Cerpen [4]

Sepuluh…sembilan…delapan…tujuh…enam…lima…

Hatiku begitu senang, tak dapat diungkapkan, mungkin kupercepat saja hitungannya

Empat..tiga..dua..satu..

Aku membuka mataku perlahan, masih gelap didalam selimut, juga lampu kamar yang memang setiap malam selalu dimatikan.

“Tak ada apapun” batinku

Mungkin terlalu cepat aku menghitung, perlahan aku menutupkan mataku lagi. Menghitung mundur dari sepuluh, kali ini sesuai dengan jalannya detik. Terdengar jelas dentangnya dikamarku yang sepi.

Sepuluh….sembilan….delapan…tujuh….enam….lima….empat…. Aku mulai tak sabar, sesuatu akan terjadi sebentar lagi, hatiku tertawa senang, jantungku berdegup kencang….tiga….dua….satu….

Kali ini aku tak membuka mataku, pasti ada yang menarik selimutku, menyalakan lampu. Kamar ini penuh dengan belasan orang. Aku terlalu senang, aku menunggu itu terjadi. Belasan, puluhan, ratusan detik terlewati. Kali ini aku mulai mengantuk. Perasaan senangku semakin surut. Hatiku berkecamuk. Mataku masih terpejam. Mungkin mereka menungguku. Pikirku.

Aku terlalu senang, tak ingin perasaan ini menjadi kecewa. Terlalu banyak kekecewaan yang kudapatkan. Tidak kali ini, aku ingin bahagia hari ini, tertawa bersama orang yang kusayang. Mereka pasti yang menungguku. Itu yang selalu terngiang dipikiranku. Aku membuka mataku, menarik selimutku. Sejenak menatap jam dinding yang masih terdengar jelas dentangnya. Baru lewat 5 menit. Aku menghela nafas panjang, menghembuskannya pelan. Menyalakan lampu kamar, memperhatikan sekitar. Siapa tau ada yang keluar dari balik lemari atau muncul dari bawah tempat tidurku. Aku tak boleh kecewa, masih banyak kemungkinan. Lagipula kejutan tak selalu harus kuketahui. Dan bahkan bisa lebih indah dari yang kuharapkan.

Aku membuka pintu kamarku pelan, masih melihat kebelakang. Tak ada satupun orang yang kulihat, berjalan pelan dari lantai 2 yang cukup gelap. Masih memperhatikan sekitar. Lampu ini mungkin saja menyala tiba-tiba. Aku menjaga kebahagianku kali ini, berjalan santai sambil bersiul pelan, sesekali melompat-lompat bahagia. Sesuatu yang kuharapkan akan terjadi hari ini, malam ini, aku bisa merasakannya. Batinku berkata begitu.

Aku turun dari lantai dua, sengaja tak menggunakan sendal. Tak ingin yang lain tahu aku melangkahkan kakiku dianak tangga. Satu persatu. Mereka pasti keluar dari ruangan dibawah tangga setelah aku menginjakkan anak tangga yang terakhir. Pasti.

Aku berpura-pura tak tahu kali ini, pergi kedapur, sekededar untuk mengambil minum. Sengaja membelakangi tangga. Membiarkan lampu tetap mati. Gelap. Semua ruangan gelap. Hanya beberapa perangkat penangkap serangga yang lampunya menyala, itupun terletak disetiap sudut ruangan. Meneguk segelas air dingin, dalam hati masih menghitung, bisa saja mereka muncul dihitungan ketiga, empat, lima, atau bahkan sepuluh. Selalu kuulang. Dan masih sama, tak ada sedikitpun yang menyalakan lampu ruangan ini.

Entahlah, kesenangan ini mulai perlahan surut. Aku terlalu banyak berharap, berkhayal yang tak mungkin tepatnya. Harapan ini membuatku lemah, dengan langkah pelan aku menuju kamar ayahku, mungkin mereka disana, sengaja menantiku yang menemui mereka. Ini harapan terakhirku, tak tau bagaimana perasaanku jika ternyata memang tak pernah seperti yang kuharapkan. Aku tak mau berhitung, sudah ratusan, mungkin ribuan aku menghitung. Kali ini tak ada perasaan deg-degan. Jantungku berdetak seperti biasa. Perlahan kuraih gagang pintu, kuhentakan kebawah. Mendorongnya perlahan. Gelap. Tak ada siapapun, tak ada yang menyambutku.

