Cerpen [5]

Aku baru saja tiba di Ranu Pane. Menjatuhkan carier ku beserta tubuhku diatas tanah. Memandang penuh pesona pemandangan didepanku. Aku terkagum, sejenak lelahku hilang, perjalanan panjang dari Jakarta seolah terbayarkan semua disini. Semilir angin berkali-kali menjelajahiku, aku mencoba tak berkedip. Tak ingin melewatkan sedetikpun karya Tuhan yang begitu indah. Kakiku tak sabar ingin menari-nari diatasnya. Mungkin besok saja. Aku masih ingin menikmati pemandangan disini. Semua sibuk menyiapkan tenda, beberapa wanita menyiapkan makanan dan memasak air untuk sekedar mengganjal perut dan menghangatkan badan. Disini begitu dingin, mungkin kita akan kelaparan ditengah malam.

“Malam ini kita semua istirahat, ga ada deadline kapan sampai puncak. Yang penting kita semua bisa sampai diatas. Ini baru diawal. Masih panjang perjalanan kita. Besok siang kita berangkat lagi.”

Aku kedinginan, tak konsen mendengarkan arahan dari ketua mapala. Padahal jaketku sudah dobel 3. Mungkin aku mengenakan yang paling tebal dari yang lainnya. Atau aku sakit. Hariku masih panjang disini, tak mungkin aku menghabiskan waktuku ditenda, menanti rombongan lainnya tiba dan membagikan cerita mereka saat dipuncak. Aku kuat, aku harus sampai puncak. Batinku

***

Dia begitu cantik, rambut panjangnya dibiarkan terurai oleh angin. Matanya memancarkan birahi, tatapannya tajam. Membuat setiap lelaki yang memandangnya tak ingin berpaling, bahkan berkedip. Aku tak pernah melihatnya di mapala kampus, bahkan sepanjang perjalanan dari Jakarta aku tak melihatnya. Mungkin dia terpisah oleh kelompoknya. Pikirku

Semenit, dua menit, lima belas menit. Aku masih tak bosan memandangnya. Berada ditengah-tengah kelompok wanita lainnya. Tak ada yang memperhatikannya kecuali aku. Mungkin tak ada yang bisa melihat kecantikannya secara menyeluruh digelapnya malam ini selain aku. Sejenak aku berfantasi, mengenalnya lebih jauh. Bermain dengannya untuk beberapa waktu. Menghabiskan semangkuk mie instan ditengah-tengah dinginnya udara Ranu Pane. Ahh. Itu hanyalah khayalan, dapat memandangnya malam ini juga sudah membuat batinku bahagia, besok dia pasti pergi, menyusul temannya yang terlebih dahulu berjalan keatas.

***

Aku mencoba memejamkan mataku, terlalu dingin disini. Lampu petromax didalam tendaku tak mungkin cukup untuk menghangatkan 5 orang. Apalagi api unggun yang semakin mengecil.

*deg*

Aku mengucek kucek kedua mataku. Api unggun diluar tenda membuat bayangan seorang wanita nampak jelas dari dalam sini, angin yang berhembus kencang sesekali, menghamburkan bayangannya. Rambutnya panjang, terlihat jelas sekali. Mungkin salah satu dari kelompok kami tak bisa tidur, sama sepertiku. Tapi mengapa ia sendirian? Seorang wanita, dengan udara yang begitu dingin diluar. Batinku bertanya-tanya.

Sebentar saja, kami sudah terlihat akrab. Karina. Namanya begitu khas. Banyak yang ia ceritakan kepadaku. Aku terus menatap wajahnya, ia mungkin tak sadar, sedaritadi berbicara tanpa menghadapku, mungkin malu. Atau mungkin ingin menikmati alunan api unggun yang menggeliuk mengikuti irama angin. Benar dugaanku, dia tertinggal oleh kelompoknya. Bukannya tak tahu arah, tapi memang hanya sedang ingin menikmati suasana disini sendirian. Karina sering kesini, hanya untuk menikmati udaranya. Udara yang tak pernah didapatkan dikota-kota besar seperti Jakarta. Tempatku tinggal.

