Tulisan Acak [2]

Karena mungkin aku penulis, akan lebih mudah ketika aku menuliskan tentangmu daripada mengungkapkan tentangmu. 

Hey, You…

Yesterday, i was unhappy. Tapi ternyata semesta begitu adil, mempertemukanku dengan kamu dan membuat banyak canda malam ini. Bukan, bukan hanya malam ini, banyak malam. Ahh tidak, bahkan siang pun bisa menjadi canda yang menyenangkan ketika dengan kamu.

“I love share anything with you, dear. About love, life, and lie.” 

Bercerita denganmu mungkin begitu membunuh waktuku, dari pagi sampai malam pun tak akan cukup untuk membahas segala hal dari yang paling penting hingga tak penting. 

“Ngobrol sama lo tuh kayak ngobrol sama “temen wanita” gue.”

Tapi kurasa itu nyata, aku bahkan bisa lepas. Menjadi diriku yang apa adanya ketika denganmu, tanpa perlu menjadi orang lain atau menirukan orang lain agar dapat membuatmu nyaman ketika bersamaku. Tanpa ada rasa canggung tentunya. Cukup lama mengenalmu, dan sekarang baru aku “mengenalmu” .

Ohh ya, sedikit mengutip dari perkataan seseorang “Tidak ada persahabatan murni antara lelaki dan perempuan.”

Aku sempat terdiam memikirkannya, kurasa mereka salah. Aku mengakui aku mencintaimu, aku nyaman ketika bersamamu, aku bahkan lupa akan segala kerumitan-kerumitanku hari ini atau esok ketika aku memandang senyumanmu. Tapi apalah, aku yakin perasaan cinta untukmu adalah fana, kurasa aku hanya menginginkanmu sesaat dan kemudian pergi mencari yang lain setelahnya. Bukankah cinta selalu begitu?

Ego memang selalu berperan banyak ketika membicarakan cinta. Dan aku suka ketika kamu berkomitmen untuk tetap menjaga “KITA”. Kuharap aku tidak akan pernah egois untuk itu. 

Akupun tidak selalu berharap untuk bertemu denganmu setiap hari, menerima pesan singkat ataupun sekedar berharap sapaan selamat pagi darimu. Kapanpun kita saling merindu, percayalah semesta akan selalu mempertemukan kita.

Sincerely,

Me.

****

Rianti melemparkan tubuhnya keatas kasur, memejamkan matanya sambil membayangkan kejadian siang tadi dengan Rendra dan tersenyum sambil memeluk buku hariannya.

“Rianti…..” Mama mengetuk pintu kamar dan membuyarkan lamunannya.

“Ada Rendra tuh dibawah.”

****

Tulisan Acak [2]

Cerpen [22]

Siapa yang sangka aku akan menjadi sebuah boneka. Tuhan ternyata masih baik kepadaku memberikan kesempatan bereinkarnasi dan menjalani hidup meski tak sebebas dulu. Cinta membuatku buta akan segala hal. Malam itu, aku berjalan selayaknya seorang gadis dan menikmati malam selayaknya manusia, aku duduk disebuah kafe dan mendengarkan live musik ditemani segelas jus jeruk yang tak sekalipun kusentuh.

“Petikan gitarnya merdu. Ternyata ada tempat lain yang dapat mengalunkan nada seindah ini setelah surga.” Bisikku pelan. Lelaki itu masih asik memainkan nada-nadanya, suaranya merdu. Aku terus memperhatikannya, dan ia sadar kuperhatikan sejak memilih tempat duduk yang tak jauh dari panggung. Beberapa kali ia melemparkan senyumannya kepadaku, aku membalasnya diam dan mencoba membuang muka setiap kali ia tersenyum kepadaku. Hingga lagu yang ia bawakan selesai, lelaki itu turun panggung dan mengambil arah ketempatku.

“Kamu sendirian?”

“Iya.”

“Boleh aku duduk disampingmu?”

“Silahkan, tetapi bukannya kamu masih harus bernyanyi?”

“Giliranku sudah, sekarang giliran yang lainnya.”

“Suaramu merdu.”

“Terima kasih. Aku sepertinya tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Kamu tidak hanya pandai memainkan nada, ternyata kamu juga hafal dengan pengunjung disini.”

“Setiap malam minggu aku selalu disini, dan pengunjungnya selalu sama, bagaimana tidak aku dapat mengenali mereka semua.”

“Perkenalkan aku Fredella.” Aku menjulurkan tanganku lebih dulu, dia tersenyum bingung kemudian membalas tanganku.

“Harris. Panggil saja aku itu.”

“Aku menyukai namamu.”

“Dan kelak kamu akan menyukaiku. Hehehe, bercanda.”

****

Itulah awal pertemuan kami, sampai akhirnya pertemuan-pertemuan berikutnya terjadi setiap malam. Dia bercerita banyak, tentang pekerjaanya sebagai penyanyi freelance, tentang hidupnya, tentang keluarganya yang pecah ketika ia masih berusia lima tahun, dan tentang perjalanan cintanya yang tak seindah alunan musiknya. Kita saling bertukar canda, menikmati roti bakar dipinggiran jalan atau sekedar menikmati malam diiringi nada-nada dari petikan gitarnya. Terkadang aku ikut bernyanyi meski suaraku tak semerdu ketika Harris bernyanyi.

