Cerpen [3]

Begitu berisik disini, khayalanku berhamburan, jari-jariku berhenti menari diatas keyboard, suara beberapa orang pria dewasa seketika memenuhi ruangan yang sedaritadi hanya menyisakan aku dan beberapa barista. Aku mencoba untuk mengintip sejenak raut wajah seperti apa yang membuat gaduh ruangan kecil dengan beberapa meja untuk para pencari ketenangan menghabiskan waktu sambil mnyeruput kopinya menanti kafe ini tutup.

Tiga, empat, lima, delapan, satu persatu lelaki dewasa dengan rambut gondrong penuh brewok serta tato disekeliling lengan besar mereka masuk memenuhi ruangan, duduk tak jauh dari spot favoritku setiap malam. Mungkin hanya selang dua meja yang masing-masing berjarak satu sampi dua meter.

Seperti biasa, aku selalu ke kafe ini dua jam sebelum tutup, menghabiskan secangkir latte, duduk di sudut ruangan, menghamparkan pandangan jauh kedalam khayalanku, mengayunkan kari jemari diatas keyboard. Rutinitas harian yang selalu kulakukan tanpa pernah absen, bahkan semua baristanya menyambutku dengan hangat dan memaklumi kebiasaanku untuk datang sebagai pengunjung terakhir.

Pandanganku masih tertuju kearah layar laptopku. Begitu jelas, salah seorang dari rombongan itu memperhatikanku. Jariku gemetar, hatiku bergemuruh, batinku berkali-kali berteriak menyuruhku meninggalkan ruangan, kaki ku membeku. Aku yakin sekali lelaki itu memperhatikanku baik-baik.

Mari aku kali ini. Seperti biasa aku selalu seperti ini. Mengenakan tangtop berwarna cerah berpasangan dengan hotpants. Cukup untuk mengundang beberapa pasang mata nakal bermain-main dalam fantasi mereka.

Aku mencoba menghubungi Reno, teman baikku sekaligus teman satu kantorku. Berkali-kali nomornya tidak aktif. “SHIT” ucapku pelan sambil membereskan laptop dan pindah ke meja yang lebih jauh dari rombongan itu. Aku tak bisa pulang sekarang, hujan begitu deras.

Kali ini befgitu tenang, aku tak melihat lagi pria berbadan besar dengan tato penuh diseluruh lengan dan lehernya yang daritadi memperhatikanku, mungkin dia juga tak dapat memperhatikanku kali ini.

Aku menarik nafas panjang, berkali menghembuskannya. Membuat pundakku naik-turun bak sehabis maraton. Mataku terbesit kearah para barista yang tengah beres-beres sebelum mereka mentup kafe ini, pemandangan yang selalu kulihat setiap hari. Mungkin aku hafal urutan-urutan yang mereka lakukan setiap malam. Suasana mulai sepi, kembali seperti saat aku memasuki ruangan ini. Mungkin rombongan tadi telah kehabisan kata-kata untuk dibahas, sebentar lagi pasti pulang. Pikirku.

Dan ternata benar, aku mendengar banyak langkah. Mereka keluar bersamaan. Aku lega. Sekitar lima belas atau dua puluh menit setelah mereka pergi, aku akan bergegas. Hujan telah reda. Aku memejamkan mata sebentar, menghembuskan nafas panjang. Reno masih belum dapat dihubungi, entahlah, tak biasanya dia tidur jam segini.

***

“Dapat !!! Cepat ikat, tutup mulutnya dengan kain, telat sedikit bisa mampus kita”

“Aku telpon bos, memastikan ini yang ia cari”

Aku tak bisa bergerak. Seluruh tubuhku seperti tertindih badan besar. Semua gelap. Aku tak percaya ini nyata, semua seperti yang pernah kutonton disinetron dan biasanya itu hanyalah fiktif, tak pernah ada di kehidupan nyata. Semua sakitnya nyata ketika aku menggigit bibirku. Dimana aku? Siapa semua ini?

Aku bisa merasakan bagian tumpul dari besi itu berjalan mengitari leherku. “ITU PISAU” batinku berteriak, aku tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa tangan mencoba mengitari bagian-bagian tubuhku. Aku lemas, hanya bisa pasrah. Bahkan tangisanku tak sedikitpun terdengar dari mulutku yang terikat rapat. Mataku masih tak dapat melihat apapun yang terjadi. Kali ini bagian tajam dari benda yang mengitari leherku mulai dapat kurasakan.

***

“DAMN!!!!”

Aku mendengarnya berteriak, mungkin baru bangun dari mimpinya. Aku meraih kembali laptopku, mencoba untuk terlihat sibuk dengan mengayunkannya diatas keybord. Dan tanganku yang lain menyelinap dibalik bantal menyembunyikan pisau yang baru saja kuambil. Kali ini aku gagal lagi.

***

Cerpen [3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s