Diam

Aku diam;takut memulai percakapan tepatnya.

Dia tersenyum, aku menahan air mataku.

Dia menatapku, aku menunduk.

Aku diam;masih menangis dalam pikiranku.

Dia diam;menungguku memulai.

Dia masih diam, lalu aku tersenyum.

Ahh dia diam, kucoba menatapnya dalam.

Aku diam;pikiranku masih bertanya-tanya.

Ingin memelukku? Malam ini terasa dingin. Kuharap pertemuan ini tak begitu.

Akupun berharap begitu, maaf seketika kenangan berlabuh tanpa ijin dipikiranku.

Lalu mengapa kau diam?

Aku tidak diam.

Lalu?

Banyak kata yang ingin tumpah dibibirku.

Banyak air mata yang kapapun bisa memecahkan malam ini.

Lalu mengapa kau diam?

Kau yang lebih dulu.

Aku tidak diam.

Lalu apa?

Boleh aku memelukmu? Demi semesta, ini yang terakhir.

Kapanpun, pundakku masih selalu menunggu pelukanmu.

Tapi kumohon, jangan jadikan itu yang terakhir.

Atau lebih baik kamu tidak memelukku.

Kamu ingat? Semesta selalu mempertemukan kita, indah.

Bagaimanapun keadaan menjauhkan kita, semesta selalu punya jalan.

Lalu mengapa harus menjadikan semesta sebagai saksi untuk perpisahan kita?

Aku diam, kali ini tangisku pecah.

Aku diam, kenangan mengacak-acak pikiranku.

Aku diam, dan dia hanya tersenyum.

Aku diam, dia masih menatapku dalam.

Dia diam, aku yang menahan tangisku kali ini.

Dia diam, aku hanya bisa menatapnya.

Dia diam, pelukannya masih selalu kutunggu.

S.H.M.I.L.Y

Hingga ribuan kali mungkin tak akan membuatmu bosan menanyakan perihal cintaku kepadamu, namun baru pertanyaan keratusan kali aku sudah mulai bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama; menjawab seluruh keraguanmu tentangku.

Aku pernah berkata aku memiliki seluruh jawaban atas pertanyaanmu, saat itu juga kamu bertanya dan aku menjawabnya dengan ragu.

“Bagaimana dengan kebahagiaan? Apa kamu memilikinya?” Akupun terdiam, berpikir dan kali ini aku hampir menyerah menjawabnya.

“Aku memilikinya, sayang. Hanya saja aku masih menyimpannya, takut ketika kamu merasakan seutuhnya, dan kamu bosan atas kebahagiaan yang pernah kuberikan seluruhnya padamu.”

Aku terdiam lagi, takut menatap matamu. Tapi berkali-kali kamu mencoba untuk menelusuri seluruh wajahku yang tertunduk malu atas ragu yang kuberikan. 

Aku merindukan pikiranku yang bekerja puluhan lebih keras ketika menjawab seluruh keraguanmu akan diriku. Aku menyukainya. Aku selalu suka senyuman puasmu ketika aku menjawab apa yang kamu inginkan. Dan kamu memelukku hangat ketika itu.

Aku hanya lelaki dengan sejuta kata-kata indah untukmu. Akupun tak tahu pasti dengan apa yang kukatakan, namun meyakinkanmu tidak semudah ketika aku menuliskan bait-bait rindu dalam pesan singkat yang selalu kukirimkan untukmu setiap malam.

Aku rindu tatapanmu, tatapan yang selalu meyakinkanku bahwa hanya akulah milikmu, akulah yang selalu ada disetiap pagi dan malammu, akulah yang selalu kamu peluk ketika ketakutan hadir dalam pikiranmu.

Maaf tentang aku yang selalu mengecewakanmu, dan terima kasih kamu selalu mau menyambutku dengan senyumanmu. Aku tidak tahu harus membalas segala penyesalanku dengan apa, terkadang memang menyesal selalu menjadi hal mudah untuk dikatakan. Tapi sungguh aku begitu mencintaimu, itu sebabnya aku menyesal pernah mengecewakanmu

“Semudah itu?” Kamu mengatakan demikian. Dan aku tetap sama. Selalu membalas dengan diam segala pertanyaanmu. Berpikir lebih keras dan kemudian menjawabnya dengan ragu. Akupun tak tahu akan mengulangi setiap kesalahan yang pernah kulakukan atau tidak. Aku sadar atas kesalahanku, tapi kuakui semua diluar kuasaku. Mudah memang berkata maaf, tapi tidak ada kata yang indah selain kata maaf. Bukan?

