Sudut Pandangku

Aku masih menunggu senja. Sudah masuk musim penghujan, mungkin setiap harinya akan berakhir sama. Kecewa. Aku menyalakan sebatang rokok setelah memesan secangkir chamomile. Sore ini indah tanpa senja, meski sebenarnya aku lebih merindukan senja dibanding menikmati secangkir chamomile.

****

“Kamu egois, tak seharusnya kamu mempermainkan wanita seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Ahh sudahlah, kamu tak akan pernah mengerti, Dion. Sekali kamu senyum, mungkin akupun akan terpikat denganmu.”

“Jadi maksudmu aku mempermainkan kamu?”

“Bukan aku. Rei.”

“Jadi maksudmu aku mempermainkan Rei? Kamu percaya dengan yang orang-orang katakan? Kamu hanya mengumpulkan bukti dari mulut-mulut tak bertanggung jawab kan.”

“Terserah kamu, Dion.” Lita segera mengambil tasnya. Aku sudah tak berselera dengan mie ayamku yang mulai dingin. Dasar wanita. Hanya selalu bisa menyalahkan tanpa pernah mau mendengar terlebih dahulu.

****

Aku masih kesal dengan perdebatanku tadi siang. Bisa saja Lita menyalahkanku tanpa mendengar yang sebenarnya.

Aku bahkan menyadarinya, iya aku tahu dengan sikap Rei yang berubah terhadapku, aku tahu Rei yang diam-diam menyimpan fotoku dan dijadikan wallpaper hp nya. Dan aku tahu diam-diam dia menulis semua kegilaannya tentangku di blognya. Aku tahu semua. Gosip-gosip tak bertanggung jawab dikampus itu benar adanya. Hanya saja aku malas menanggapinya.

Tapi tahukah kamu, Rei. Aku bahkan lebih menggilaimu sebelum akhirnya kita berkenalan. Beberapa hari aku menghabiskan waktuku didunia maya untuk mencarimu, mengenal lebih jauh tentangmu, dan bahkan menikmati setiap foto-foto dengan senyumanmu bersama kekasihmu. Kamu tahu siapa yang kumimpikan setiap malam? Yang mengganggu setiap waktuku?

Bahkan jauh sebelum kamu menuliskan tentangku, dan mengagumi seluruh tentangku. Sudah banyak puisi tentangmu yang hanya bisa kunikmati sendiri setiap malam. Bahkan surat cinta yang sudah menumpuk dibalik baju-baju dalam lemariku, mereka tak pernah sampai. Dan tentang cerita-ceritamu kepada mereka yang menganggap aku dingin. Siapa yang selalu memandangmu dari kejauhan, tak peduli meski ketika itu kamu sedang bersama kekasihmu. Bagiku adalah cukup ketika aku bisa mengagumi kamu.

****

“Aku mencintaimu, Rei.” Ucap lelaki itu kepadanya. Aku masih menikmati secangkir chamomile sambil mendengarkan sedikit obrolan mereka dibelakangku.

Nayla

“Tunggu disini sebentar.” Ucap lelaki yang baru kukenal semalam di bar.

Hujan masih lebat. Lelaki itu menutupi kepalanya dengan mantel dan berlari menuju rumah. Seketika aku mulai gelisah. Pikiranku mulai tak karuan, namun terlalu jauh jika harus melarikan diri. Ini hutan, dan beberapa jam harus kulewati untuk tiba ditempat ini.

Lelaki itu keluar dari rumah, dan berlari mendekat. Aku masih mencoba menahan debar jantungku.

“Tidak ada orang, sepertinya pembantuku melarikan diri. Mari beristirahat dipersinggahanku, Nayla.”

****

Sudah dua hari Robert ke belum pulang dari kota. Tinggal ditengah hutan, dan pergi kekota dua hari sekali untuk mendapatkan makanan bukanlah hal yang mudah. Apalagi ini rumah satu-satunya yang berdiri disini. Mungkin selain berburu, menjadi vegetarian adalah jalan untuk tetap hidup jika malas untuk kekota yang menghabiskan waktu setengah hari.

Hujan semakin deras. Nayla menyalakan api unggun untuk sekedar menghangatkan diri. Beberapa kali dia mencoba menelpon kekasihnya dan percuma, tak ada jaringan. Ditengah hutan seperti ini, untuk penerangan saja harus menggunakan pertromak. Apalagi berharap lebih untuk elektronik lainnya.

Kayu bakar untuk menyalakan api unggun sudah hampir habis. Dan udara dingin mulai menembus seluruh tubuhnya. Hari sudah semakin gelap, Nayla mulai panik, lampu petromak tidak mau menyala sama sekali. Dia hanya bisa berharap Robert pulang malam ini.

dukk…..dukkk….dukk….

