Hari11

Sayang, maaf akan aku yang terlambat menyambut pagimu, aku kesiangan, terlalu lelap dalam rindu semalam.

Kamu apa kabar pagi ini? Sudah bahagia dengan secangkir kopi favoritmu? Aku pun baik-baik saja, sudah bermain-main dengan tumpukkan rindu yang baru dikepalaku.

Aku.

#30HariMenulisSuratCinta Hari11

Hari11

Dear Zenna

Dear Zenna,

Apa kabar? Hari ini aku tak alpa kan untuk mengirimimu surat? Meski akhir-akhir ini aku alpa memperhatikanmu, banyak tweetmu yang terlewat, tulisanmu juga tak seluruhnya aku baca hingga selesai. Tetapi setidaknya aku tidak melewati me-love setiap postingan-postinganmu di instagram. Aku memang sedang malas membaca dan berimajinasi.

Jaman berubah dengan cepat, mereka bahkan banyak yang tak mengenal siapa kamu, heran melihatku yang berkali-kali membuka blog atau instagrammu. Aku lelah jika harus menjelaskan siapa kamu, ya karena kamu Zenna Sabrina. Hehe

Aku tidak menuliskan ini sebagai surat cinta. Aku terlalu malu jika harus menyapamu setiap hari via linimasa. Siapa aku, bukan? Setidaknya, ini tahun ketiga aku menyapamu, dan aku masih belum lupa ;)

Aku

#30HariMenulisSuratCinta Hari7

Dear Zenna

Hari6

Dikepalaku selalu terselip banyak ragu. Kita memang penuh liku, tapi kamu selalu menjawab semua adalah soal waktu. Aku bosan ketika harus selalu menunggu, dalam setiap rindu yang tak berujung temu.

Katamu, kita adalah satu. Tentang cinta yang kemudian hanyalah semu. Aku tidak menyalahkan kamu yang ternyata memilih aku, hanya saja aku menjadikan semuanya keruh.
Cukup !

Jangan terlalu serius denganku, bukankah kita baru bertemu?
Aku
#30HariMenulisSuratCinta Hari6

Hari6

Sayang, hari ini aku merindu. Baru dua hari tapi rasanya aku ingin menagih peluk, meski aku yang lebih banyak berhutang peluk kepadamu. Dalam hati aku mengutuk spasi yang menjadikan aku hampir gila. Kamu pasti pernah lebih dari ini, karena aku lebih memilih beralasan daripada menemuimu di akhir pekan.

Saat aku menulis surat ini, aku sedang menabung rindu. Tak tahu butuh berapa banyak untuk dapat menukarkannya dengan waktu.

 

Aku

#30HariMenulisSuratCinta hari5

 

Gadis Berpayung

Aku adalah barista yang bersembunyi dari balik mesin kopi, sesekali mencuri waktu untuk memandang kearahmu. Sepertinya kamu menangis? Ada apa? Kamu kesepian kah? Mengapa kamu tidak mencoba menyapaku? Aku dapat membuatkan lagi secangkir kopi yang lebih hangat daripada kopimu yang sudah terlanjur dingin sejak dua jam lalu.

Lalu duduk disebelahmu, menghabiskan waktu istirahatku untukmu adalah sebuah kehormatan, tetapi kamu lebih memilih menangis. Mengapa?

Teleponmu berdering, kamu sepertinya enggan untuk menjawab seseorang dari seberang sana.

Ketika itu hujan deras, kamu meneguk secangkir kopi yang terakhir kemudian pulang, berlari menembus hujan.

Aku berlari, mengejarmu dan memberikan payung. Mengulurkan tangan, berharap kamu membalas menyertai sebuah nama.

Tanpa menatapku, kamu berterima kasih dan berlari.

Sejak itu kamu tidak pernah datang kembali.

Kamu Ingat?

 

#30HariMenulisSuratCinta hari4

 

 

 

Gadis Berpayung

Tulisan Acak [3]

Tahu apa yang lebih manis daripada gula?”

“Tidak. Apa itu, Tuan?”

“Kebohongan.”

“Bagaimana bisa?”

“Pernah berbohong dan ketika itu wanitamu percaya?”

Saya diam. Menyusun rangkaian kata dari butiran gula, dan menjadi nama.

“Tidakkah itu manis?”

“Tidak. Kamu berbohong.”

“Bagaimana bisa saya berbohong, sedangkan kamu menyukainya?”

“Bagi saya gula lebih manis, dan saya menyukainya.”

“Bagaimana dengan orang lain? Tidak semua orang menyukainya.”

“Bukan urusan saya.”

“Kalau begitu mengapa kamu berbohong?”

“Saya tidak berbohong !!!”

