Acak

Langit boleh saja biru. Tetapi hati, siapa yang tau.

Akupun menari di dalam pikiran, awan-awan seolah berubah menjadi anak domba, melompat-lompat seakan aku akan menghitungnya.

Sajak-sajak fatamorgana seketika terdengar, kemudian menghilang hanya dalam satu kedipan.

Kamu mungkin tak pernah tau bahwa puisi yang kubuat itu pernah nyata, hanya saja tenggelam bersama nada-nada rindu yang kini tak ingin kusenandungkan lagi.

Apa kabar kamu? Ucapku yang tak pernah terucap, kini linimasa bukan tempat kita untuk saling berharap lagi.

Kata demi kata seolah menjadi jarak seperti pulau dan pulau yang entah kapan akan bertabrakan, ada banyak kalimat yang ingin tumpah dalam setiap waktu yang berubah-ubah dengan begitu cepatnya.

Aku ingin bersembunyi, jauh di di dalam semak-semak dalam pikiranku, tapi percuma jikalau kamu harus terus dapat menemukan dan menertawakanku seolah kita sedang bermain.

 

Aku tidak ingin kau cari. Bentakku.

Acak

untitled

Kepada kamu jelmaan semesta paling indah. Mungkin ini adalah puisi terakhir yang akan aku bacakan, tapi tidak dengan puisi yang akan aku tuliskan.

Kamu adalah keseluruhan ide-ide kegemaranku, jadi aku lebih menyukaimu tinggal dalam penaku.

Ingin sekali aku bermain-main di tengah samudra denganmu. Supaya aku dan kamu tenggelam dan tidak ditemukan atau hanyut ke dalam derasnya rindu. Dan kita akan pasrah membiarkannya menepi di ujung bahagia.

Aku adalah anak yang suka berkhayal. Malam ini aku tidak tidur sendirian, gerimis sedaritadi menatap dan menjagaku dari luar jendela kamarku memastikan aku nyenyak dan pulas ketika tidak diawasi olehmu.

Biarlah aku bermimpi tentangmu malam ini.

Ahh..tidak mau sayang, aku mau setiap hari.

Aku bermimpi sedang menulis puisi tentang jejak, ketika kita bukanlah dipisahkan oleh waktu lagi tetapi juga jarak.

Aku tidak mau membayangkan itu. Ketika kita saling melupakan hanya karena dipisahkan kilometer.

Suatu saat kamu akan jera mengingatku. Atau kamu akan lelah mendayung perahumu sendirian di dalam ombak rindu. Kau menujuku tapi aku seolah-olah menjauh.

Tidak oh…tidak sayang…Semua perasaanmu tentangku suatu saat adalah kepura-puraaanku.

Aku butuh jeda untuk bisa lepas dari dekapanmu.

Aku butuh menepi tapi lagi-lagi aku butuh menepi di bahumu. Aku butuh bersandar di pundakmu.

Sayang, pernahkah kamu mendengar cerita tentang dongeng ksatria?

Tidak…Sayang…tidak…Aku tidak ingin membandingkan kamu dengan ksatria dalam dongeng itu.

Kamu lebih hebat dalam memenangkan hatiku. Dan kamu lebih hebat soal membunuhku.

Tapi ini tidak sakit, sayang. Percayalah.

Aku hanya sedang mati dalam bahagia.

Jika aku harus membayangkan hari itu terjadi, aku seperti terkena reruntuhan langit.

Aku akan membiarkan diriku terluka oleh puing-puing semesta.

Tak ada gunanya mencariku lagi, sayang.

Aku sudah tergabung oleh debu, pasrah dibawa oleh angin ke dalam sisa-sisa aroma tubuhmu.

Tapi aku hanya bisa menemukan air mataku.

Kini aku harus menyeduh kopiku sendirian.

Aku akan biarkan kopiku sendiri hambar, biar ia merasakan bagaimana rasanya jadi aku tanpa kamu.

Hingga akhirnya kopiku tidak lagi ada di tubuhmu, tapi di tubuh puisi-puisi sedihku.

Biar sajak saja yang mengantar aku ke dalam mimpi buruk.

Aku bisa bahagia sendiri dengan merelakanmu bahagia.

untitled

Kamu Dan Puisimu — Dear……….

Untuk diriku sendiri yang sedang dalam keadaan lelah, mencoba menyingkirkan tugas tugas sekolah yang menghimpit sudut pikiran. Tapi ia datang lagi, tak mau hilang seperti bayanganmu yang mencoba menyusup pelan-pelan. Aku menyebut ini surat balasan yang pernah kamu buat dibeberapa linimasa. Aku mencoba memahami beberapa bahasamu. Sial aku jatuh cinta dengan kalimatmu. Bahkan aku candu […]

via Kamu Dan Puisimu — Dear……….

