Rindu ( part 2 )

“Sialan kamu !!! “

Ini sudah kelima kalinya kamu masuk tanpa ijinku, aku bahkan tak bisa menolakmu. Pertemuan singkatku dengan Renaldi sepertinya menyisakan rindu yang amat padat dipikiranku. Mengapa begitu bodohnya aku pergi begitu saja tanpa meninggalkan secarik kertas yang berisi nomorku, kalau begini kan aku jadi bingung sendiri harus mencarinya kemana.

Wanita memang selalu begitu, menunggu. Bahkan menunggu ketidakpastian. Sudah bukan hal yang aneh untukku menunggu kepastian. Sudah 3 hari aku datang ketempat yang sama, ketempat kita saling bertukar cerita malam itu. Berharap bertemu denganmu untuk yang kedua kalinya. Namun semua nihil. Kamu tak datang, apa kamu lupa? Atau malam itu hanya mimpi?

“Lepas saja cincin itu.”

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Ternyata Sofie memperhatikanku sejak tadi. Aku masih berusaha keras menahan agar wajahku tak memerah. Tak seperti yang kebanyakan orang ketahui, pertunangan tak seenak seperti yang terlihat. Iya, hidupku diatur oleh sebuah cincin. Pertunanganku dengan Robby mungkin berjalan dengan baik, tapi tidak hubunganku dengannya. Bukan berarti kami sering bertengkar, tapi justru kami semakin jarang bertemu, jarak memisahkan kita begitu jauh. Kepergiannya ke Ausy sehabis pertunangan kami adalah awal dari semuanya. Aku dicintai oleh sebuah cincin, bukan kekasih. Dan aku rindu pelukan seorang kekasih. Kamu, Robby.

“Apaan sih Sof.”

“Aku mengerti perasaanmu. Sudah tak apa, coba sesekali kamu tinggal cincin pertunanganmu dirumah, dan kamu nikmati hidupmu seperti gadis muda lainnya. Itu asik kok.”

“Ga semudah itu, Sof.”

“Sebelum kamu bertunangan, aku lebih dahulu menikah. Dan aku lebih tahu banyak dari kamu.”

“Tapi…”

“Sudahlah, kamu pikirkan saja baik-baik, aku makan siang dulu ya dikantin.”

****

“Iya, hampir dari semuanya bahkan sama. Berdiam dikamar dan mendengarkan lagu-lagu cengeng untuk kemudian menangis tak jelas.”

“Hahhaha, bodoh”

Aku memainkan cincin pertunanganku diatas meja, memutar-mutarnya lalu kemudian menyimpannya. Benar, sudah seharusnya aku menyimpan itu, Robby tak tahu ini, lagipula dia tak ada sekalipun menghubungiku dalam sehari. Dia mungkin mulai melupakanku, melupakan pertunangan kita. Bisa saja dia lebih dulu melepas cincin kami dan aku tak tahu itu. Mungkin saat ini aku butuh hiburan, butuh penghilang penat, butuh kamu. Renaldi.

****

“Satu hot coklat, dimeja 15. Silahkan tunggu, nanti saya antar.”

Aku berjalan malas. Ini hari kesembilan aku disini, ditempat pertama pertemuanku dengan lelaki itu. Sehari lagi dan mungkin aku tak akan mengharapkanmu. Aku memainkan jari-jariku diatas keyboard, mencarimu disekumpulan social media yang sekarang menjamur. Hanya “Renaldi” yang kutahu, dan ada belasan juta nama Renaldi, aku masih belum menemukan yang persis dengan kamu.

****

“Satu ice coffee, dimeja nomor 16. Silahkan menunggu, pesanan akan saya antar.”

****

Rindu ( part 1 )

Aku paling malas jika berurusan dengan rindu. Melelahkan, menyebalkan. Datang seenak hati, mengacak-acak pikiran dan kemudian pergi tanpa ada rasa sopan santun. Sudah tiga hampir tiga hari rindu menyudut dikepalaku. Renata. Aku bahkan belum sempat bertukar nomor dengannya. Malam itu terjadi begitu cepat.

