Tidak Ada Surat Hari Ini

Kata-kataku terbakar habis sebelum sempat aku menuliskannya.

Advertisements
Tidak Ada Surat Hari Ini

Diam

digaleri.com

Aku menggantungkan foto foto lama di dalam pikiranku. Jarak seperti memberi jeda akan peluk yang tak pernah puas. Kemudian menutup jendela kamarku rapat rapat, agar tak adalagi daun daun yang menyelinap kamarku untuk tertawa.

Ada banyak hari hari yang harus kulewati tanpa kamu. Diam adalah jawaban atas namamu yang tak henti hentinya kuselipkan dalam doa setiap malam. 

Begini saja, jika nanti kau tak pernah menemukanku, maka aku tunggu kau di bangku taman tempat pertama kali kita menjatuhkan air mata. Sebab tak ada alasan untuk aku menuliskan banyak kata kata yang ingin merangkak keluar dari kepala.



Diam

Suratku, Bukumu

madisonpubliclibrary.org

Pagi ini mungkin kau hampir jenuh membaca suratku yang kesekian. Bagaimana tidak, isinya sama, selalu rindu, dan tentang percakapan kita setiap sore.

Ohh iya, ada yang lupa aku ceritakan kemarin sore. Tentang keinginkanku mengajakmu ke perpustakaan ibukota. Ahh, ingin sekali rasanya aku tenggelam di antara buku buku dan melantunkan banyak puisi puisi bersamamu. Lalu kemudian menari nari di atas rak buku, bersembunyi dari kejaran penjaga perpustakaan, atau menertawakan mereka yang ketahuan bercumbu saat memilih buku.

Aku ingin bersembunyi di antara tumpukkan buku buku di kamarmu, lalu keluar kapanpun aku ingin memelukmu. Sayang, sungguh waktu yang membentengi kita sungguh menyiksa. Setiap malam tidurku selalu gelisah, karena aku tak tahu apa setiap pagi kau bahagia.

Sayang, suratku tak perlu kau balas. Aku hanya ingin kau temui malam ini.

Suratku, Bukumu

Hujan, Surat, dan Februari

julialametta.tumblr.com

Semua berjalan serba cepat, langkah orang orang di ibukota, pembangunan gedung gedung tinggi, pikiranku, bahkan waktu. Tak terasa hujan pagi ini sudah dua jam mengurungku yang gusar di balik selimut. Kau tak menghubungiku dari kemarin. Ahh tidak, bahkan bertahun tahun sejak kau menyatakan mencintaiku.

Apa kabarmu pagi ini? sudah membaca koran tentang berita politik? atau pembunuhan? atau pembagian warisan yang berujung kematian? Kian hari, aku semakin tidak paham dengan kerumitan kehidupan yang terjadi. Bahkan kau ikut menambah rumitnya pikiranku pagi ini. Rindu sudah membungkam seluruh mulutku, kakiku kelu, tanganku bahkan lupa bagaimana bentuk jari jemarimu. Hanya pikiranku yang masih ingat bagaimana kata katamu ketika kau bilang akan selalu menyisakan sedikit malam untuk bertemu denganku. Serumit itukah pekerjaanmu, hingga kau lembur semalaman? bahkan hingga pagi lagi menjelang dan kau tidak mandi beberapa hari.

Malam selalu menjelma menjadi pagi, dan aku tidak pernah bisa tidur hanya untuk menunggu kau mengabariku. Ribuan doaku terpanjat dan berharap malaikat mengamininya. Aku menantikan saat waktu mulai melambat lalu kau memiliki banyak waktu untukku, untuk kita sekedar menonton film di bioskop setiap malam, atau menertawakan pengamen pengamen jalanan yang hanya mendapat sedikit rupiah hari ini. Lalu kemudian menunggu pagi untuk menikmati pemandangan mereka mereka yang terlambat berangkat kerja.

Apa kabar kamu pagi ini? Aku menulisimu surat. Dan seperti biasa, hanya akan berakhir menjadi tumpukkan kertas di atas meja kerjamu.

