Dua Puluh Delapan

Bulan Maret masih diawal. 28 hari terasa begitu cepat. Dan aku kalah ketika harus mengagumi kamu dalam surat cinta selama 30 hari. Aku terlalu malas untuk berpuisi. Bahkan tanganku tak seperti dulu yang rajin menari indah diatas keyboard.

Bulan cinta. Hahahahaha dan aku tertawa ketika segelintir orang mengatakan demikian meski nyatanya memang aku menyimpan cinta untuk kamu selama itu. Tak perlu kuumbar. Aku malas untuk mengumbar cinta kepada khalayak. Cukuplah aku yang tahu, juga tak perlu kamu mengetahuinya.

Dan sekarang bulan cinta itu pergi. Siapa yang menyangka dua puluh delapan hari itu terasa singkat dan kekagumanku tentang kamu seketika sirna begitu saja. Mungkin aku hanya terjebak dalam sihir cinta dibulan cinta itu. Itu yang sebagian orang katakan kepadaku. Meski aku lebih memilih untuk diam.

Aku terlihat bodoh ketika harus berkata cinta. Apalagi merasakan cinta. Sudahlah. Dua puluh delapan sudah terlewati. Tak ada cinta yang sesungguhnya bukan? Bahkan tak ada yang bisa dikagumi lagi dari seorang kamu. Sampai bertemu dua puluh delapan hari taun depan. Kamu.

Posted in Cerpen | Leave a comment

Tentang Aku ( Dibalik yang Kau Kenal )

Terkadang aku bosan dengan cinta. Aku bahkan hampir muak dengan setiap rindu yang kuucapkan. Bukan hanya untukmu, semua sama ketika kuucapkan untuk mereka. Hanya berbeda cinta. Iya, bukankah rindu tak pernah beralaskan cinta? Dan seketika itu kuputar otak yang telah letih untuk berpikir dikepalaku. Mengapa aku memilih cinta disaat aku lagi ingin menikmati masa-masa bebas merindu tanpa pernah ada beban yang terus menginjak-nginjak kepalaku.

Cinta itu fana, dan ketika aku mengatakan tentang cinta bahkan kepalaku hampir pecah, aku bahkan tak pernah menemukan arti dari cinta meski hati seringkali berbicara tentang cinta. Aku sama dengan yang lainnya, manusia egois yang sering berkata bahwa kaulah yang egois. Aku tak pernah melihat reaalita apa yang sebenarnya terjadi.

Coba kamu lihat sejenak tentang aku, dan kamu percaya setiap kata-kata rinduku yang kuucapkan untukmu? bahkan kamu tak pernah menimbang-nimbang seberapa inginnya aku memiliki kamu. Ahh sudahlah, aku bahkan terlalu bodoh ketika harus berkata semua alasan yang selama ini aku buat-buat untuk terus dapat memiliki kamu.

Sama seperti mereka pula, aku terlalu takut untuk melepas kamu. Bukan karena cinta, melaikan rindu yang terlanjur kuukirkan untuk kamu setiap malam. Kamu menganggapnya itu sebuah kesungguhan dari dalam kepalaku, tapi mungkin seketika itu aku tersadar dan menyesal ketika kamu mulai lebih mencintaiku.

Aku yang kamu miliki, begitukah kamu menganggapku? Dan aku hanya tertawa ketika kutahu bahwa aku terjebak lebih dalam. Aku memang pecundang besar yang hanya dapat mengurai kata, aku bahkan tak menegerti bagaimana caranya berpikir rasional dan menyelesaikan semuanya. Aku hanya berani memulai tanpa pernah tahu bahwa aku terjebak selamanya dengan kebodohanku yang tak dapat menyelesaikannya.

Kata-kataku yang mana lagi yang ingin kamu nikmati sebagai penenang tidurmu? Aku bahkan tak pernah kebahabisan nada-nada untuk kamu. Hanya saja aku kebahisan alasan untuk dapat melepaskanmu. Dan sekarang aku harus menikmati cinta yang seharusnya tak pernah kubuat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Surat untuk Senja

Sore ini senja tak datang. Dan hari ini seminggu tepat kamu tak pernah ada lagi disini. Pertemuan kita bukan sebuah kesengajaan. Sejak itu aku mulai mencintai senja. Kamu yang mengajarkanku bagaimana cara menikmati sebuah senja.

