Cerpen [2]

Semua terlihat jelas disini

Dia menatap lekat-lekat pohon besar didepannya. Tak berubah. Masih sama seperti 10 tahun lalu. Mungkin usianya puluhan, ratusan atau bahkan ribuan tahun.

“sudah tua, semakin kokoh yaa” lelaki itu berbisik sambil mengelus badan pohon yang nampak usang termakan oleh usia.

Goresan-goresan di punggung pohon nampak jelas menjadi kenangan di tubuhnya, menyimpan jutaan memori yang takkan pernah hilang. Ranting-ranting pohon yang semakin tua dan membesar seolah menunggu dan terus menanti orang-orang yang pernah bermain diatasnya. Kembali

Kamu kembali, disaat aku tak pernah menunggumu lagi.

***

10 tahun lalu

Beberapa pasang mata tengah asik bermain dibawah pohon akasia. Ayunan dan beberapa perosotan menjadi wahana yang menarik  bagi beberapa anak kecil yang bermain diatasnya, mungkin bak kora-kora atau alap-alap bagi mereka. Saung-saung yang sengaja dibuat sebagai penghias taman itu juga menjadi tempat yang menarik bagi beberapa remaja yang baru pulang sekolah untuk sekedar melepas penat ataupun mengerjakan tugas diatas sana. Beberapa gerobak jualan juga menghiasi pemandangan ditempat ini, menjadikannya sebagai objek wisata dadakan siang hari.

Aku masih asik memandangi langit yang saat itu mendung, hembusan angin berkali memeluk dan melepaskanku bergantian. Aku masih duduk diatas motor. Beberapa temanku sudah lebih dulu mencari tempat disalah satu saung yang tersedia disana sambil membawa plastik-plastik berisi camilan yang kami beli seusai pulang sekolah tadi. Aku menatap lekat anak-anak kecil yang tengah disuapi makan oleh ibunya, sebelum akhirnya aku melemparkan pandanganku ke beberapa rombongan gadis yang baru saja sampai ditaman ini. Salah satu dari mereka terlihat begitu berhacaya dimataku. Indah. Rambutnya bergelombang, menjadi tempat asik bagi semilir angin untuk bermain-main disekitarnya. Berjalan sambil tersenyum kearah tempat temanku singgah tanpa sadar sejak tadi aku memperhatikannya, melukisnya, mengabadikannya didalam benakku.

“boleh kita duduk disini? mau ngerjain tugas.”

“boleh kok”

***

Saat itu. aku menatapnya dalam, beberapa kali mencuri pandang. Dia sempurna, wajahnya bersih, bahkan debu pun enggan untuk hinggap diwajahnya. Agak sedikit jauh dari teman-temannya, mungkin ingin menyendiri, memandangi beberapa pasang mata manusia yang ada disini. Sesekali senyumannya menghiasi wajahnya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya, angin membawanya ketelingaku, membisikkanku, aku bisa mendengar hembusannya. Tak jarang ia membalikkan badannya yang membelakangiku dan mencoba menatapku namun membuang kembali wajahnya, menghamparkannya jauh, aku bisa merasakan itu. Mungkin dia memikirkanku. Mencoba untuk memikirkan beberapa patah kata untuk sekedar membuka beberapa percakapan kecil denganku. Aku tersenyum

***

Kita selalu kembali, setiap detik, menit, jam, hari. Selalu kita habiskan disini. Untuk sekedar menyeruput teh yang sengaja kau bawa dari rumah sembari menghabiskan camilan yang kita beli sebelum beranjak kesini. Menunggu senja tiba, menemani matahari hingga kembali keranjangnya. Menatap langit sore. Melihat burung-burung gereja bermain diatas taman mencoba untuk mendekati manusia dan kemudian terbang lagi karena dikejar-kejar anak kecil. Mendengarkan suara jangkrik yang masih malu-malu ditengah-tengah jeritan kelelawar yang baru bangun dari tidur panjangnya.

Masih disini, kita memulai rindu dan menciptakan rindu disini. Menunggu malam panjang, menyambut pagi hingga akhirnya sore mempertemukan kita. Dibawah pohon ini, masih selalu disini.

