Cerpen [1]

Bona masih asik dengan lamunannya. 2 orang didepannya membuat ia tak sengaja mendengar percakapan mereka. Begitu asik, tak memperhatikan sekeliling yang sedari tadi menatap dengan sinis. Obrolan kecil diiringi tawa dan canda mereka layaknya sebuah alunan musik yang menemani Bona untuk melamun lebih dalam lagi.

Tertawa dengan beberapa obrolan sampah? Aneh Ucap Bona dalam hati.

Yaa… Bona telah lama sendiri, ratusan detik, ribuan menit, bahkan sejak ia masih didalam kandungan hingga akhirnya ibunya meninggal ketika melahirkan Bona.

Sepi, sepi yang selalu menemani Bona, sepi yang membuatnya menjadi mandiri hingga saat ini. Bisa dihitung hanya belasan kali ia bersama dengan teman-temannya, itupun tanpa berbagi cerita ataupun sekedar melepas tawa. Bona dikenal hanya berbicara seperlunya, itupun kalau menurutnya sangat mendesak untuk diucapkan. Temannya mengenal Bona memang suka menyendiri, tak ada yang berani untuk mendekati Bona. Mungkin hanya binatang. Kucing kecil yang mengeong penuh harap berharap diberikan makanan oleh Bona, atau bahkan tikus yang bolak balik melewati kardus yang digunakan oleh Bona sebagai alas tidur setiap malam.

Bona… beberapa orang hanya memperhatikan dia dengan tatapan sinis, bahkan kebanyakan orang tak suka untuk memandangnya, lebih memilih membuang muka sebelum akhirnya ia lewat dihadapan mereka.

Bona tak pernah peduli dengan kehidupannya. Tak perduli hari ini bisa makan atau tidak, tak perduli hari ini bisa bahagia atau tidak, bisa tersenyum melihat orang yang bahagia atau tidak bahkan tak perduli matahari terbit maupun terbenam. Baginya menikmati udara yang diberikan Tuhan olehnya sudah lebih dari cukup. Kesepian adalah bonus yang diberikan Tuhan kepadanya. Bona bahagia dengan sepinya, tertawa dengan kesendiriannya, tak ada yang lebih membuatnya nyaman selain sepi.

Pernah sesekali Bona membayangkan hal yang tak pernah ingin ia bayangkan. Keluarga. Iya keluarga. Sejak lahir bona tak pernah tahu siapa kedua orang tuanya. Saat kecil, Bona sering menangis ketika melihat anak kecil yang bersama 2 orang dewasa, mereka tertawa lepas. Sampai akhirnya ia mengerti kalau itulah yang disebut ayah dan ibu. Ibunya telah lama meninggal, dan ayahnya tak tahu bagaimana wujudnya. Mungkin telah meninggal, atau mungkin ia tak memang tak ingin mengetahui bahwa Bona adalah anaknya. Ia menutup rapat dan bahkan mencoba untuk tidak pernah membayangkan hal itu meskipun terkadang beberapa anak kecil yang lewat bersama keluarganya membuat Bona teringat kembali.

Bona terkadang merasa jijik dengan dirinya. Ia tak pernah mau untuk bercermin sekedar memandang kecantikan seperti layaknya wanita lain. Ia menyesal pernah ada didunia. Dunia yang tak berarti untuknya

Beberapa kali ia mencoba menemukan apa itu kebahagiaan, beberapa kali juga ia tak paham arti kebahagiaan. Rasanya terlalu haram untuk mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan tidak pernah menjumpainya, bahkan untuk sekedar menegurnya, kebahagiaan mungkin terlalu jijik kepada dirinya. Dan sekarang ia takut untuk menjumpai kebahagiaan, Bona merasa terlalu takut baginya untuk tertawa.

Ahh….bodohnya gue, hal bodoh apa yang barusan ada dipikiran gue.

60 detik yang berarti sekaligus memberikan penyesalan buat Bona telah berakhir. Tak ada percakapan 2 orang menjijikkan yang sedaritadi tak memperhatikan Bona. Datang begitu saja dan pergi begitu saja. Khayalan bodoh seketika melintas dipikirannya.

“heh goblok !!!!!” suara yang begitu memekakkan telinga yang mendengarnya sekita terdengar dan begitu menyakitkan buat Bona

“kalo elo bengong begitu, gimana lo mau dapet duit goblok !!!!” tambahnya lagi

Bona berusaha tak memandangnya, menjaga air matanya tak jatuh dari kelopak matanya yang mulai menghitam. Baginya telah terlalu lama ia memendam rasa dendam, hingga ia tak pernah mau untuk menatap Roy. Roy adalah preman yang selama ini menghidupi dan menjadi bos untuk Bona. Dia yang membuat Bona kesepian, dia yang membuat Bona tak memiliki perasaan. Gelap dan hampa. Dia yang merusak hidup Bona, menjauhkannya dari masa depan.

“heh goblok” tegasnya sambil menjambak rambut Bona dan kemudian melempar botol bir hingga membuka kembali luka dimatanya yang baru saja beberapa hari sembuh.

Bona hanya terdiam, baginya luka dihati dan fisiknya telah terlalu sakit untuk diucapkan. Tekanan fisik dan batin setiap hari ia dapatkan. Hamper tak ada senyuman dihari-hari nya. Hanya luka dan dendam yang amat mendalam.

Pernah suatu ketika ia mencoba untuk membunuh Roy dengan menggunakan botol bir yang dia gunakan untuk memukuli Bona, namun kepalanya terlalu sakit dan ia pingsan.

“lo pikir yang bikin lo kayak sekarang siapa? Yang ngasih makan lo selama ini siapa?” teriak Roy didepan muka Bona. Bau bir tercium pekat dari mulutnya, teriakannya memekakkan telinga Bona yang saat itu tengah menahan sakit dimatanya

Bona memejam. Malam kali ini tiba dengan begitu cepat, matahari seolah enggan untuk melihat Bona. Sore hari itu tampak begitu gelap. Tangan Bona berlumur darah. Berjalan santai bak orang mabuk, tak sedikitpun menatap bajingan yang telah menghancurkan hidupnya selama ini, meninggalkannya seolah seperti tikus yang baru saja terlindas. Belasan tahun bahkan hampir terhitung puluhan tahun ia menyimpan dendam untuk bajingan itu.

Bona menghilang dibalik kegelapan malam, meninggalkan tempat yang selama ini menghancurkan hidupnya.

Cerpen [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s