“Bukankah senja sama saja dengan matahari? Hanya saja disore hari” Ucapku sinis ketika kamu memainkan lensa dan mengatur cahaya yang pas agar senja masuk kedalam seluruh bola matamu. Merekamnya. Dan menikmati seluruh keindahan Tuhan yang satu ini.

Tak ada yang istimewa mungkin untukku tentang senja. Bukan senja yang kuperhatikan. Melainkan kamu. Dan kamu tahu. Sejak saat itu aku semakin suka memandangmu. Aku semakin rajin mencari-cari alasan untuk sekedar bertemu denganmu. Meski hanya diam dan menikmati kamu yang sedang menikmati senja.

Dan disaat aku mulai menikmati keindahan senja. Kamu pergi. Tak meninggalkan sepucuk kabar maupun selembar surat. Aku rindu kamu. Begitupun senja yang menghilang bersama kamu.

Posted in #30HariMenulisSuratCinta | Leave a comment

Surat Untuk Mama

Ma, mungkin engkau sudah bosan membaca surat-surat yang selalu kukirimi. Selalu surat yang datang kepadamu, bukan pelukan hangat, maupun kecupan dikeningmu. Aku masih belum bisa pulang. Tuhan mungkin masih belum menginginkan kita untuk saling berkumpul seperti dulu.

Entah sudah berapa rindu dan air mata yang selalu mengalir dalam lamunan tiap malamku sebelum tidur. Aku rindu akan teh hangat buatan mama yang selalu tersajikan untukku setiap pagi. Disini aku bisa membuatnya sendiri, tapi rasanya jauh berbeda. Tak ada cinta dalam segelas teh buatanmu, Ma.

Ohh iya, tentang adik. Dia baik-baik saja. Dia semakin berprestasi dikelasnya, bahkan bulan depan adik tamat sekolah menengah. Mama tidak usah mengkhawatirkan kami, kami bahagia disini, justru kami yang begitu mengkhawatirkanmu. Mama baik-baik sajakah?

Mama, maaf kami belum bisa memberikan apa-apa untuk mama. Hanya doa dan surat akan rindu kami yang bisa kami berikan dari sini. Tapi aku dan adik sedikit demi sedikit menabung untuk mama. Tahun depan pastilah tabungan kita terkumpul banyak, dan makam mama tidak akan pernah usang lagi seperti sekarang.

Aku dan Adik

Posted in #30HariMenulisSuratCinta | Leave a comment

Dear Kamu

Dalam sebuah linimasa yang sama, kamu ingat? Kita dipertemukan singkat, saling bertukar nada-nada penuh canda. Tak berhenti berucap meski tak saling bertatap.

Aku suka cemburu-cemburu yang kamu ciptakan untukku, aku juga menyukai kata-kata cinta yang tak kamu ungkapkan untukku. Iya, aku mengagumi senyuman kamu yang tak pernah kulihat letih untuk tetap terjaga.

Seketika aku ingat dalam sebuah linimasa yang sama pula kita saling merindu, hanya saja rindu yang kamu tujukan bukan untukku. Dan aku tetap bahagia karenanya. Aku tak punya alasan untuk dapat mencintai kamu, begitu pula untuk memiliki kamu. Bahkan semua mungkin akan berbeda jika kita saling bertukar cinta. Bukan begitu?

Bukanlah sebuah waktu jika tak pernah bergulir dengan cepat. Linimasa kita kini berbeda. Aku bahagia dengan hal-hal baru yang kujalani, meski terkadang rindu akan kecemburuan yang pernah kamu ciptakan terkadang singgah dalam pikiranku.

Cukup. Aku rindu, dan aku bodoh ketika memilih untuk mengagumi kamu, bukan memiliki kamu. Tapi terlalu telat rasanya ketika aku harus mengungkapkannya sekarang.

Your Secret Admirer

Posted in #30HariMenulisSuratCinta | Leave a comment

Kamu Tahu, Zenna?

Kamu mungkin pernah merasakan jatuh cinta, tidak kepadaku. Dan pasti rasanya hampir sama ketika aku jatuh cinta kepada kamu. Semua berawal manis dari kumpulan-kumpulan bait kata yang kau ukirkan dalam blog-mu. Semua sudah kubaca tanpa ada kata-kata yang terlewatkan. Kata-katamu indah, seindah senyumanmu ketika aku pertama melihatnya. Mungkin aku menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Disini, didalam hati.