Hujan, Surat, dan Februari

Hari Ini Kau Pulang

bled.tumblr.com

Hari ini kau pulang. Temui aku di tempat biasa, katamu.

Sudah kupesan dua cangkir kopi. Untukku, juga untuk perayaan.

Apa kabar kamu? Semalaman aku pusing memilih gaun yang pantas kukenakan, untuk hari di mana kau akan memelukku.

Apa kabar kamu? Rindu di kepalaku sudah beberapa hari menari nari, berharap segera cepat untuk kau balas.

Hari ini kau pulang, aku tak membutuhkan segala oleh oleh yang kau bawakan, aku hanya ingin menikmati segala peluk yang selalu kau berikan setiap malam.

Hari ini kau pulang, pundakmulah tempatku mengadu segala cerita. 

Oh iya, aku punya cerita tentang nenek tua di seberang gang, yang selalu berteriak ketika kucing mencuri ikannya di kolam. Lucu yaa, berlari dengan terbata bata mengejar kucing yang sudah lebih dulu menghabiskan ikan yang dicuri di halaman rumahku.

Juga tentang ibu-ibu yang selalu memakai gincu saat akan berbelanja di tukang sayur. Entahlah, jaman sekarang begitu memusingkan, dan aku butuh menertawakan segalanya bersamamu.

Hari ini kau pulang, kau berjanji akan menelepon sebelum menemuiku.

Hari ini aku pulang, secangkir kopi perayaan sudah hampir habis dan kau tidak datang.

Hari Ini Kau Pulang

Surat di Februari

hipsterboho.tumblr.com


Jangan tanya seberapa banyak rindu yang sudah menghantam kepalaku. Bahkan seluruh isinya ingin berdesakkan keluar untuk segera memeluk hatimu yang kini terkubur waktu.

Aku tak tahu bagaimana cara mengucap syukur, ketika Tuhan memberiku satu waktu untuk menulisimu sebuah surat. Bisa saja Dia yang membuatmu terketuk kali ini, untuk menemuiku lalu memelukku yang rapuh.

Siang itu, kita bercanda menertawakan hujan yang turun di Februari. Lalu kau bertanya, untuk apa Tuhan menurunkan hujan jika air mata saja cukup untuk membasahi seisi bumi. Lalu kau melanjutkan bercerita tentang air mata seorang anak kecil yang banyak melahirkan kata.

Ahh sayang, kau sungguh jenaka. Seisi rumahku seolah terdiam, merekam setiap cumbu yang kita lakukan. Bahkan peluk lebih hangat dari secangkir teh yang kau sediakan. 

Inilah kita.

Isi suratku sudah basah, bahkan belum sempat kau baca.

Kita sedang bermimpi tentang apa apa yang kemudian akan mati.

Katamu, dadamu sudah letih menyimpan segala perih.

Tetapi jarak bukanlah alasan untuk kita saling membenci.

Surat di Februari

Pinus

ookeanikarvakummitus.tumblr.com

Aku pernah bercerita tentang kesukaanku pada hutan pinus. Membayangkan berlari bersamamu dan menghabiskan malam dalam secangkir teh yang menenggelamkan kita dalam diam.

Ingat saat aku mengatakan mencintaimu?

Sejak itu akulah yang menjadi penyebab air matamu. 

Kau memang pandai mendekap rahasia. Memelukku seolah tak pernah ada yang kau tangisi.

Malam kita masih panjang, untuk kemudian saling menatap saat pagi menjelang lalu kita harus berpisah.

Kau bilang, kau begitu mencintai pagi. Pada kenyataannya kita terlalu takut menghadapi malam.

Kita menyanyikan banyak lagu lagu kesukaan kita. Menuliskan apapun yang mereka katakan, lalu merobeknya dan membuang semua ke tempat sampah.

Kali ini kau yang bercerita kepadaku tentang kesukaanmu pada hutan pinus. Mengajakku berlari hingga tersesat agar mereka tak menemukan kita.

Kemudian berharap biarlah Tuhan yang menyatukan kita dalam sesat.

Pinus