Cerpen [7]

“Terus kita mau sampai kapan seperti ini?”

“Kamu jenuh?”

“Enggak, mungkin aku hanya ingin kejelasan atas semuanya.”

“Tapi semua udah jelas kan?”

“Itukan menurutmu.”

“Ohh yaa?”

“Selalu begitu, kamu memang egois.”

“Itu pandanganmu.”

“Terserahlah.”

“Yaudah coba jelasin baik-baik. Kali ini aku dengarkan.”

“Sudah berulang kali kamu bilang seperti itu.”

“Terus? Kali ini aku serius.”

“Aku bahkan lebih serius dari ini. Beberapa waktu yang lalu.”

“Kali ini aku coba dengar.”

“Kamu pernah mengatakan seperti ini sebelumnya.”

“Kali ini berbeda.”

“Berulang kali juga aku sudah mendengar yang seperti ini.”

“Ahh terserah, jangan buat aku berubah pikiran.”

“Aku sudah terlanjur kamu buat bete.”

“Realy?”

“Yes dear.”

“Aku bahkan ingin semua ini selesai.”

“Secepat itukah?

“Menurut kamu aku betah dengan semua ini?”

“Menurut kamu aku betah?”

“Terus?”

“Kamu mau mengakhiri semuanya?”

“Entahlah, kamu yang memulai.”

“Kok aku? Bukankah semua terjadi begitu saja.”

“Begitu saja?”

“Kan kamu yang menj….

Iya halo

Kamu dimana?

Aku masih dikampus

Aku tahu kamu bohong

Jangan memulai deh yaa, aku ga suka

Aku ga memulai, hanya ingin tahu kamu dimana

Iya aku dikampus

Ahh, masih aja sama

Kamu mau apa sih?

Enggak ada, hanya kangen

Yaudah temuin aku

Aku belom bisa pulang, mungkin akhir bulan nanti

Bulan kemarin juga bilang begitu

Tapi kan emang beneran aku ga bisa

Iya dan bodohnya aku percaya

Jadi kamu bilang aku pembohong?

Aku ga pernah bilang seperti itu

Sudahlah

Yaudah kamu kan selalu sibuk, bahkan tak pernah sempat untuk menghubungiku

Ini aku hubungi kamu

Hanya say hallo kan. Selalu seperti itu

Aku kan sibuk, sayang. Ini buat kita berdua. Kelak

Semua pria selalu berjanji seperti itu

Dan kamu menyamakan aku dengan pria itu?

Hmmmm….maybe

Aku diam aja deh

Yaudah tutup aja teleponnya

Aku ga mau

Udahlah aku capek dengan semua kepastian yang kamu beri

Jangan seperti itu. Ini kan janji kita

Ohh yaa? Aku bahkan hampir lupa

Nanti kita bahas lagi deh, bosku memanggil

Tuuut….tuuuut…tuuuuut

Ahh sial!!!

“Andi ya?”

“Iya.”

“Aku cemburu.”

“Kok bisa?”

“Kamu emang ga pernah dengerin aku yaa, udah berapa kali aku jelaskan.”

“Iya aku emang ga pernah mendengarkan kamu. Bukankah kita hanya sementara?”

“Itu menurutmu.”

“Terserahlah.”

“Maaf, aku hanya sedang kesepian. Itu alasan kenapa aku butuh kamu. Rin.”

“Hahaha. Sudahlah, memang sudah nasibku untuk dikecewakan.”

“Ga begitu Rin.”

“Terus?”

“Sudahlah, aku malas membahasnya.”

“Aku nyaman sama kamu. Aku mencintai kamu.”

***

sini dekap aku Di, kamu pasti berantem lagi sama Nita yaa.

seperti bisa Ron. Dia terlalu egois

Cerpen [7]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s