Kamu Dan Puisimu — Dear……….

S.H.M.I.L.Y

Dear Kamu,

Pada akhirnya, semesta berpihak pada kita. Banyak lika-liku memang, tapi ini yang membuat kita sampai pada saat ini. Aku adalah lelaki seperti yang telah kamu ketahui saat ini. Aku adalah tukang modus yang bisa kapan saja membuatmu jatuh cinta, aku adalah pengagum kamu yang kapan saja bisa hadir tiba-tiba, dan aku adalah pemarah yang kapan saja bisa membuatmu takut. 

Terkadang, aku duduk sendiri menghabiskan secangkir kopi. Memainkan waktu, dan bercanda dengan memori-memori tentang kita. Ingat pertama kali kita saling jatuh cinta? Aku bahkan hampir lupa. Sekali saja waktu tidak mengijinkan kita bertemu, pasti aku lupa. 

Seperti yang pernah kukatakan, ribuan kali mungkin tak akan membuatmu bosan menanyakan perihal cintaku kepadamu, namun baru pertanyaan keratusan kali aku sudah mulai bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama darimu.

Suatu saat memang pasti akan tiba dimana aku bosan, aku jenuh, aku hambar dengan setiap kata-kata cinta yang selalu aku ucapkan setiap malam. Bagaimana dengan kamu? Kamu bilang setiap hari adalah waktu yang tepat untuk jatuh cinta, bukan?Hanya saja memang aku selalu dengan keegoisanku, membanding-bandingkan kamu dengan segala yang dimiliki semesta. Aku tahu pelangi memang indah, suara air bahkan begitu meneduhkan, atau fajar yang selalu terlihat cantik di setiap pagi. 

Sekarang aku belajar, menjadi sebuah sudut pandang lain disetiap harinya. Dan pada akhirnya aku melihatmu adalah bagian lain dari yang dimiliki semesta. Kamu adalah lebih dari sekedar bola pijar raksasa yang setiap hari jadi penuntun segala mata pencaharian. Tetapi bagiku kamu adalah kamu. Kamu ada disetiap penat, tawa, hingga sedih.

Tertanda,

Aku.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-30

S.H.M.I.L.Y

Gadis Mungil di Sudut Bar

Selamat pagi kamu yang ada di sudut bar, masih menikmati menyeduh kopi dan bahagia setelahnya?

Menyajikan secangkir nikmat dan menjelaskan tentang bahagia kepada siapapun yang menyapamu. Aku tidak mengatakan senyummu adalah candu, tapi aku pernah merasakan rindu akan senyummu. Berhari-hari.

Kamu tahu kenapa secangkir kopi hitam itu menyenangkan? Setidaknya cukup untuk menggantikan peluk bagi siapa-siapa yang tidak sanggup menahan lebih lama rindu.

Kepada kamu gadis di sudut bar,

Hari ini hujan, aku datang terlambat dan kamu telah kembali kepada pelukmu. Tetapi senyummu masih menyisakan sedikit kehangatan di sudut bar. Aku duduk ditempat biasa memesan secangkir kopi yang sama, hanya terasa berbeda tanpa senyumanmu.

Hari ini aku menyuratimu, baru sehari alpa tetapi rinduku sudah tidak karuan.

Tertanda,

Aku.

Gadis Mungil di Sudut Bar

Hari11

Sayang, maaf akan aku yang terlambat menyambut pagimu, aku kesiangan, terlalu lelap dalam rindu semalam.

Kamu apa kabar pagi ini? Sudah bahagia dengan secangkir kopi favoritmu? Aku pun baik-baik saja, sudah bermain-main dengan tumpukkan rindu yang baru dikepalaku.

Aku.

#30HariMenulisSuratCinta Hari11

Hari11

Dear Zenna

Dear Zenna,

Apa kabar? Hari ini aku tak alpa kan untuk mengirimimu surat? Meski akhir-akhir ini aku alpa memperhatikanmu, banyak tweetmu yang terlewat, tulisanmu juga tak seluruhnya aku baca hingga selesai. Tetapi setidaknya aku tidak melewati me-love setiap postingan-postinganmu di instagram. Aku memang sedang malas membaca dan berimajinasi.

Jaman berubah dengan cepat, mereka bahkan banyak yang tak mengenal siapa kamu, heran melihatku yang berkali-kali membuka blog atau instagrammu. Aku lelah jika harus menjelaskan siapa kamu, ya karena kamu Zenna Sabrina. Hehe

Aku tidak menuliskan ini sebagai surat cinta. Aku terlalu malu jika harus menyapamu setiap hari via linimasa. Siapa aku, bukan? Setidaknya, ini tahun ketiga aku menyapamu, dan aku masih belum lupa😉

Aku

#30HariMenulisSuratCinta Hari7

Dear Zenna