Sudah dua bulan lebih dan aku tak kembali ke surga, aku bahkan hampir lupa aroma surga. Mungkin aroma khas dari parfum Harris lebih kuingat sekarang, itulah wangi surga menurutku. Terlalu singkat rasanya jika hanya menghabiskan malam denganmu.

“Kamu jatuh cinta kepada lelaki itu?” Burung hantu mencoba untuk menyapaku yang sedaritadi melamun menatap bintang.

“Kurasa demikian.”

“Itulah manusia, dan itu menyakitkan, itu sebabnya kita beruntung tidak pernah terlahir sebagai manusia.”

“Ohh ya? Kurasa tidak seburuk yang kupikirkan.”

“Itu fana, Fredella. Kembalilah kesurga. Jangan biarkan Tuhanmu murka dan mengambil semua yang kamu punya saat ini.”

****

“Kamu mau minum apa?”

“Seperti biasa, jus jeruk.”

“Baiklah, aku pesankan untukmu. Aku siap-siap untuk kepanggung.”

Malam ini Harris terlihat berbeda, wajahnya terlihat tamban dari biasanya. Tubuh yang besar. Tatapan hangat. Senyuman khasnya yang meluluhkanku saat pertama kali bertemu dengannya.

“Lagumu berbeda malam ini, romantis.”

“Itu untukmu, Fredella.”

“Kalau begitu aku merasa terpuji mendengarnya.”

“Jangan berlebihan, kapanpun aku bisa memainkan itu untukmu.”

“Kalau begitu mainkan lagi untukku, Harris.”

****

“Ehh sayang, coba liyat deh. Boneka itu bagus. Mampir dulu sebentar.”

“Kamu mau? Aku belikan untukmu, sayang.”

“Coba lihat matanya, sepertinya dia menangis.”

“Tidak, itu memang seperti itu.”

“Aku mau yang ini sayang. Untuk anak kita kelak jika lahir nanti.”

“Yaudah ambil saja sayang.”

“Aku mau memberinya dia nama. Siapa kira-kira?”

“Fredella?”

“Aku suka. Fredella”

****

Aku menatap lelaki itu, masih sama. Lagu yang dimainkan malam itu sebelum dia menyatakan cintanya kepadaku. Tangannya kali ini melantun indah diatas nuts piano dikamarnya. Istrinya sedang pergi. Aku dapat menikmatinya sendirian kali ini. Seandainya saja malam itu aku tidak menerima ajakannya untuk bermalam dirumahnya.

Cerpen [22]

Tulisan Acak [1]

Sedikit tulisan yang keluar dari tema blog. But its okey, menulis terkadang bukan tentang hal galau, uneg-uneg dikepala, ataupun sekedar ngebacot tanpa alasan. Ada kalanya menulis adalah tentang berbagi. Lets share…

Masih ga habis pikir juga sama orang yang menghabiskan waktunya buat mikirin mantan yang mau nikah. Terutama cewek. Ahh shit, wasting time guys. Lo pikir lo bahagia dengan dia? Dan lo pikir, hidup lo cuma untuk buang waktu mikirin dia? Move on guys.

“But, ngomong terkadang emang semudah nepokin tangan ke jidat.”

Agak sedikit susah berdebat sama orang curhat, bagaimanapun juga orang curhat selalu menang. Karena emang mereka pengen didengar. But apa salahnya terkadang lo tampar mereka dengan kata-kata yang sedikit lebih nyakitin.

Coba lo pikir dua kali. Kalo lo nikah sama dia, lo bakal dapat apa? Lo yakin banget lo perfect? atau dia perfect? atau lo yain banget kalian cocok sampe kakek nenek? atau lo juga yakin banget lo sayang sama dia? Atau cuma perasaan sesaat yang dua atau tiga tahun lagi bakal hilang. Please guys, MOVE ON.

“Boleh dibalik posisinya?”

Why not, lo bakal ngomong hal yang sama dan gue juga bakal ngomong hal yang sama, bukan begitu semestinya curhat?

Sudahlah ga usah ngajak berdebat. Mending lo mandi gih, ganti baju, cari kafe yang pewe buat lo nongkrong ngabisin waktu didepan laptop atau baca novel sambil nikmatin secangkir kopi favorite lo. Right?

“Gue ga bercanda, kasih solusi kek.”

Ahh plis, ini udah solusi, tapi lo aja yang masih ada didalem dunia lo sendiri. Hey guys, coba lo keluar dari ketakutan lo itu, dan lo bisa kan liyat dunia lo yang lebih luas lagi daripada sekedar dunia yang isinya janji-janji manis dia.

Be calm and be nice . Mantan lo pasti nyesel. hehehe….

-sekian-

Tulisan Acak [1]