S.H.M.I.L.Y

Dear Kamu,

Pada akhirnya, semesta berpihak pada kita. Banyak lika-liku memang, tapi ini yang membuat kita sampai pada saat ini. Aku adalah lelaki seperti yang telah kamu ketahui saat ini. Aku adalah tukang modus yang bisa kapan saja membuatmu jatuh cinta, aku adalah pengagum kamu yang kapan saja bisa hadir tiba-tiba, dan aku adalah pemarah yang kapan saja bisa membuatmu takut. 

Terkadang, aku duduk sendiri menghabiskan secangkir kopi. Memainkan waktu, dan bercanda dengan memori-memori tentang kita. Ingat pertama kali kita saling jatuh cinta? Aku bahkan hampir lupa. Sekali saja waktu tidak mengijinkan kita bertemu, pasti aku lupa. 

Seperti yang pernah kukatakan, ribuan kali mungkin tak akan membuatmu bosan menanyakan perihal cintaku kepadamu, namun baru pertanyaan keratusan kali aku sudah mulai bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama darimu.

Suatu saat memang pasti akan tiba dimana aku bosan, aku jenuh, aku hambar dengan setiap kata-kata cinta yang selalu aku ucapkan setiap malam. Bagaimana dengan kamu? Kamu bilang setiap hari adalah waktu yang tepat untuk jatuh cinta, bukan?Hanya saja memang aku selalu dengan keegoisanku, membanding-bandingkan kamu dengan segala yang dimiliki semesta. Aku tahu pelangi memang indah, suara air bahkan begitu meneduhkan, atau fajar yang selalu terlihat cantik di setiap pagi. 

Sekarang aku belajar, menjadi sebuah sudut pandang lain disetiap harinya. Dan pada akhirnya aku melihatmu adalah bagian lain dari yang dimiliki semesta. Kamu adalah lebih dari sekedar bola pijar raksasa yang setiap hari jadi penuntun segala mata pencaharian. Tetapi bagiku kamu adalah kamu. Kamu ada disetiap penat, tawa, hingga sedih.

Tertanda,

Aku.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-30

S.H.M.I.L.Y

Gadis Mungil di Sudut Bar

Selamat pagi kamu yang ada di sudut bar, masih menikmati menyeduh kopi dan bahagia setelahnya?

Menyajikan secangkir nikmat dan menjelaskan tentang bahagia kepada siapapun yang menyapamu. Aku tidak mengatakan senyummu adalah candu, tapi aku pernah merasakan rindu akan senyummu. Berhari-hari.

Kamu tahu kenapa secangkir kopi hitam itu menyenangkan? Setidaknya cukup untuk menggantikan peluk bagi siapa-siapa yang tidak sanggup menahan lebih lama rindu.

Kepada kamu gadis di sudut bar,

Hari ini hujan, aku datang terlambat dan kamu telah kembali kepada pelukmu. Tetapi senyummu masih menyisakan sedikit kehangatan di sudut bar. Aku duduk ditempat biasa memesan secangkir kopi yang sama, hanya terasa berbeda tanpa senyumanmu.

Hari ini aku menyuratimu, baru sehari alpa tetapi rinduku sudah tidak karuan.

Tertanda,

Aku.

Gadis Mungil di Sudut Bar

Hari11

Sayang, maaf akan aku yang terlambat menyambut pagimu, aku kesiangan, terlalu lelap dalam rindu semalam.

Kamu apa kabar pagi ini? Sudah bahagia dengan secangkir kopi favoritmu? Aku pun baik-baik saja, sudah bermain-main dengan tumpukkan rindu yang baru dikepalaku.

Aku.

#30HariMenulisSuratCinta Hari11

Hari11

Dear Zenna

Dear Zenna,

Apa kabar? Hari ini aku tak alpa kan untuk mengirimimu surat? Meski akhir-akhir ini aku alpa memperhatikanmu, banyak tweetmu yang terlewat, tulisanmu juga tak seluruhnya aku baca hingga selesai. Tetapi setidaknya aku tidak melewati me-love setiap postingan-postinganmu di instagram. Aku memang sedang malas membaca dan berimajinasi.

Jaman berubah dengan cepat, mereka bahkan banyak yang tak mengenal siapa kamu, heran melihatku yang berkali-kali membuka blog atau instagrammu. Aku lelah jika harus menjelaskan siapa kamu, ya karena kamu Zenna Sabrina. Hehe

Aku tidak menuliskan ini sebagai surat cinta. Aku terlalu malu jika harus menyapamu setiap hari via linimasa. Siapa aku, bukan? Setidaknya, ini tahun ketiga aku menyapamu, dan aku masih belum lupa😉

Aku

#30HariMenulisSuratCinta Hari7

Dear Zenna

Hari6

Dikepalaku selalu terselip banyak ragu. Kita memang penuh liku, tapi kamu selalu menjawab semua adalah soal waktu. Aku bosan ketika harus selalu menunggu, dalam setiap rindu yang tak berujung temu.

Katamu, kita adalah satu. Tentang cinta yang kemudian hanyalah semu. Aku tidak menyalahkan kamu yang ternyata memilih aku, hanya saja aku menjadikan semuanya keruh.
Cukup !

Jangan terlalu serius denganku, bukankah kita baru bertemu?
Aku
#30HariMenulisSuratCinta Hari6

Hari6

Sayang, hari ini aku merindu. Baru dua hari tapi rasanya aku ingin menagih peluk, meski aku yang lebih banyak berhutang peluk kepadamu. Dalam hati aku mengutuk spasi yang menjadikan aku hampir gila. Kamu pasti pernah lebih dari ini, karena aku lebih memilih beralasan daripada menemuimu di akhir pekan.

Saat aku menulis surat ini, aku sedang menabung rindu. Tak tahu butuh berapa banyak untuk dapat menukarkannya dengan waktu.

 

Aku

#30HariMenulisSuratCinta hari5

 

Gadis Berpayung

Aku adalah barista yang bersembunyi dari balik mesin kopi, sesekali mencuri waktu untuk memandang kearahmu. Sepertinya kamu menangis? Ada apa? Kamu kesepian kah? Mengapa kamu tidak mencoba menyapaku? Aku dapat membuatkan lagi secangkir kopi yang lebih hangat daripada kopimu yang sudah terlanjur dingin sejak dua jam lalu.

Lalu duduk disebelahmu, menghabiskan waktu istirahatku untukmu adalah sebuah kehormatan, tetapi kamu lebih memilih menangis. Mengapa?

Teleponmu berdering, kamu sepertinya enggan untuk menjawab seseorang dari seberang sana.

Ketika itu hujan deras, kamu meneguk secangkir kopi yang terakhir kemudian pulang, berlari menembus hujan.

Aku berlari, mengejarmu dan memberikan payung. Mengulurkan tangan, berharap kamu membalas menyertai sebuah nama.

Tanpa menatapku, kamu berterima kasih dan berlari.

Sejak itu kamu tidak pernah datang kembali.

Kamu Ingat?

 

#30HariMenulisSuratCinta hari4

 

 

 

Gadis Berpayung