Terdengar suara pintu beradu dengan benda tumpul, Nayla mulai panik. Ruangan sudah gelap gulita sejak tadi.

dukk…..dukkk…..dukk….brakkkk

“Mas Robert.” Teriak Nayla

“Kemana saja kamu wanita jalang? Tidak mendengar aku mengetuk pintu?”

“Gelap mas, aku takut untuk melangkah.”

“Ahh dasar kau tidak berguna.”

Doorr…..

Tubuh Nayla jatuh tepat dikaki Robert. Dengan cepat lelaki itu menggeretnya keruang bawah tanah. Bau anyir darah tercium menusuk saat dia membuka pintu yang tertutup oleh karpet tebal. Tubuh Nayla dilempar begitu saja bagaikan binatang dan cepat-cepat lelaki itu membersihkan darah yang tercecer.

****

Dari balik mobil, seorang wanita menunggu dengan panik lelaki yang baru dikenalnya semalam

“Mari beristirahat dipersinggahanku, Nayla.”

Cerpen

Sejak kecil, ibu selalu mengajarkanku untuk bersyukur. Apapun itu. Memang sejak kecil hidup kami selalu berkecukupan, bahkan berlebih. Aku memiliki semua yang kuinginkan, ibu selalu memanjakanku. Mungkin karena aku anak tunggal.

Bukan hanya dari materi. Aku juga menjadi satu-satunya siswa teladan disekolah, siswa percontohan yang selalu dibangga-banggakan oleh guru setiap hari, terkadang aku merasa risih sebenarnya. Karna dibalik itu pasti ada banyak anak-anak yang cemburu ingin merasakan pula berada diposisiku. Semua itu tak membuatku menjadi sombong. Ibu selalu mengingatkanku untuk tetap rendah hati.

Untuk pasangan, tak sulit bagiku menemukannya. Teman wanitaku banyak. Mereka yang mendekatiku tanpa perlu aku memulainya. Bahkan banyak yang bermanja-manja denganku, menggamit tanganku, bersandar dipundakku, atau bahkan merangkul pundakku. Meskipun sebenarnya ingin merasakan punya kekasih seperti yang dilakukan teman-teman seusiaku, tapi ibu selalu mengingatkan agar aku lebih mementingkan sekolah. Pasangan akan mengikuti seiring kesuksesan.

****

Lambat laun aku mulai merasakan cinta. Usiaku semakin dewasa dan mungkin beberapa nasihat ibu akan kupilah-pilah.

“Rasanya aku mulai nyaman ketika dekat denganmu, Ros.”

“Hahahahaha. Kamu bicara apa sih, bukannya kita biasa selalu bersama.”

“Ini beda. Kamu mungkin tidak mengerti.”

“Maksudmu?”

“Seandainya saja kamu bisa melihatku. Ahh tidak, melihat hatiku maksudku.”

Sejak itu prestasiku menurun. Aku tahu kekuranganku. Tidak seperti yang orang lain bayangkan, hidupku tidak semenarik mereka, tidak sesempurna mereka. Semua yang kudapatkan semu. Aku tidak tahu bagaimana indahnya mentari pagi dan senja dikotaku. Aku cacat sejak lahir. Aku bisa mengenali semua tanpa pernah bisa menatap mereka.

****

“Kamu yakin ingin dapat melihat?”

“Yakin, apapun akan kulakukan.”

“Semua tidak semudah yang kamu inginkan, ada hal yang harus kamu bayar.”

“Berapapun. Aku bayar.”

“Bukan itu maksud…”

“Apapun akan kulakukan.”

****

Ternyata dunia lebih indah dari yang kubayangkan. Aku dapat menikmati indahnya matahari pagi dan romantisnya senja. Menghabiskan waktu dengan menonton siaran televisi dan bermain video game sesuka hatiku.

“Eros.”

“Iya, ibu?” Ucapku sambil menikmati acara televisi

“Tolong ibu, nak. Pergi kepasar dan belikan bumbu dapur.”

“Sebentar ya, bu. Aku ganti baju dahulu.”

****

“Nak, kamu sudah sadar.”

Eros membuka matanya. Kepalanya masih sakit. Matanya berkunang-kunang. Menahan sakit dari sekujur tubuhnya.