Tertanda,

Kekasihmu.

Untuk Kamu, Hai Wanita Tegar.

Halo.

Aneh rasanya ketika aku baru ingin mulai mengenalmu sekarang. Seperti katamu, dulu aku terlihat dingin. Dan seperti kataku, aku selalu dingin kepada orang yang baru kukenal. Bukannya aku tidak mudah untuk akrab dengan orang lain, hanya saja aku membatasi orang lain tahu banyak tentangku diawal pertemuan. Bukankah perkenalan yang menarik dimulai dari ketika menanyakan nama secara langsung? Bukan melihat nama dari papan nama yang terpampang diatas meja kerjaku.

Aku juga bukan lelaki yang selalu ingin tahu urusan orang lain dari cerita-cerita orang. Ketika mendengar ceritamu dari orang lain, aku lebih memilih diam dan tidak mendengar. Aku lebih tertarik mendengarkan cerita dari kamu.

Kita pernah saling bertukar cerita, dan sejak itu kurasa aku mulai menyukai tingkahmu. Ingat waktu kita mulai saling menyakiti tentang hal yang tidak kita sukai? Ahh aku menyukai ketika melakukannya kepadamu. Lucu rasanya, meski terlihat bodoh. Aku suka ketika mendengar cerita-ceritamu, tapi sayang aku tidak suka untuk ikut campur terlalu jauh, jadi aku lebih memilih diam, meski sebenarnya aku bisa menjadi jawaban dari ceritamu. Tapi sayang kita dipertemukan bukan diwaktu yang tepat.

Kita mungkin mempunyai cerita yang sama sekarang, aku pernah menjawab atas setiap pertanyaan yang pernah kamu lontarkan, kini pertanyaan itu terjadi padaku. Ahh, aku hanya bisa menjawab pertanyaanmu ketika itu, berbeda rasanya ketika aku melewati semuanya. Kamu lebih tegar dari yang kukira ternyata, dan aku hanya berpura-pura tegar.

Terima kasih karena beberapa waktu ini kamu sering mendengarkan ceritaku, tidak mudah untukku berbagi cerita karena aku lebih suka memendam perasaan. Tapi kali ini apa salahnya aku berbagi cerita denganmu, aku ingin diperhatikan. Meski aku selalu menyambut pagi, selalu tersenyum dengan siapapun, selalu punya jawaban atas setiap nelangsa tiap orang. Akupun butuh tempat untuk mengadu, kurasa kamu tepat. Aku suka ketika kamu mau mendengarkan ceritaku, aku tidak perlu jawaban kok. Hanya didengar itupun cukup.

Tertanda,
Aku.

Untuk Mama

Dear mama…

Mungkin melalui surat ini, aku ungkapkan seluruh yang kurasakan saat ini. Aku tak tahu mengapa aku terlahir pemalu, bahkan untuk sekedar berbagi cerita kepada mama. Aku lebih banyak menutup diri. Sejak aku tahu arti sebuah kedewasaan. Aku rasa kita semakin jauh, aku pergi lebih awal dan pulang lebih larut. Berkabar pun hanya seadanya. Bahkan terkadang aku tak memberi kabar sekalipun.

Aku tahu mama begitu sayang kepadaku, dari kecil apa yang kumau selalu mama turuti, akupun begitu. Hanya saja aku tak tahu bagaimana mengungkapkan rasa sayangku kepadamu, mama.

Aku lebih banyak menyimpan ceritaku sendiri, ingin rasanya bercerita banyak kepada mama. Tapi aku tak tahu harus memulai darimana. Rasanya sudah terlalu banyak cerita yang menumpuk dan terlalu berat jika harus kutumpahkan semua. Maaf untuk aku yang lebih banyak berdiam diri dikamar, bermain gadget, ataupun sekedar mendengarkan musik.

Mama, aku ingin rasanya seperti anak remaja seusiaku yang bisa dekat dan akrab dengan mamanya seolah mereka adalah sahabat, aku iri dengan mereka yang bisa tertawa lepas, bertukar cerita, ataupun sekedar menikmati secangkir kopi bersama. Aku ingin, tapi rasanya kita sudah terlalu jauh. Aku bahkan canggung meski hanya menatap matamu.

Aku tak tahu akan tercipta berapa ribu halaman jika harus mengungkapkan semua yang kupendam jika harus dengan surat. Mungkin ini sebagia, dan sebagian lagi akan kuungkapkan pada saat waktunya nanti. I love you mom.

Tertanda,
Anakmu.