Cerpen

Aku paling malas jika berurusan dengan rindu. Melelahkan, menyebalkan. Datang seenak hati, mengacak-acak pikiran dan kemudian pergi tanpa ada rasa sopan santun. Sudah hampir tiga hari rindu menyudut dikepalaku. Renata. Aku bahkan belum sempat bertukar nomor dengannya. Malam itu terjadi begitu cepat.

Pekerjaanku belumlah selesai, bosku menyuruhku lembur hari ini, ada banyak laporan yang harus diselesaikan mendadak untuk meeting besok. Selalu saja begitu, menyuruh seenaknya. Dipikirannya mungkin hanya dia yang memiliki hidup. Hidupku tak lebih dari sekedar bersama tumpukkan kertas dikantor dan tumpukkan baju kotor dikosanku, begitu mungkin yang ada dipikirannya.

Setengah lampu ruangan sudah dimatikan, Resno sudah pamit daritadi setelah mengepel ruangan kantor. Tersisa aku dan setumpuk kerumitan dikepalaku. Jam delapan sebentar lagi berakhir dan setengahpun belumlah sampai. Tak tahu harus berapa menit lagi aku disini. Kopiku bahkan sudah dingin, kuhabiskan sekali teguk bak air putih.

****

“Ceritamu seru, bisakah kau lanjutkan? Mungkin malam ini akan menjadi hangat bersama cerita-ceritamu.” Ucapku serius

“Kamu lucu, kita bahkan belum sampai setengah jam berkenalan. Tapi kamu bisa saja menghidupkan suasana.”

“Bukan karenaku, ceritamu saja yang menarik.”

“Disini tak terlalu menarik untuk melanjutkan bercerita, mungkin kita perlu cari sebuah cafe.” Tatap Renata serius

“Kamu mau mengajakku ngedate? Hahahaha tak kusangka.” Balasku

“Rindu tak selalu berarti cinta kan? Dan berdua di cafe bukan berarti ngedate, bukan begitu Tuan Renaldi?”

“Aku hanya bercanda nona Renata, tak perlulah kau anggap serius ucapanku.” Ucapku sambil memberikan pukulan kecil dipundaknya.

****

“Ren, Ren, bangun.”

“Ahh bos, aku belum menyelesaikan mimpiku.”

“Sebentar lagi jam kerja, kamu tidak pulang? Bagaimana laporan untuk meeting nanti?”

“Meeting? Hahahahaha sudahlah, lupakan saja. Masih ada hari esok untuk meeting.”

****

“Sialan kamu !!! “

Ini sudah kelima kalinya kamu masuk tanpa ijinku, aku bahkan tak bisa menolakmu. Pertemuan singkatku dengan Renaldi sepertinya menyisakan rindu yang amat padat dipikiranku. Mengapa begitu bodohnya aku pergi begitu saja tanpa meninggalkan secarik kertas yang berisi nomorku, kalau begini kan aku jadi bingung sendiri harus mencarinya kemana.

Wanita memang selalu begitu, menunggu. Bahkan menunggu ketidakpastian. Sudah tiga hari aku datang ketempat yang sama, ketempat kita saling bertukar cerita malam itu. Berharap bertemu denganmu untuk yang kedua kalinya. Tapi kamu tak pernah datang, apa kamu lupa?

“Lepas saja cincin itu.”

Sebuah suara mengagetkanku. Ternyata Sofie memperhatikanku sejak tadi. Aku masih berusaha keras menahan agar wajahku tak memerah. Tak seperti yang kebanyakan orang ketahui, pertunangan tak seenak seperti yang terlihat. Iya, hidupku diatur oleh sebuah cincin. Pertunanganku dengan Robby mungkin berjalan dengan baik, tapi tidak hubunganku dengannya. Bukan berarti kami sering bertengkar, tapi justru kami semakin jarang bertemu, jarak memisahkan kita begitu jauh. Kepergiannya ke Australia sehabis pertunangan kami adalah awal dari semuanya. Aku dicintai oleh sebuah cincin, bukan kekasih.

“Apaan sih Sof.”

“Aku mengerti perasaanmu. Sudah tak apa, coba sesekali kamu tinggal cincin pertunanganmu dirumah, dan kamu nikmati hidupmu seperti gadis muda lainnya. Itu asik kok.”

“Ga semudah itu, Sof.”

“Aku lebih dulu merasakan hal itu daripada kamu. Percayalah.”

“Tapi…”

“Sudahlah, kamu pikirkan saja baik-baik.”

****

Hari kesembilan, aku belum menyentuh minumanku sejak sejam yang lalu, mataku masih berputar melahap seluruh ruangan, pikiranku masih berharap dia akan datang malam ini, meski ragu terus saja menggodaku.

“Satu jam lagi” Pikirku. Setelah ini aku akan berhenti berharap, dia tak mungkin datang.

*****

continued…..

Mimpi ?

“Terkadang aku berpikir. Tak mungkin selamanya kita bersama.”