Melantunkan beberapa lagu diiringi petikan-petikan gitar yang kadang kubawa untuk menemani senja kita, sesekali tertawa saat mencoba mengucapkan janji-janji yang saat itu kupikir tak mungkin terjadi. Menuliskan beberapa bait puisi tentang aku, kamu, bahkan senja. Banyak hal yang kita lalui dibawah pohon ini, mungkin semua itu hanya abadi didalam pikiranku, abadi menjadi sebuah cerita utuh dibenakku. Menjadi cerita yang setiap malam kubayangkan, kubacakan bak dongeng sebelum tidur.

Malam itu, tertiba kamu mengajakku kesini, dibawah pohon ini. Kamu mengucapkan rindu, memberikan pelukan rindu, sedikit kecupan rindu masih bisa kurasakan hingga kini. Kamu pergi, 10 tahun kemudian kamu akan kembali, ketempat ini, tempat dimana aku berdiri, menatap lekat pohon tua yang ada didepanku, mengurai semua kenangan yang telah kita ukir. Aku kembali saat ini, menunggumu hanya untuk melepaskan rindu, ribuan, atau bahkan jutaan rindu yang ingin kutumpahkan dipelukanmu.

“papaaa” seorang anak perempuan berusia 5 tahun berlari meniupkan gelembung-gelembung sabun ketempat ayahnya, dibawah pohon yang berjarak 500 meter.

“papa ngapain disitu sendirian?” tanya anak itu polos, ayahnya mencoba tersenyum kearahnya.

“ga ngapa-ngapain kok. Cuma nyari yang hilang”

“apa pa?”

“bukan apa-apa. yuuk ke mama, kasian mama daritadi nunggu lama.”

Aku berjalan meninggalkan pohon itu, meninggalkan kenangan, bahkan melupakannya untuk selamanya. Kamu mungkin tak akan pernah kembali, tak seperti janji yang kamu ucapkan malam 10 tahun lalu itu. Menyayunkan tangan yang digenggam erat oleh anak perempuanku, menyambut senja, senja yang menyimpan jutaan rindu. Disini.

***

Aku masih disini, menatap lekat lelaki itu dan seorang anak perempuan yang sepertinya anaknya, entahlah. Aku masih menyimpan janjiku, erat didalam hati, tak ada yang bisa mencurinya, menghilangkannya dari dalam sini. Aku selalu disini, sebelum hari ini. bahkan setahun sebelum sampai saatnya hari ini tiba. Aku selalu memandang senja, mengingat rindu, selalu bertemankan suara canda dari beberapa kelelawar yang bangun dari tidurnya untuk menikmati senja yang indah, menari diudara bersama pasangannya. Saling membalas kicau yang terdengar seperti nyanyian rindu bagiku.

Senja menyimpan banyak cerita, aku selalu menghabiskannya disini. Setiap hari, setahun. Masih untuk hal yang sama. Menunggu kamu. Tapi kamu yang tak pernah kembali, kamu yang melupakan janjiku, janji kita. Semua tenggelam bersama matahari yang kembali keranjangnya. Tak pernah kembali.

Sejenak ingin meneteskan air mata. Tapi kurasa itu sia-sia, aku yang harus melupakanmu, aku yang harus melupakan semua kenangan yang selama ini kuulangi setiap malam, menjadikannya dongeng sebelum tidur untukku, cerita indah yang selalu kubacakan sebelum aku menutup mataku, sebelum akhirnya cerita itu muncul didalam mimpiku, abadi setiap malam. Tak pernah seharipun aku melewati cerita itu.

Lelaki itu menghilang seiiring matahari yang sedaritadi pulang keranjangnya, senyuman terakhir yang kulihat ketika menatap seorang wanita yang mungkin itu istrinya, begitu menyayat hatiku, menghapus semua rindu, terurai bersama air mata yang jatuh. Tempat mereka berdiri sebelum akhirnya pergi menjadi tempat bermain yang indah buat para kunang-kunang. Aku masih duduk diatas sini. Diatas pohon besar yang menyimpan sejuta rindu.

***

Cerpen [2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s