Jakarta Pertamaku

Langit mulai temaram. Lampu-lampu jalan mulai berdatangan dan bekerja semestinya. Aku masih berdiri di pinggir peron. Kereta yang ku tumpangi baru saja berangkat kekota berikutnya. Sejenak aku menarik nafas. Kuperhatikan sekelilingku, terlalu lusuh disini. Mataku masih mencari seseorang yang seharusnya kukenal disini, Rudi. Teman lamaku yang beberapa bulan lalu mengunjungiku dikampung. Dia mengajakku untuk kekota mengikuyi jejaknya. Awalnya aku ragu. Tapi melihat kondisi keluarga yang semakin parah, aku meminta restu istri dan anakku. Tak tega meninggalkan mereka, jadi ada baiknya aku saja dahulu dan akan pulang kemudian membawa cerita indah. Itu pikirku.

Setengah jam berlalu, masih belum nampak paras temanku itu. Dia berjanji menjemputku di depan peron 1. Dan akan mengajakku untuk tinggal dirumahnya selama beberapa hari sampai aku mendapatkan pekerjaan.

Langit mulai menggelap. Stasiun mulai sepi. Beberapa lampu mulai dipadamkan. Wajah-wajah lelah perlahan menghilang dari pandanganku. Tersisa beberapa pedagang yang masih menanti kereta terakhir tiba untuk mereka menjajakan dagangan demi selembar uang kecil sambil menghitung lembaran uang kecil yang hanya beberapa. Menghitung ulang seakan tak percaya dengan yang mereka dapatkan.

Aku menyalakan sebatang rokok yang masih kusimpan sejak kemarin. Belum kuhisap, untuk bekalku nanti dikota. Pikirku.

Sudahlah, aku lelah menunggu. Sebentar lagi mungkin stasiun akan tutup. Aku memutuskan besok kembali lagi kesini. Jakarta tak seindah yang digambarkan Rudi. Jalanan begitu sesak. Beberapa kali aku diteriaki pengendara motor, padahal aku berjalan ditrotoar. Banyak pula pedagang yang menyesakkan jalan, anak-anak kecil yang tidur sembarangan, para pencopet yang lari dari teriakkan-teriakkan ikut mendramatisir malam ini.

****

Pukul sepuluh malam lewat lima puluh tiga. Aku melihat jam tanganku yang kulitnya sudah tak karuan. Keringat dibadanku rasanya sudah beberapa kali mengucur dan mengering. Aku beristirahat sejenak dibangku sebuah halte. Memperhatikan seorang anak kecil yang kutaksir usianya sebaya dengan anakku membawa sekarung besar berisi botol-botol bekas air mineral. Menghampiriku dan meminta uang untuk membeli makan, begitu katanya. Dan pergi setelah kuberikan beberapa keping sisa uang terakhirku.

Kupejamkan mataku, dan kemudian beranjak dari halte. Berjalan santai mennelusuri trotoar. Mengambil botol bekas air mineral dan kumulai pekerjaan pertamaku di Jakarta.

Terima kasih, Rudi.

Percakapan Dimeja Makan

Ini malam pertama lagi aku bersama-sama dengan ayah menikmati makan malam sejak pertengkaran ayah dan ibu minggu lalu. Ayah jarang pulang, ibu pulang ketika ayah tidak dirumah dan pergi kerumah mertuanya yang hanya berjarak beberapa blok ketika ayah sudah pulang kerumah. Aku bahkan tak tahu apa yang mereka perdebatkan. Ketika aku pulang dari sekolahku siang itu, piring-piring berserakan dilantai, ibu pergi dengan menangis ketika aku memasuki kamar mereka berdua. Akupun tidak berani menatap ayah dan langsung menuju kamarku. Sejak itu suasana dirumah tak membuatku tertarik untuk sejenak menonton film kartun seperti yang biasa kulakukan setiap sore. Atau beristirahat melepas penat seusai mengerjakan pekerjaan rumah. Aku lebih banyak berdiam diri dikamar dan menatap kosong laptop yang biasanya selalu menemaniku mengerjakan tugas sekolah. Prestasiku menurun sejak itu, PR-ku terbengkalai.

“Makanlah yang banyak, sehabis ini ayah akan pergi, mungkin akan kembali besok.” Aku masih asik menyantap makanan yang terhidang dimeja makan, tak biasanya ayah memasak sebanyak ini. Aku menatap ayahku yang sedaritadi tak berpaling dari layar handphonenya. Sedikitpun tidak menyentuh makanan yang terhidang. Mungkin ayah belum lapar. Pikirku.

“Yah.” Ucapku memecah keheningan sesaat

“Iya nak?”

“Ibu kemana? Sudah dua hari ibu tidak pulang, yah.”

Perhatian ayah kini tertuju kepadaku, ditaruhnya handphone dan tersenyum kepadaku.

“Sudah habis kau makan.”