Pekerjaanku belumlah selesai, bosku menyuruhku lembur hari ini, ada banyak laporan yang harus diselesaikan mendadak untuk meeting besok. Selalu saja begitu, menyuruh seenaknya. Dipikirannya mungkin hanya dia yang memiliki hidup. Hidupku tak lebih dari sekedar bersama tumpukkan kertas dikantor dan tumpukkan baju kotor dikosanku, begitu mungkin yang ada dipikirannya.

Setengah lampu ruangan sudah dimatikan, Resno sudah pamit daritadi setelah mengepel ruangan kantor. Tersisa aku dan setumpuk kerumitan dikepalaku. Jam delapan sebentar lagi berakhir dan setengahpun belumlah sampai. Tak tahu harus berapa menit lagi aku disini. Kopiku bahkan sudah dingin, kuhabiskan sekali teguk bak air putih.

****

“Ceritamu seru, bisakah kau lanjutkan? Mungkin malam ini akan menjadi hangat bersama cerita-ceritamu.” Ucapku serius

“Kamu lucu, kita bahkan belum sampai setengah jam berkenalan. Tapi kamu bisa saja menghidupkan suasana.”

“Bukan karenaku, ceritamu saja yang menarik.”

“Disini tak terlalu menarik untuk melanjutkan bercerita, mungkin kita perlu cari sebuah cafe.” Tatap Renata serius

“Kamu mau mengajakku ngedate? Hahahaha tak kusangka.” Balasku

“Rindu tak selalu berarti cinta kan? Dan berdua di cafe bukan berarti ngedate, bukan begitu Tuan Renaldi?”

“Aku hanya bercanda nona Renata, tak perlulah kau anggap serius ucapanku.” Ucapku sambil memberikan pukulan kecil dipundaknya.

****

“Tak lama sejak kejadian itu. Memang dasar cinta, bisa saja dia pergi sesuka hati.”

“Sometime memang kebahagiaan itu tak pernah ditentukan dengan siapa kita bersama, tapi bagaimana kita yang membuatnya bersama siapapun orangnya.”

“Seperti aku saat ini, bukan begitu?”

Renata tak membalas ucapanku. Hanya menatapku

“Kamu ini, seperti seorang penyair saja bahasanya, jika kutahu kau tak serius, mungkin aku sudah tertawa sejak tadi.”

“Tertawakan saja, aku bahkan selalu menertawakan ceritaku. Aku selalu mengulang ceritaku sendiri dikepalaku, sama persis dengan yang kuceritakan saat ini. Dan menertawakan setelahnya.”

“Sebuah cerita bukan untuk dianggap serius, mereka hanya untuk ditertawakan, begitulah cara menikmati hidup.”

“Kamu bahkan lebih dari seorang wanita yang kubayangkan, Ren”

“Yang kau bayangkan? Memang seperti apa yang kau bayangkan tentang aku ini?”

“Ahh bukan apa-apa.”

“Tapi memang pada kenyataannya wanita itu sama.”

“Maksudmu?”

“Iya, hampir dari semuanya bahkan sama. Berdiam dikamar dan mendengarkan lagu-lagu cengeng untuk kemudian menangis tak jelas.”

“Hahahaha, bukan maksudku mengejekmu.”

“Itu kenyataannya, Ren. Hanya saja aku lebih suka menertawakan setiap kecengenganku.”

****

“Ren, Ren, bangun.”

“Ahh bos, aku belum menyelesaikan mimpiku.”

“Sebentar lagi jam kerja, kamu tidak pulang? Bagaimana laporan untuk meeting nanti?”

“Meeting? Hahahahaha sudahlah, lupakan saja. Masih ada hari esok untuk meeting.”

****