“TIDAAAAAAAKKKKK !!!!!! “

“Apa yang terjadi dengan kakiku !! “

****

Jakarta Pertamaku

Langit mulai temaram. Lampu-lampu jalan mulai berdatangan dan bekerja semestinya. Aku masih berdiri di pinggir peron. Kereta yang ku tumpangi baru saja berangkat kekota berikutnya. Sejenak aku menarik nafas. Kuperhatikan sekelilingku, terlalu lusuh disini. Mataku masih mencari seseorang yang seharusnya kukenal disini, Rudi. Teman lamaku yang beberapa bulan lalu mengunjungiku dikampung. Dia mengajakku untuk kekota mengikuyi jejaknya. Awalnya aku ragu. Tapi melihat kondisi keluarga yang semakin parah, aku meminta restu istri dan anakku. Tak tega meninggalkan mereka, jadi ada baiknya aku saja dahulu dan akan pulang kemudian membawa cerita indah. Itu pikirku.

Setengah jam berlalu, masih belum nampak paras temanku itu. Dia berjanji menjemputku di depan peron 1. Dan akan mengajakku untuk tinggal dirumahnya selama beberapa hari sampai aku mendapatkan pekerjaan.

Langit mulai menggelap. Stasiun mulai sepi. Beberapa lampu mulai dipadamkan. Wajah-wajah lelah perlahan menghilang dari pandanganku. Tersisa beberapa pedagang yang masih menanti kereta terakhir tiba untuk mereka menjajakan dagangan demi selembar uang kecil sambil menghitung lembaran uang kecil yang hanya beberapa. Menghitung ulang seakan tak percaya dengan yang mereka dapatkan.

Aku menyalakan sebatang rokok yang masih kusimpan sejak kemarin. Belum kuhisap, untuk bekalku nanti dikota. Pikirku.

Sudahlah, aku lelah menunggu. Sebentar lagi mungkin stasiun akan tutup. Aku memutuskan besok kembali lagi kesini. Jakarta tak seindah yang digambarkan Rudi. Jalanan begitu sesak. Beberapa kali aku diteriaki pengendara motor, padahal aku berjalan ditrotoar. Banyak pula pedagang yang menyesakkan jalan, anak-anak kecil yang tidur sembarangan, para pencopet yang lari dari teriakkan-teriakkan ikut mendramatisir malam ini.

****

Pukul sepuluh malam lewat lima puluh tiga. Aku melihat jam tanganku yang kulitnya sudah tak karuan. Keringat dibadanku rasanya sudah beberapa kali mengucur dan mengering. Aku beristirahat sejenak dibangku sebuah halte. Memperhatikan seorang anak kecil yang kutaksir usianya sebaya dengan anakku membawa sekarung besar berisi botol-botol bekas air mineral. Menghampiriku dan meminta uang untuk membeli makan, begitu katanya. Dan pergi setelah kuberikan beberapa keping sisa uang terakhirku.

Kupejamkan mataku, dan kemudian beranjak dari halte. Berjalan santai mennelusuri trotoar. Mengambil botol bekas air mineral dan kumulai pekerjaan pertamaku di Jakarta.

Terima kasih, Rudi.

Percakapan Dimeja Makan

Ini malam pertama lagi aku bersama-sama dengan ayah menikmati makan malam sejak pertengkaran ayah dan ibu minggu lalu. Ayah jarang pulang, ibu pulang ketika ayah tidak dirumah dan pergi kerumah mertuanya yang hanya berjarak beberapa blok ketika ayah sudah pulang kerumah. Aku bahkan tak tahu apa yang mereka perdebatkan. Ketika aku pulang dari sekolahku siang itu, piring-piring berserakan dilantai, ibu pergi dengan menangis ketika aku memasuki kamar mereka berdua. Akupun tidak berani menatap ayah dan langsung menuju kamarku. Sejak itu suasana dirumah tak membuatku tertarik untuk sejenak menonton film kartun seperti yang biasa kulakukan setiap sore. Atau beristirahat melepas penat seusai mengerjakan pekerjaan rumah. Aku lebih banyak berdiam diri dikamar dan menatap kosong laptop yang biasanya selalu menemaniku mengerjakan tugas sekolah. Prestasiku menurun sejak itu, PR-ku terbengkalai.

“Makanlah yang banyak, sehabis ini ayah akan pergi, mungkin akan kembali besok.” Aku masih asik menyantap makanan yang terhidang dimeja makan, tak biasanya ayah memasak sebanyak ini. Aku menatap ayahku yang sedaritadi tak berpaling dari layar handphonenya. Sedikitpun tidak menyentuh makanan yang terhidang. Mungkin ayah belum lapar. Pikirku.

“Yah.” Ucapku memecah keheningan sesaat

“Iya nak?”

“Ibu kemana? Sudah dua hari ibu tidak pulang, yah.”

Perhatian ayah kini tertuju kepadaku, ditaruhnya handphone dan tersenyum kepadaku.

“Sudah habis kau makan.”