Dan sejak itu aku mulai mengagumi kamu. Membaca ulang tulisanmu dan menujukannya itu untukku sendiri, membayangkanmu melantunkan puisi setiap malam sebagai penenang tidurku.

Kamu tahu Zenna? Aku tidak seperti mereka, aku diam. Aku tidak mengatakannya kepadamu, aku menyimpan sendiri setiap rasaku, aku bahkan menguburnya dalam tanpa pernah ingin kamu ketahui.

Selalu kuingat kata-katamu ketika tidak bisa berlaku genit seperti yang lainnya, maka diam saja juga lebih cool. Dan aku menurutinya meski terkadang cemburu jika banyak penikmat-penikmat kamu menyatakannya dengan mudah kepadamu. Pujianku kepadamu mungkin akan lebih indah daripada mereka. Tapi aku tidak beranjak dari diamku, karena aku yakin kamu pasti memperhatikanku.

Suratku pastilah tak seindah jika kamu yang menuliskannya. Tapi tak mungkin kamu mengirimiku surat cinta. Jadi biarlah aku yang mengirimu surat cinta meski dengan kata yang sederhana. Tetap berkarya ya Zenna Sabrina. Aku mencintai kamu dalam karya-karyamu.

 

Pengagum Kamu

 

Posted in #30HariMenulisSuratCinta | Leave a comment

Dibalik Hujan

Malam baru saja menggantikan senja. Dan hujan masih belum berhenti. Aku terduduk diam, sesekali bergerak hanya untuk merubah posisi dudukku. Jendela didalam kamarku masih diam menatap hujan diluar. Secangkir teh didepanku mulai dingin termakan angin. Aku belum menyentuhnya, hanya menatapnya, memainkan bayangan kamu diatas sana. Hingga akhirnya gelap malam melenyapkan semuanya.

Sudah seminggu hujan turun, seminggu pula aku selalu memimpikan kamu, tak pernah habis, seperti pertemuan kita malam itu, tak pernah bermulai tak tak berakhir dengan indah. Sekali memejam, senyumanmu merona terlempar kearahku, dua kali memejam matamu menatap penuh harap kepadaku, tiga kali memejam, bayanganmu hilang terhapus oleh hujan. Ahh. Apa hanya aku yang merasakan rindu yang teramat seperti ini?

Mataku masih menatap lekat kearah kamu, saling lempar semyuman ketika tatapan kita saling beradu. Lalu lalang beberapa orang sempat membuat pertemuan kita sedikit sulit. Aku tahu kamu tersenyum kepadaku, seperti aku pun juga begitu. Kamu tahu. Sejak pertemuan kali itu aku jadi sering tersenyum. Membentuk senyuman yang serupa dengan senyumanmu. Meski aku lupa bagaimana raut senyummu malam itu. Hujan membuat aku tak bisa melumat seluruh rupa wajahmu ketika itu.

Dadaku berdegup kencang, seiring angin malam yang mulai bertiup kencang. Aku masih menggenggam payungku dengan erat, mataku masih menatap kearah kamu yang belum beranjak dari halte bus diseberangku. Kamu menungguku, bukan? Kemarilah, sama sepertimu, aku menunggumu. Payungku bahkan terlalu besar untuk kumainkan sendiri. Sini, dan mari kita berjalan bersama, menggapit payung dan berjalankan dibawah hujan. Romantis bukan?

Mulutku mulai melantunkan hitungan, pada hitungan kesepuluh dan aku akan menyeberang. Aku tak sabar untuk terus menunggu. Siapa yang akan memulai jika kita saling menunggu. Baiklah, aku yang akan memulai. Hitungan kelima, aku masih menatap kamu tajam, memastikan senyumanmu masih berada disana.

Malam semakin menggulita, hujan tak lagi turun. Aku menyeruput segelas teh yang sudah dingin sejak tadi. Hitungan kesepuluh membuat aku melupakan semuanya. Dan ternyata pertemuan kita tak pernah dimulai setelah hitungan sepuluh. Kamu menghilang dalam gelapnya malam ketika itu.

Posted in Cerpen | Leave a comment