Saya mengepalkan tangan, menyembunyikan dibalik meja

“Lalu apa yang terjadi malam itu?”

Praaaaang……..

Cermin itu menonjok diriku hingga hancur berkeping-keping

Tulisan Acak [3]

Forget Jakarta | part 4

****

Beberapa hari ini aku bermimpi tersesat di dalam hutan pinus. Mimpi yang sama dengan yang ayah ceritakan 15 tahun yang lalu. Setelah cerita itu, ayah jarang pulang, dan sikapnya dingin kepadaku. Ibu tidak menceritakan apa yang terjadi. Dua minggu kemudian, ayahku meninggal. Sejak itu aku menjadi seorang penyendiri, berdiam dikamar untuk mendengarkan musik ataupun membaca buku cerita. Masa kecilku mungkin tidak sebahagia sekarang. Hingga 7 tahun berlalu dan aku mulai memberanikan untuk melihat dunia, bergaul dengan sesamaku, dan berkenalan dengan orang-orang baru.

Aku tersesat di dalam hutan pinus, berlari mencari jalan keluar karena hari sudah mulai malam. Saat aku terlelah dan tidak sanggup untuk berlari, aku menemukan jalan keluar. Di luar ada sebuah rumah dari bilik kayu, sama persis dengan cerita yang ada di dalam dongeng. Kemudian seorang bapak tua keluar dari rumah itu membawa golok dan sebatang kayu besar. Untuk dibelah mungkin. Pikirku. Tanpa berpikir panjang aku segera menghampiri bapak tua itu dan bercerita, lalu kemudian diijinkan untuk beristirahat sejenak di dalam biliknya.

Aku menarik napas panjang, meneguk air hangat dari gelas yang terbuat dari bilah bambu. Belum saja berlalu lelahku, aku sudah berada di dalam hutan pinus kembali. Berlari mencari jalan keluar kemudian menemukan rumah yang sama. Melakukan hal yang sama dan kemudian kembali ke tempat yang sama hingga akhirnya pagi menjelang dan aku bangun dari tidurku.

Entahlah, semua terasa begitu random akhir-akhir ini. Aku memilih untuk menyendiri, dan tidak menceritakan kepada siapapun kecuali kamu. Pey.

Siapapun biasa saja pergi, tetapi untuk kembali. Mungkin itu hanya impian yang perlahan terlupakan

Aku mengulang kembali kata-kata ayah dua hari sebelum kepergiannya. Ketika itu mungkin aku tidak pernah benar-benar mengerti akan maksudnya. Hingga akhirnya sekarang aku mengerti. Siapapun memang akan pergi. Ibu yang menguatkanku dengan kata-kata “Ayah tidak pergi, hanya pindah.”

Sejak itu aku selalu mencari ayah, mungkin saja ayahku pindah rumah ke gang sebelah, atau bereinkarnasi menjadi remaja seusiaku. Itulah yang membuatku kemudian mencoba memberanikan untuk akrab dan berkenalan dengan orang lain. Siapa tahu kalau mereka adalah salah satu dari “ayahku”. Pikirku ketika itu. Tetapi lambat laun aku menjadi dewasa. Aku mulai tidak percaya dengan mitos ataupun cerita rakyat yang dibuat oleh orang-orang yang hanya ingin membuat pendengarnya bahagia, aku mulai meragukan orang yang telah pergi dapat kembali. Hingga akhirnya aku menyadari jika ayah memang tidak pernah kembali.

Bukankah kita terlahir dengan tidak saling mengenal?

****

Pey duduk disamping Nata. Tangannya masih membolak-balik majalah dengan tatapan kosong yang sesekali memandang kearah Nata dan memanggil namanya. Air matanya sudah ratusan kali menetes sejak kemarin malam saat ia tiba dirumah sakit dan menemukan Nata sudah pingsan dan penuh luka di UGD. Ibunda Nata baru saja pulang karena harus mengurus adik yang besok harus ujian sekolah.

Aku sudah bilang, aku akan menemani kamu ke bandara. Kalo udah kayak gini, yang khawatir siapa? Aku juga, kan.

Pey menggenggam erat tangan Nata, kali ini tangisannya tumpah ketika dia memeluk erat lelakinya yang terbaring lemah.

“NATA !!!! Kamu gpp? Mana yang sakit?” Pey melepaskan peluknya dan memandang kearah Nata ketika merasakan tangannya tergenggam erat oleh lelaki di depannya itu.

“Aku dimana?”

“Kamu dirumah sakit, kemarin kamu kecelakaan. Jangan banyak bergerak. Kamu masih belum dapat sepenuhnya bergerak. Ta.”

“Kamu siapa?”

end

****

Forget Jakarta | part 4