“Ada saatnya aku harus sendirian”

“Atau mungkin kamu yang sendiri”

“Dan mungkin pada saat itu kita sudah melupakan satu sama lain”

“Tak saling ingat atau bahkan sekedar untuk kembali mengingat”

Aku hanya terdiam. Semilir angin pantai membuatku menggigil. Suara Rangga terdengar samar-samar. Namun menusuk hatiku. Dingin seolah ikut merasuk kedalam sum-sum tulangku. Badanku serasa kaku. Aku bahkan tak bisa membedakan tubuhku bergemetar menahan dingin atau menahan tangis dari kata-kata yang diucapkan semakin menyayat hati.

“Angela”

“Iya?” Aku menjawab seadanya. Berusaha menahan air mata yang setengah ingin muncrat dari persinggahannya.

“Kamu bahkan tidak peduli dengan ucapanku.”

“Terkadang kamu masih saja berkata-kata konyol seperti anak kecil.”

“Maksudmu?”

Aku menghela nafas panjang. Terdiam sesaat.

“Semua orang pasti kehilangan semuanya. Sudahlah, ini bukan Paris. Mengucapkan kata-kata sedih atau indah untuk kemudian mereka saling peluk seolah itu adalah yang terakhir. Realitanya kamu dan aku masih akan bersama. Lusa dan seterusnya masih bisa kita duduk berdua ditemani semilir angin.”

****

“Angela”

Aku mengucek-ngucek mataku. Hampir saja menetes dan merusak make up ku.

“Ohh maaf. Aku mengantuk.”

“Tidak apa. Semua sudah menunggu. Mari turun. Aku disuruh ayah untuk memanggilmu. Maaf tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.”

“Kamu kayak sama siapa aja deh.”

“Pssssst……nanti lipstikku luntur. Sehabis acara ini saja ya. Sayang”

****

“Jadi bagaimana, nak Chris?”

“Uhukkkk…..maaf om, saya terlalu menikmati. Masakan tante enak banget sampe lupa diri”

“Hahahahaha….tidak apa-apa. Lanjutkan dulu saja makannya. Sehabis ini kita baru berbicara santai.”

Tenang. Semua bermain dalam pikiran masing-masing. Hanya ada suara aduan piring dengan sendok dan garpu diruang makan ini. Namun tidak dikepalaku. Ahh suara Rangga semakin hari semakin bergema. Aku masih ingat jelas ucapannya. Semilir angin malam yang akhirnya jadi perpisahan kami. Ternyata ucapanku salah. Seharusnya aku memeluknya malam itu. Seperti mereka yang berada di Paris. Dan benar, aku hampir melupakannya. Setengah hidupnya yang dulu adalah segalanya begitu saja hilang. Aku…..

“Kamu melamun saja, Angela? Ada apa?”

“Ehh, iya. Maaf ma”

“Kamu kurang sehat sepertinya? Mungkin lebih baik kamu beristirahat dahulu. Tak apa kan, Chris.”

“Iya tante.”

“Kamu istirahat aja dulu”

“Tak apa, aku hanya kelelahan. Mari lanjutkan makan malam ini.”

Christian masih menatapku. Namun aku tidak menatap balik. Aku bersembunyi dibalik ayunan garpu dan sendokku. Aku takut terlihat seperti anak kecil yang sedang berbohong

Ahh tidak. Aku merasa aneh akhir-akhir ini. Semakin aku mulai melupakan Rangga, saat itu pula semuanya merasuki diriku. Kenangan. Sial, bahkan semuanya masih terputar dengan baik dikepalaku. Bagaimana dengan Rangga saat ini, samakah dia sepertiku?

“Aku sudah.”

Suasana dimeja makan seketika hening. Semua menatapku.

“Tak usah dipaksakan. Sepertinya kamu masih kenyang.” Ucap Christian

“Jadi bagaimana rencana pertunanganmu dengan Angela, Chris?” Ayah mulai kepada intinya malam ini. Sepertinya ingin cepat-cepat karena melihat kondisiku yang tak karuan. Ahh sial. Aku merusak malam ini. Malam yang telah kurencanakan dengan Chris sejak jauh hari. Semua diluar kondisiku.

“Seperti yang sudah kami rundingkan, om.”

“Pertengahan tahun ini…..”

“Angelaa !!!! Cepat bawa kekamarnya. Ma, telepon dokter sekarang juga.”

“Sepertinya dia kelelahan. Biarkan dia istirahat sejenak, om. Hanya pingsan biasa.”

****

Aku membuka kedua mataku. Suara percikan api di tungku perapian seolah membakar semua dikepalaku. Rasa sakit itu hilang. Entah sudah berapa lama aku terpejam.

“Angela, kamu sudah sadar.”

“Aku kenapa? Dimana Christian? Siapa Rangga?”

“Christian? Rangga? Kamu sepertinya bermimpi panjang sayang.”

“Ohh. Mungkin. Kepalaku masih sedikit sakit.”

“Tidurlah lagi sayang. Anak kita pasti senang jika kamu temani tidur. Kamu hanya pingsan biasa tadi.” Ucap Andre sambil mengelus perutku.