Seorang gadis desa, mencoba menggelitik hatiku dengan beberapa obrolan-obrolan yang tak terasa membuatku semakin mengantuk. Udara semakin dingin, jam tanganku berembun. Aku tak tahu sekarang jam berapa. Mungkin pagi sebentar lagi menjelang. Dia meraih tanganku kali ini. Sepertinya kedinginan, atau ingin menghangatkanku? Dia tahu aku kedinginan. Sepertinya. Mengajakku berdiri, berjalan menjauhi api unggun yang sebentar lagi menghilang. Beberapa percikan bara api mulai beterbangan, menjadi abu. Hilang begitu saja digelapnya malam. Masih menggenggam erat tanganku, berjalan kearah danau.

“Dingin itu dilawan dengan dingin, pasti nanti jadi hangat” ucapnya pelan sambil mencelupkan kakinya ke danau. Aku tak yakin dengan ucapannya. Namun dia sangat meyakinkanku, tatapan matanya membuatku sejenak terhipnotis. Kami menghabiskan beberapa jam, cukup basah dengan beberapa cipratan-cipratan air yang sengaja ia tujukan kepadaku. Senyumannya, tatapannya, rambutnya yang terurai-urai oleh angin. Wanita disampingku ini begitu cantik. Sempurna, alami, dan bahkan mungkin tak pernah tersentuh tangan lelaki manapun. Dia gadis desa, begitu polos. Itu yang membuatnya begitu cantik.

Kali ini aku tak tahu akan dibawanya kemana, tangannya masih menggenggam erat tanganku. Karina. Aku terhipnotis oleh kecantikanmu. Tak ingin malam ini cepat berakhir rasanya. Berjalan perlahan, hanya aku berdua yang belum tidur. Tak adalagi tanda-tanda manusia yang sekedar menikmati angin malam didepan api unggun, atau sekedar menyantap mie instan karna kelaparan. Semua mungkin kelelahan.

Tempat ini sepi, tak ada tenda selain tenda milik Karina disini. Api unggunnya juga masih menyala dengan gagah. Masih baru sepertinya. Tapi siapa yang menghidupkannya? Tak ada orang lain disini. Ahh entahlah. Dia mengajakku masuk kedalam tenda, didalam lebih hangat katanya. Masih menggenggam tanganku, sepertinya tak ingin melepaskannya sedetikpun. Benar. Begitu hangat didalam sini. Dia melepas sweater merah yang ia kenakan. Mengikat rambutnya. Kemudian meraih tanganku lagi. Aku bisa mendengar nafasnya. Begitu sunyi disini, bahkan detak jantungnya bisa kudengar baik-baik ketika bersandar didadaku. Aku melepaskan jaketku. Sudah begitu hangat disini. Menjadikannya selimut untukku berdua. Malam ini aku begitu hangat. Hangat oleh cintanya. Tenda ini begitu luas, gerakan-gerakan kecil hingga besar yang kulakukan bersamanya mungkin tak membuat tenda ini nampak bergoyang dari luar. Lampu petromax yang sedaritadi telah dimatikan juga tak bisa membuat orang diluar tenda dapat menerawang kedalam. Matanya begitu menggoda birahiku. Aku menghabiskan malam ini bersamanya. Aku begitu mencintainya malam ini. Tak dapat kuungkapkan. Begitu hangat. Hingga akhirnya aku bisa terlelap.

***

Rumah Sakit Jiwa

“Gimana keadaan Raka tante?”

“Masih belum ada perubahan. Setiap hari selalu menceritakan Karina. Ceritanya selalu sama.” Ucap bundanya Raka mencoba menahan kesedihannya. Kelopak matanya sedikit menghitam, kurang tidur sepertinya. Selalu terjaga menemani anak kesayangannya itu.

“Kemarin kita kembali kesana, tanya warga sekitar tentang Karina. Banyak cerita tentang wanita itu. Ada yang mengatakan ia gadis yang diperkosa oleh teman-teman sesama mapala dan kemudian dibunuh. Ada juga yang bilang gadis itu gila karena kekasihnya menghilang di sekitar Ranu Pane. Banyak cerita tentang Karina.”

***

Mereka bilang aku gila. Entahlah. Aku ingat jelas, merasakan setiap kehangatan sentuhan bibir lembut Karina. Menikmati setiap alunan desahannya. Malam itu tubuhnya begitu indah, api unggun itu saksinya. Aku tak gila. Merekalah yang tak pernah percaya ceritaku. Karina. Ranu Pane. Batinku berbisik.

***

Cerpen [5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s