. Mulai terlihat salah tingkah dihadapan Sandy. Dia mungkin yang duluan. Aku akan berkata iya kok. Aku menunggumu sejak tadi, sejak lama bahkan.

“Munggu depan aku pindah ke Bali. Dan sebulan kemudian mungkin aku akan tinggal di Amerika. Papa pindah tugas, dan kami sekeluarga memutuskan untuk mengikuti papa, aku sudah besar memang, tapi papa sudah terlalu tua. Kami tak ingin berpencar satu sama lain dari keluarga. Menghabiskan masa tua kedua orang tuaku bersama-sama. Setelah itu baru kami bebas untuk memutuskan hidup kami sendiri.”

“Berat mungkin buatku, terlebih jika Arumi tahu. Aku belum menceritakannya ke dia. Kamu yang pertama kali tahu ini semua. Aku minta pendapatmu, aku butuh semangat dari kamu. Kamu kan yang selalu memberikanku semangat. Kali ini sama seperti sebelumnya, aku butuh semangat dari kamu. Mungkin ini yang terakhir. Aku tak ingin kehilangan Arumi, tapi aku juga tak ingin jauh dari papa dan mama.”

“Siapa Arumi, Ndy?”

“Ohh iya aku belum pernah menceritakannya ke kamu. Dia pacarku, sudah 6 bulan kami berpacaran. Teman kampusku, sekaligus rekan kerjaku.”

Cerpen [9]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s