Prosa? (1)

Aku ingin menuliskan rasa, kemudian membacakannya dalam kalimat-kalimat cinta. Tatapan sederhana. Malam indah;ketika sebuah ciuman saling melengkapi. Pertanyaan demi pertanyaan bermain dalam pikiranku. Waktu memang tidak pernah datang terlambat, tetapi apakah kita hanya sekedar hasrat?

Kau tahu, kita tidak saling mencari tetapi tidak juga saling menemukan. Namun tidak ada sebuah kebetulan pada sebuah perjalanan. Aku masih mencaci dalam sebuah pelukan. Hati hanya bisa mengumpat ketika pikiranku menganggap ini hanya sekedar pemuas rasa.

Setumpuk prosa seolah menamparku, membuatku menjadi pujangga dalam satu malam. Kamu memintaku untuk memelukmu lagi, langit menjadi saksi bisu diriku yang memaksa larut dalam ikatan janji. Pelukmu semakin erat, dengan jelas aku mendengar denyutmu. Nadi memang tidak pernah berbohong akan detaknya. Namun dalam detik, cinta bisa saja berubah menjadi sebuah fatamorgana.

Lalu, apa yang kau cari pada diriku? Bukankah aku hanya sekedar pemuas nafsu?

Prosa? (1)

Tulisan Acak [2]

Karena mungkin aku penulis, akan lebih mudah ketika aku menuliskan tentangmu daripada mengungkapkan tentangmu. 

Hey, You…

Yesterday, i was unhappy. Tapi ternyata semesta begitu adil, mempertemukanku dengan kamu dan membuat banyak canda malam ini. Bukan, bukan hanya malam ini, banyak malam. Ahh tidak, bahkan siang pun bisa menjadi canda yang menyenangkan ketika dengan kamu.

“I love share anything with you, dear. About love, life, and lie.” 

Bercerita denganmu mungkin begitu membunuh waktuku, dari pagi sampai malam pun tak akan cukup untuk membahas segala hal dari yang paling penting hingga tak penting. 

“Ngobrol sama lo tuh kayak ngobrol sama “temen wanita” gue.”

Tapi kurasa itu nyata, aku bahkan bisa lepas. Menjadi diriku yang apa adanya ketika denganmu, tanpa perlu menjadi orang lain atau menirukan orang lain agar dapat membuatmu nyaman ketika bersamaku. Tanpa ada rasa canggung tentunya. Cukup lama mengenalmu, dan sekarang baru aku “mengenalmu” .

Ohh ya, sedikit mengutip dari perkataan seseorang “Tidak ada persahabatan murni antara lelaki dan perempuan.”

Aku sempat terdiam memikirkannya, kurasa mereka salah. Aku mengakui aku mencintaimu, aku nyaman ketika bersamamu, aku bahkan lupa akan segala kerumitan-kerumitanku hari ini atau esok ketika aku memandang senyumanmu. Tapi apalah, aku yakin perasaan cinta untukmu adalah fana, kurasa aku hanya menginginkanmu sesaat dan kemudian pergi mencari yang lain setelahnya. Bukankah cinta selalu begitu?

Ego memang selalu berperan banyak ketika membicarakan cinta. Dan aku suka ketika kamu berkomitmen untuk tetap menjaga “KITA”. Kuharap aku tidak akan pernah egois untuk itu. 

Akupun tidak selalu berharap untuk bertemu denganmu setiap hari, menerima pesan singkat ataupun sekedar berharap sapaan selamat pagi darimu. Kapanpun kita saling merindu, percayalah semesta akan selalu mempertemukan kita.

Sincerely,

Me.

****

Rianti melemparkan tubuhnya keatas kasur, memejamkan matanya sambil membayangkan kejadian siang tadi dengan Rendra dan tersenyum sambil memeluk buku hariannya.

“Rianti…..” Mama mengetuk pintu kamar dan membuyarkan lamunannya.

“Ada Rendra tuh dibawah.”

****

Tulisan Acak [2]