Sepuluh….sembilan….delapan….tujuh….enam….menarik nafasku, tak menghembuskannya hingga hitungan terakhir. Menatap wajah ayah dan ibuku yang tertidur lelap. Mungkin mereka asik bermain-main dalam mimpinya. Atau mungkin tak pernah ingat ini hari ulang tahunku. Aku berhenti berharap, untuk kesekian kali aku kecewa. Bahkan diulang tahunku yang ke 17 tahun, tak ada seorangpun yang memberikan surprise. Untuk sekedar mengecup keningku pun tidak. Benar, mungkin mereka lupa. Lupa aku adalah anaknya, lupa aku pernah ada di bagian dalam hidup mereka, bagian dari keluarga, lupa tentang diriku.

Aku mencium kedua kening mereka, memeluknya sejenak. Sebelum berjalan keluar, melakukan hal yang sama dikamar adikku. Mencium keningnya, dan memeluknya sebelum akhirnya kembali kekamarku. Duduk sejenak. Menatap foto keluarga yang masih berdiri tegak diatas meja belajarku. Tak ada yang pernah lagi kesini, untuk sekedar memandangi kenangan ini. Mereka melupakanku, sepertinya sengaja.

Sepuluh…sembilan…delapan…tujuh…enam…Air mataku menetes kali ini, tak pernah berbeda dengan sebelumnya. Kecewa. Aku selalu menanti kekecewaan. Setiap tahun aku selalu kembali, datang dengan sejuta harapan, kembali dengan kekecewaan. Selalu terulang. Mungkin inilah cara Tuhan membahagiakanku. Dengan kecewa.

***

Suasana pagi ini masih sunyi. Semua masih sibuk dengan sarapannya masing-masing. Belum ada yang membuka percakapan. Berfantasi dalam pikirannya masing-masing. Bingung ingin memulai darimana.

“Semalam aku mimpi kakak nyium kening aku terus meluk aku, pa, ma” Ryan mencoba mencairkan suasana, matanya berkaca-kaca. Ingin menumpahkan air mata.

“Mama juga mimpi itu nak” ibunya membalas, mencoba menahan sedihnya

“Papa juga, nanti sehabis sarapan, kita ke pemakamannya ya. Kita ucapin ulang tahun buat kakak. Usia dia sekarang 17 tahun, seharusnya. Sayang Tuhan punya rencana lain” ayahnya mencoba menenangkan suasana.

“Apa mungkin semalam dia kesini?” Ucap Ryan yakin. Kemudian menatap tajam ayah dan ibunya.

“Mungkin, tapi pasti dia sudah bahagia disurga. Banyak kado yang indah disana, lebih indah dari yang kita berikan untuknya.” Ayahnya menjawab, masih sambil menghabiskan sarapan, berusaha untuk tetap tenang.

Semua terdiam, menghabiskan sarapan masing-masing dan kemudian meninggalkan meja makan tanpa seuntai kalimat. Bergegas untuk segera kepemakaman.

***

“Mau sampai kapan ma terus menyiapkan kado terus kemudian disimpan dalam lemari ini?”

“Sampai kita tak pernah lagi bisa memberikan kado, dan ketika saat itu tiba. Kita udah bersama lagi. Disurga”

“Ini tanda, bahwa kita tak pernah melupakannya, meskipun ia tak pernah tahu kita selalu menyiapkan kado untuknya. Setiap tahun. Disini”

mama meletakkan kado untuk almarhum anaknya dilemari. Lemari pakaian yang penuh dengan tumpukkan kado, begitu harum, selalu terawat. Tahun demi tahun mereka tak pernah melupakan ulang tahun untuk Farlan, bagian dari keluarga mereka yang terlebih dahulu mencapai surga. Ada belasan kado. Semua untuk Farlan, hanya saja ia tak pernah kembali. Hanya untuk mengenang, bahwa keluarga ini tak pernah melupakannya. Ia masih jadi bagian dalam keluarga, mungkin sekarang ia hanyalah bagian kecil dari puzzle yang hilang. Tapi mereka percaya, potongan-potongan puzzle itu akan kembali menyatu. Ditempat yang berbeda. Surga

***

Cerpen [4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s